Ilmu Sastra Masih Minim Dikalangan Pelajar

0
257

 

BUKITTINGGI, KP – Pengetahuan siswa terhadap ilmu sastra terutama puisi sangat minim. Padahal, sastra sarana untuk membangun karakter siswa. Karakter yang dimaksud berisikan keseimbangan logika, etika dan estetika.

Hal itu dikatakan Penyair dan Pembaca Puisi Terbaik Tingkat Nasional, Andria Catri Tamsin saat menghadiri parade puisi perjuangan, baru-baru ini di Bukittinggi. Dijelaskannya, keseimbangan tiga hal itu akan melahirkan generasi yang tangguh, dan berpengetahuan tentang norma-norma hukum, adat, agama serta nilai-nilai sosial lainnya.

“Namun saat ini, tiga nilai estetika tersebut kurang di dalami dunia pendidikan. Kalau nilai etika dapat dilihat para orangtua rela melakukan apa saja untuk anak mereka seperti les atau belajar di MDA. Namun kalau untuk memfasilitasi anak dalam mendapatkan nilai estetika, tidak banyak orang tua yang mendukung misalnya saja anak minta dibelikan gitar, buku cerita, atau nonton film. Sebab, hal ini masih dianggap belum menjadi kebutuhan dasar. Padahal ini yang lebih penting yang akan melahirkan suatu keindahan, kepantasan, dan bagaimana melahirkan suatu yang estetis dari anak,” ujarnya.

Ditempat yang sama Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) SMP Kota Bukittinggi, Yusnita mengakui, pemahaman siswa terhadap sastra hingga kini masih kurang.

Menurut Yusnita, penyebabnya dari banyak hal seperti, kurangnya buku-buku sastra yang tersedia di sekolah, terbatasnya kompetensi guru bahasa Indonesia dalam bidang sastra, kurangnya  dukungan dan motivasi dari orangtua sendiri.

Pembelajaran sastra di sekolah, jelas Yusnita yang juga guru SMPN 2 Bukittinggi itu baru mengajarkan tentang teori, dan pengetahuan tentang sastra, bukan bagaimana mencipta serta menikmati karya sastra.

“Yang diajarkan guru kepada siswa baru pengetahuan dasar sastra. Jadi, wajar jika ada tuduhan pembelajaran sastra di sekolah masih sangat rendah,” jelasnya.

Untuk mengatasi masalah ini, tambah Yusnita sudah saatnya, para sastrawan turun ke sekolah berdialog dengan siswa, dan guru serta berbincang soal sastra. “Masalah pembelajaran sastra di sekolah akan tetap menjadi pergunjingan bila tidak diatasi dengan aksi nyata sastrawan datang ke sekolah untuk mengurai persoalan pembelajaran sastra tersebut,” pungkasnya.(*)

 

Penulis: Almujafri Surau

Editor: Renanda Putra

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY