Pemkab Limapuluh Kota Upayakan Ikan ‘Gurami Sago’ Dapat Hak Paten  

0
369

LIMAPULUH KOTA,KP – Wakil Bupati Limapuluh Kota, Ferizal Ridwan, terus membangun gerakan ‘inovasi terkendali’ guna mengatrol pendapatan dan ekonomi masyarakat.

Kali ini, orang nomor dua di kabupaten itu berencana membuat gerakan bersamapengembangan budidaya perikanan air tawar, yakni ikan gurami merah.

Ikan gurami merupakan salah satu produksi protein yang cukup banyak dikelola masyarakat Limapuluh Kota, seperti di Nagari Mungo dan Andaleh, Kecamatan Luhak.

Ke depan, Wabup ingin menuntut hak patenterkait kawasan pemeliharaan ikan gurami merah di kawasan kaki Gunuang Sago.

“Kita fokus mendorong masyarakat dan kelompok tanimelakukan gerakan bersama budidaya ikan gurami. Saya inginGurami Sago memiliki hakpatensecara nasional,” kata Ferizalketika menjadi narasumber dialog interaktif RRI Pro-1 FM Bukittinggi, di Nagari Mungo, Selasa lalu (30/8).

Dialog interaktif yang dipandu reporter sekaligus penyiar RRI, Elmar, itu emngangkat tema ‘Program Terkini Kabupaten/Kota untuk Sumatera Barat Membangun’.

Dalam kesempatan itu, Wabup Ferizal melakukan sosialisasi berbagai potensi alam untuk pengembangan budidaya perikanan di Limapuluh Kota.

Selain didukung suburnya alam, perikanan di Limapuluh Kota juga didukung kawasan perairan. Selama ini, untuk skala kecamatansejumlah kelompok tani di Nagari Mungo sudah melakukan budidaya ikan gurami merah dalam skala besar dengan menggunakan kolam air tawar.

Selain Luak, di Limapuluh Kotaada 6 kecamatan lainnya yang terus melakukan budidaya ikan. Namun, untuk ikan jenis gurami merah hanya dipelihara dan hidup di sekitar kawasan kaki Gunung Sago.

Sementara, Kepala Dinas Perikanan, Refilza, yang menjadi sebagai narasumber dalam dialog interaktif itu mengatakan produksi dan pemasaran ikan gurami merah asal Luak cukup tinggikarena diminati masyarakat.

“Tak hanya di dalam daerah tetapi juga ke luar daerah hingga luar negeri. Sebab, daging ikan gurami merah sangat enak dan gurih. Banyak rumah makan mewah yang menyajikan kuliner masakan khusus ikan gurami. Pada prosesi kegiatan adat, ikan gurami juga tak pernah ketinggalan jadi menu,” sebut Refilza.

Namun dia mengakui masih ada berbagai kendala yang dihadapi para peternak dan kelompok pembudidaya ikan, seperti pengairan. Namun, persoalan yang mendasar adalah belum diterapkannya sistem teknologi terbaru sehingga mempengaruhi jumlah produksi.

“Syukurnya, ikan gurami mampu hidup di berbagai kondisi cuaca dan perairan,” ulasnya.

Dia menambahkan, sejak tahun 1998, permintaan ikan gurami terus meningkat karena banyak diminati masyarakat luar negeri, seperti Malaysia dan Singapura. Kelompok pembudidaya ikan gurami di Kecamatan Luak, ‘Ingin Maju’, bahkan sempat kewalahan memenuhi permintaan pasar. (Ridho)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY