Dua Terdakwa Korupsi Divonis Bebas

0
154
Ilustrasi

PADANG, KP – Dua orang terdakwa yang diduga melakukan tindak pidana korupsi (tipikor) terhadap proyek rehabilitasi bendungan tanggul cek dam dinding penahan dan bronjong Batang Lunto di Kota Sawahlunto, tahun 2012 lalu, divonis bebas oleh majelis hakim Pengadilan tipikor Padang, dalam persidangan yang digelar Rabu malam (2/11), sekira pukul 21.00 WIB.

Dua terdakwa yang divonis bebas itu adalah Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dalam proyek tersebut, Bipsan Dwinanda Ruslan, dan Direktur III PT Delima Agung Utama, Yayan Suryana, selaku rekanan. Dalam vonis tersebut, majelis hakim berpendapat kedua terdakwa tidak terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi.

“Terdakwa dinyatakan tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah sebagaimana dakwaan jaksa berdasarkan keterangan saksi dan fakta persidangan,” kata hakim ketua sidang, Yose Ana Rosalinda.

Tidak hanya itu, majelis hakim berpendapat kedua terdakwa tidak terbukti melanggar Dakwaan Primer Pasal 2 Undang-undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi dan subsider Pasal 3.

Terhadap vonis bebas tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Faisal Basni Cs langsung menyatakan kasasi. Sebelumnya, JPU menuntut kedua terdakwa dengan hukuman penjara selama 6 tahun penjara dan denda sebesar Rp250 juta subsider tiga bulan penjara.

Hanya saja, untuk terdakwa Yayan Suryana, jaksa juga menuntut membayar uang pengganti sebesar Rp260.716.738 subsider tiga bulan penjara.
Sebaliknya, Penasehat Hukum (PH) terdakwa Bipsan Dwinanda Ruslan, Mevrizal, mengaku puas atas putusan majelis hakim tersebut karena dinilainya telah memenuhi rasa keadilan.

“Kami menilai ini adalah putusan yang adil. Dengan putusan bebas ini, berarti jaksa tidak berhasil membuktikan dakwaannya,” katanya.
Hal yang sama dikatakan penasehat hukum terdakwa Yayan Suryana, Fauzi Novaldi. Menurutnya, dalam pengerjaan proyek tersebut kliennya telah mengerjakan pekerjaan sesuai spesifikasi dan volume pekerjaan.

“Semua tahapan sudah dilakukan klien kami sesuai tugasnya, termasuk laporan kemajuan pekerjaan dan lain-lain. Dan itu terungkap dalam persidangan,” bebernya.
Untuk diketahui, proyek pengerjaan rehabilitasi bendung, tanggul, cek dam, dinding penahan, dan bronjong Batang Lunto itu memiliki anggaran Rp6 miliar lebih menggunakan dana hibah Badan Nasional Penganggulangan Bencana (BNPB) tahun 2012 lalu.

Para keluarga serta kerabat terdakwa yang hadir di persidangan tampak menangis dan langsung memeluk terdakwa setelah persidangan ditutup majelis hakim. (eko)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY