Bermodalkan Semangat, Anak Nagari Nanggalo Gagas ITRBF 2016

0
411
Para tokoh masyarakat bersama pemuda dan didukung oleh Camat serta Walinagari, anak Nagari Nanggalo menggagas perhelatan budaya bertajuk International Tarusan River Bamboo Festival (ITRBF) 2016. (Foto Humas)

PAINAN, KP – Dibukanya Kawasan Wisata Bahari Terpadu (KWBT) Mandeh, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) memunculkan gairah luar biasa dari masyarakat Nagari Nanggalo untuk berpartisipasi dalam pengembangan pariwisata.

Dimotori para tokoh masyarakat bersama pemuda dan didukung oleh Camat serta Walinagari, anak Nagari Nanggalo menggagas perhelatan budaya bertajuk International Tarusan River Bamboo Festival (ITRBF) 2016.

Melalui tokoh bundo kanduang Nanggalo selaku kurator sekaligus konseptor, Nerosti Adnan,  gagasan mengadakan festival yang mengambil tema sungai dan bambu ini dimatangkan bersama segenap elemen masyarakat. Sampai akhirnya, ditetapkan tanggal pelaksanaannya, yaitu 26 sampai dengan 27 November 2016 mendatang. Peserta yag akan hadir, selain lokal juga dari negara jiran Malaysia dan Singapura.

Menurut Nerosti yang biasa disapa Andah Neng ini, ikon bambu diambil sebagai bagian dari  upaya pelestarian alam, khususnya pencegah abrasi Batang Tarusan. Lalu, pada momen ini akan ditanam seribu pohon bambu di pinggir sungai sekitar Nagari Nanggalo.

Selain pencegah abrasi tebing sungai yang saat ini semakin melebar, dan bahkan sudah merusak rumah rakyat, ke depannya bambu dapat dimanfaatkan untuk kerajinan tangan dan berbagai kegunaan lainnya. Sedangkan rebung (tunas bambu yang muda) dapat diolah untuk kuliner.

“Kita pilih ikon bambu sebagai bagian dari upaya pelestarian alam. Pohon bambu akan ditanam sebanyak mungkin di sepanjang pinggir sungai Nagari Nanggalo. Sedangkan, pada acara pembukaan festival nanti akan dilakukan penanaman secara simbolis oleh pejabat yang hadir,” ujar Andah yang saat ini masih aktif mengajar di Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang (UNP) itu.

Lebih lanjut Andah mengatakan, rangkaian kegiatan ITRBF 2016 disemarakkan dengan lomba-lomba permainan tradisional, kontes baju kuruang basiba, pacu rakik, pagelaran prosesi adat dan lomba lagu Minang.  Bahkan akan ada pagelaran spesial di atas pentas terapung yang terbuat dari bambu serta tarian kolosal di tepi sungai.

“Rangkain Festival Bambu Batang Tarusan disemarakkan dengan aneka lomba anak nagari dan penampilan spesial dari mahasiswa UNP dan UPSI Malaysia serta mahasiswa dari Singapura,” sebut Andah.

Wanita energik  dengan bersemangat itu menambahkan, festival ini akan dijadikan kalender tahunan. Meskipun tidak ada pendanaan dari Pemerintah Daerah. Namun ia yakin iven ini bisa dilaksanakan dengan swadaya masyarakat dan partisipasi beberapa pihak.

Ia juga menegaskan, ITRBF bukanlah tandingan dari Festival Mandeh yang telah  diagendakan Pemerintah Provinsi dan Pemkab Pessel. Justru festival ini sebagai pemanasan menjelang digelarnya Festival Mandeh di akhir tahun ini, sekaligus menjadi bukti antusiasme masyarakat Nagari Nanggalo dalam memajukan pariwisata.

“Festival bambu ini bukan tandingan Festival Mandeh, melainkan sebagai bukti tingginya partisipasi masyarakat Nanggalo untuk menggeliatkan pariwisata,” tegasnya.

Sementara Wali Nagari Nanggalo Suryadi Chan tidak kalah serius mengangkat kegiatan ini. Melalui koordinasi yang dibangun bersama Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika), pihaknya terus memberi support terhadap pemuda yang bekerja gigih mempersiapkan sarana serta mencari sumber pendanaan. Hebatnya,  masyarakat Nanggalo rela “badoncek” untuk kegiatan ini. Pemuda mengumpulkan sumbangan dari rumah ke rumah.

“Besar kecil sumbangan yang diberikan warga bukan ukuran,  tetapi partisipasi warga membuktikan tingginya kepedulian dan antusiasme warga,” kata Walinagari.

Sementara itu, Husni Mersanti selaku Ketua Pelaksana ITRBF mengungkapkan, festival ini dirancang seapik mungkin agar memberikan suguhan berkesan dan menjadi kenangan bagi yang hadir.

“Meskipun ini perdana dengan mengandalkan pendanaan dari partisipasi segenap warga, kita tidak ingin asal-asalan. Kita ingin memberikan yang terbaik dan berkesan agar orang selalu terkenang dengan Nanggalo Tarusan,” kata wanita yang biasa dipanggil Meri alias Ame.

Ame menyebut,  dukungan tokoh masyarakat dan anak Nagari Nanggalo maupun yang ada di perantauan adalah motivasi yang kuat untuk menyukseskan acara ini. Karena acara sebesar ini bukan sekedar kepentingan pribadi dan sesaat saja.

“Kita melalui acara ini memberikan dampak multiplyer effect,  yaitu meningkatnya kesadaran masyarakat untuk keseimbangan alam, tapi juga melestarikan budaya dan kearifan lokal. Pada gilirannya nanti Nanggalo dikenal sebagai salah satu destinasi yang menjadi penyangga utama KWBT Mandeh. (nda/*)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY