Nurlis, Melawan Penyakit dengan Berkarya

0
113
NURLIS, penerima Penerima Manfaat Pemberdayaan Ekonomi, Program Ibu Tangguh DDS yang berhasil mengembangkan usaha menjahitnya. DDS

PADANG, KP – Gang itu sempit, penuh bebatuan di Komplek Perumnas Banuaran Indah, Kecamatan Lubukbegalung. Jalanan kecil itu menuntun tim DDS ke rumah, sekaligus tempat Ibu Nurlis (48) mengembangkan usaha menjahit.

Buk Lis, begitu beliau akrab disapa. Dia adalah Penerima Manfaat Pemberdayaan Ekonomi, Program Ibu Tangguh DDS tahun 2012.

Berawal dari keputusasaan mengidap penyakit diabetes semenjak enam tahun silam, Lis kini memiliki tekad kuat melawan penyakit dengan berkarya. Tekad itu dia tuangkan lewat tangan terampilnya menjahit berbagai jenis bed cover (seprai-red), permintaan pelanggan.

“Dompet Dhuafa lah yang mendorong saya untuk melawan penyakit gula yang saya derita dengan berkarya. Kebetulan saya bisa menjahit, Dompet Dhuafa mendorong saya untuk tidak berputus asa dengan kondisi, tapi harus melawan penykit dengan berkarya,” ungkapnya beliau mengenang pertama kali mengenal DDS.

Dulu, Lis hanyalah seorang ibu rumahtangga dengan riwayat penyakit diabetes. Meski memiliki kemampuan dasar menjahit, namun dia mengaku tak tertarik untuk menjahit kala itu. Dia sempat beranggapan, pendidikannya yang terputus di bangku Sekolah Dasar (SD) dan dipaksa masuk sekolah menjahit oleh orangtua, tidak akan membawanya kepada kesuksesan.

“Saya sempat berfikir orangtua tidak adil karena saya tidak melanjutkan ke pendidikan di sekolah formal, tapi malah menjahit. Namun sekarang saya sadar, putusan orangtua ternyata besar manfaatnya bagi saya,” kenangnya berbinar-binar.

Mengetahui dirinya mengidap penyakit diabetes, Lis mengaku cukup tertekan. “Nggak usah penyakit yang ibu fikirkan, tapi pikirkan gimana ibu ingin usaha ini jadi lebih besar, gimana permintaan pelanggan yang harus dieksekusi, dan mendesain bed cover jadi lebih menarik,” ujarnya menirukan ucapan yang dulu dia terima saat pendampingan tahun 2012 oleh tim DDS.

Berbekal dorongan tersebut, akhirnya dia memfokuskan diri untuk berkarya. Walau setiap hari ia tak berhenti mengkonsumsi minimal empat macam obat dalam sehari, namun semangatnya berkarya menepis penyakit yang ia derita. Meski kadar gulanya saat ini mencapai 290, namun ia merasa lebih sehat dengan kesibukannya menjahit.

Bagi DDS, Lis adalah satu penerima manfaat yang loyal. Membidik ibu-ibu aktif berlatar ekonomi menengah kebawah di tahun 2012, Buk Lis adalah salah satu yang konsisten dan sukses dalam mengembangkan usahanya dalam Program Ibu Tangguh.

“Bentuk dana yang dikucurkan saat itu adalah pinjaman. Namun, bagi saya sangat besar efeknya, karena pinjaman, berarti saya harus semangat dalam pengembalian, meski tidak ada jatuh tempo mengikat yang diberikan Dompet Dhuafa, namun saya tertantang untuk selalu memutar keuntungan menjadi karya, dan berkatnya, saya tak pernah melakukan pinjaman ke Bank. Disamping menghindari riba, juga diberatkan dengan bunga nantinya,” imbuh Lis.

Saat memulai usaha, dia mengaku pemasaran pertama juga dibantu oleh tim DDS ynag mempromosikan karyanya kepada kenalan. Akhirnya, dari pengenalan dari mulut ke mulut, dan didukung dengan hasil karya Buk Lis yang juga Apik, kini Bed Covernya laris di pasaran. Tak jarang dia didatangi langsung pelanggan ke rumahnjya untuk memesan Bed Cover yang sering dijadikan kado pernikahan oleh pembeli.

“Alhamdulillah, bantuan yang diberi DDS amat besar manfaatnya saya rasakan. Saya telah sukses melawan penyakit dengan berkarya, tak lagi memikirkan sakit, namun telah mengubah konsep pemikiran saya untuk menghasilkan ide kreatif dalam berkarya,” pungkasnya. (Dompet Dhuafa Singgalang)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY