Anak Bangsa Ukir Sejarah di Dunia Medis

0
407

BANDUNG, KP – Anak bangsa Indonesia kembali mengukir sejarah didunia medis, kali ini gabungan antara dua kampus negeri dibandung yang terdiri dari lima orang berstatus dosen dan dokter. Tim yang terdiri lima orang itu, tiga merupakan dosen dari Prodi Kimia, Institut Teknologi Bandung (ITB) yaitu Dessy Natalia, Ihsanawati dan Fernita Puspasari.

Dua orang lagi satu merupakan peneliti di center For Disease Control and Prevention (CDC), Atlanta, Amerika Serikat bernama Sukwan Handali, serta seorang lagi yakni Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Rs.Hasan Sadikin, Bandung dan mengajar di Fakultas Kedokteran Unpad yaitu Bachti Alisjahbana.

Alat tersebut masih dalam proses pengerjaan, sehingga jika sudah selesai proses pengerjaan dapat menjadi alat pemeriksa penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) secara cepat untuk pasien.

Untuk nama dari alat tersebut diberinama uji Dengue, sebab alat itu akan menjadi pengganti dari alat serupa yang dipakai dalam memeriksa pasien. Sebab alat yang dipakai sekarang masih diiimpor dari luar negeri. Untuk harga alat itu sendiri diperkirakan bernilai Rp.20 hingga 30 ribu per buah.

Bachti Alisjahbana menuturkan, alat itu nanti akan dapat memastikan jenis stereotipe umum dengue penyebab demam berdarah. karena jika nanti pasien datang berobat yang memiliki gejala demam, alat Uji Dengue itu akan digunakan memastikan sakit yang diderita demam biasa atau demam berdarah.

“Alat itu akan bekerja selama 15 menit dan hasil langsung diketahui oleh pasien, selain itu penggunaan alat hanya dokter yang boleh melakukan pengecekan kepada pasien,” ujarnya.

Ia memaparkan, untuk sistem kerja alat uji DBD itu hanya sebgai alat uji cepat. Sedangkan proses lebih lanjut, pasien agar langsung melakukan pemeriksaan di lab. “Memastikan gejala DBD, seperti pemeriksaan trombosit dan hemoglobin,” ungkapnya.

Akan digunakan sampel darah, karena alat itu berisikan selembar membran dilapisi anti-dengue NS1 antigen capture pada garis tes. Anti-dengue NS1 antigen-colloid gold conjugate dan serum sampel akan bergerak sepanjang membran menuju daerah garis tes (T) dan membentuk garis dilihat sebagai bentuk kompleks antibody-antigen-antibody gold particle.

Alat tersebut mempunyai dua garis yaitu garis tes (T) dan garis kontrol (C), bakal muncul jika prosedur tes secara benar dan bahan reagen dalam kondisi baik. Tetapi jika bentuk segaris pada area garis kontrol (C), pasien akan disebutkan negatif DBD. Tanda pasien positif DBD jika terbentuk dua garis pada posisi area garis T dan C. “Jika terdapat antibodi virus DBD, akan muncul garis horizontal berwarna merah kebiruan, tetai kalau invalid perlu tes ulang dan akan terbentuk area garis C”, ungkap Dessy Natalia.

Dikatakan, Dessy Natalia, saat ini masih dilakukan proses tahap persiapan bahan dan akan dilakukan pengujian sampel terhadap pasien. Sehingga ditargetkan dapat menghasilkan ratusan ribu alat per tahun dengan bermitra dengan produsen obat di Bandung. (*)

 

Sumber : Tempo.co

Editor: Renanda Putra

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY