Keterbatasan Dana Jalan Sumbar Belum Sepenuh Beton

0
147

PADANG, KP – Berapa ruas jalan yang ada di Sumatra Barat belum sepenuhnya mengunakan beton, bahkan jalan nasional juga masuk, karena keterbatasan dana sehingga tidak dapat melakukan proses beton, hal tersebut dikatakan Kepala Bidang Pelaksanaan Jalan dan Jembatan Tata Ruang dan Permukiman (Prasjal Tarkim) Provinsi Sumatra Barat, Indra Jaya ketika dihubungi awak media, Senin (22/8).

Ia menambahkan, jika kita memilih jalan mengunakan aspal atau beton, lebih bagus mengunakan beton, tetapi untuk menggunakan beton di beberapa ruas jalan di Sumbar dana sangat besar, sehingga akan kesulitan untuk diwujudkan.

“Jika usahakan lewat APBD tidak mungkin, tetapi jika melalui dana bersumber dari APBN, mungkin saja. Namun mengusahakan dana ke pusat sangat sulit, sebab harus melalui proses yang tidak mudah,” terangnya.

Indra menuturkan, untuk jalan negara mauun provinsi di Sumbar baru kelas II, sedangkan kab/kota kelas III. Dengan jalan yang masih belum seluruh beton, sehingga Pemprov Sumbar membatasi muatan barang (tonase) yang merupakan pilihan berat untuk dilakukan.

Sambungnya, tetapi jika jalan Sumbar menggunakan beton, tidak perlu pembatasan tonase dilakukan, dikarenakan beton dapat menahan berat angkutan barang maksimal hingga 18 ton dengan Muatan Sumbu Terberat (MST) 10 dan bakal tahan lama dibandingkan dengan jalan aspal.

Akan tetapi, saat ini kelas jalan II untuk negara dan provinsi maksimal muatan barang 10 ton, serta kelas III maksimal 8 ton. Sedangkan truk pengangkut yang melewati jalan Sumbar bermuatan banyak, dengan kondisi jalan masih aspal mengakibatkan kondisi jalan akan cepat mengalami kerusakan, seperti beberap ruas jalan dibeberapa daerah di Sumbar.

Lebih lanjut, untuk MST 10 sudah ada di beberapa ruas jalan Sumbar yakni jalan nasional Dharmasraya-Muaro Bungo Provinsi Jambi dan pengerjaannya tengah berlangsung, serta di Bypass menuju Teluk Bayur, dapat dilihat betapa besar truk yang melintasi jalan di sana, dengan muatan barang cukup banyak.

“Untuk menerapkan perlu jalan tersebut beton atau tidak diperlukan kajian yang dapat dilihat dari berbagai kondisi, terutama kindisi tanah. Sebab, jika tanah tersebut tekstur lunak atau rawa-rawa, sangat perlu untuk dibangun beton, tetapi jika masih tetap dibangun aspal, maka belum setahun aspal tersebut akan ngambang, ” tuturnya.

Tambahnya, Dinas Prasjaltarkim belum melakukan pemetaan wilayah mana yang tekstur tanah lunak atau rawa. Seperti, kerusakan jalan arah Pessel menuju Bengkulu sepertinya perlu di beton, karena struktur tanah lunak dan rawa. Tetapi, pengerjaan jalan itu tugas Satuan Kerja Jalan Nasional.

“Saat ini Prasjaltarkim Sumbar sudah merancang sejumlah pembangunan jalan di Sumbar, tetapi terkendala dana. Pembangunan jalan yang direncanakan itu, seperti jalan di Alahan Panjang – Pasar Baru dengan panjang jalan 11 Km anggaran yang dibutuhkan sekitar Rp 150 miliar. Jalan Nipah – Teluk Bayur dengan panjang jalan 60 Km untuk anggaran yang dibutuhkan sekitar Rp400 miliar. Serta Padang Aro – Dharmasraya  membutuhkan dana sekitar Rp400 miliar  dan Air Bangis – Teluk Bayur dengan panjang  40 Km membutuhkan anggaran sekitar Rp300 miliar,” tukasnya. (*)

Penulis: Bobby Febrianda

 

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY