Febian Penderita Tumor Ganas Harapkan Bantuan Dermawan

0
556
Febrian (15) penderita tumor ganas di wajah.

BATUSANGKAR, KP – Febrian (15) tampak asyik menonton televisi di ruang tengah rumahnya yang sederhana, di Jorong Sarusao Barat, Nagari Saruaso ,Tanjung Emas, Kabupaten Tanahdatar. TIba-tiba, dia mengeluh. “Perih dan panas,Mak,” ucapnya kepada ibunya, Lendrawati, yang berada di sisinya.

Len hanya bisa menatap haru putra ketiganya dari empat bersaudara itu dengan tatapan pasrah dan kosong. Air mata Len sesekali jatuh melihat derita anak laki-lakinyaitu.

“Iyan termasuk anak yang kuat, saya bangga,” ujar Len dengan suara parau dan mata berkaca-kaca.

Kondisi Iyan memang sangat memprihatinkan. Dia menderita tumor ganas di wajah. Tumor itu sudah diderita Iyan sejak dua tahun lalu,sejak tahun 2014 silam.Bahkan, tumor ganas di wajah Iyan kini sudah seperti bola, sebesar satu kepalan tangan orang dewasa.

Tumor menutupi mata kanan hingga pipi atau sebagian wajah kanan Iyan. Tumor di pipi kanan Iyanitu tampak agak memerah.

Karena itulah, dia hanya bisa berbaring dan sudah tak sekolah lagi sejak beberapa bulan lalu.

“Awalnya ada benjolan di dalam hidung dan sering mimisan. Saat dicek ke rumahsakit di Bukittinggi, ternyata mengidap tumor,” kata Zulbahri yang bekerja sebagai sopirdengan penghasilan pas-pasan.

Menurutnya, saat mengetahui anaknya mengidap tumor, dia snagat khawatir dan mengobat anaknya. Berbagai cara dilakukannya demi mengumpulkan uang untuk operasi Iyan. Hingga akhirnya Iyan menjalani operasi tumor pertamanya di RS Cipto Mangunkusumo, tahun 2014.

“Waktu itu biaya operasinya ditanggungBPJS. Namun setelah menjalani operasi, sejak akhir 2015 lalu, tumor itu masih tetap ada. Bahkan sampai sekarang tumor di wajahnya semakin membesar dan menutupi matanya. Penglihatannya juga terganggu,” katanya.

Saat mengetahui tumor masih ada pasca-operasi, dia berangkat kembali ke Jakarta. Rupanya, daftar tunggu terlampau panjang.Sehingga dia tak mampu membiayai kehidupan selama di Jakarta.

“Selama 8 bulan kami menunggu dan menurut dokter disana apabila dioperasi beresikokebutaan bagi mata Iyan. Mendengar itu Iyan belum siap sehingga kami memutuskan pulang.Disamping uang tidak ada lagi untuk membiayai hidup disana. Sekarang Iyan sudah siap untuk menghadapi resiko dari operasi itu,namun kami tidak ada biaya lagi,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Zulbahri berharap ada bantuan dari sejumlah pihak agar anaknya bisa mendapat pengobatan lanjutan lagi.

“Sejak beberapa bulan lalu, anak saya sudah tidak sekolah lagi. Karena perih makin terasa di di wajahnya yang terkena tumor itu,” ungkap Zulbahri.

Lendra, ibu Iyan, sangat berharap anaknya itu mendapat pengobatan dan sembuh.

“Saya mau anak saya bisa sembuh dan menjalani kehidupan secara normal lagi. Kemauan Iyan untuk sekolah sangat besar. Dia sangat senang sekolah. Seharusnya saat iniIyan sudahduduk bangku kelas 1 SMA, tapi kondisinya kini tak memungkinkan,” pungkas Lendrawati yang berharap ada dermawan yang tersentuh hatinya untuk membantu pengobatan anaknya itu. (Nasrul Chaniago)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY