‘Pedasnya’ Cabai Lambungkan Angka Inflasi Sumbar

0
163
Ilustrasi

PADANG, KP – Cabai merah kembali menjadi komoditas utama penyumbang inflasi di Sumbar. Tingginya curah hujan menjadi penyebab sejumlah sentra produksi cabai merah, khususnya di Jawa mengalami gagal panen. Produksi cabai lokal yang terbatas disertai gangguan cuaca, turut memengaruhi ketersediaan jumlah pasokan komoditas strategis tersebut di Sumbar. Hal itu diungkap Wakil Ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sumatra Barat, Puji Atmoko, Kamis (3/11), di Padang.

Puji menyebutkan, laju inflasi Sumbar telah berada di level yang tinggi, bahkan berada di atas laju inflasi nasional. Laju inflasi yang tercatat pada bulan Oktober 2016 masih tinggi, yaitu sebesar 0,54% (mtm) meski sedikit menurun dibandingkan laju inflasi September 2016 yang mencapai 0,64% (mtm).

“Secara nasional, inflasi bulanan Sumbar pada Oktober 2016 tersebut merupakan inflasi bulanan tertinggi kelima. Secara spasial, inflasi Sumbar disumbang inflasi Kota Padang dan Bukittinggi yang masing-masing tercatat sebesar 0,56% (mtm) dan 0,37% (mtm),” ulasnya.

Dia menambahkan, inflasi tersebut menjadikan Kota Padang sebagai kota dengan laju inflasi tertinggi ke-9 (sembilan) dan Bukittinggi ke-18 (delapan belas) dari 82 kota sampel inflasi.

Selain cabai merah, penyumbang inflasi di Sumbar adalah kelompok barang yang diatur pemerintah, seperti kenaikan harga elpiji ukuran 3 kg dan tarif listrik.
Puji juga mengutarakan, tekanan inflasi ke depan diprakirakan masih cukup tinggi, terutama dari kelompok bahan pangan bergejolak.

“Tekanan inflasi ke depan diprakirakan masih didominasi kenaikan harga bahan pangan seiring prakiraan cuaca BMKG terkait tingkat curah hujan masih tinggi di sebagian wilayah Sumbar dan menengah di daerah Jawa. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi jumlah produksi panen komoditas pangan strategis yang rentan oleh cuaca, seperti cabai merah, beras, dan bawang merah,” paparnya.

Di sisi yang lain, tekanan inflasi kelompok barang yang diatur pemerintah diprakirakan masih cukup tinggi seiring dengan rencana kenaikan tarif listrik yang akan dilakukan secara bertahap. Sementara itu, tekanan inflasi dari kelompok inti diprakirakan cenderung stabil seiring dengan masih terbatasnya daya beli masyarakat.

Sementara, Walikota Padang, H. Mahyeldi, mengatakan harga cabai di pasaran memang mengalami lonjakan dalam beberapa bulan belakangan, bahkan mencapai harga hingga Rp60.000 per kilogram. Menurutnya, kondisi itu dikarenakan pasokan di daerah produksi yang mengalami gangguan serta faktor transportasi yang terkendala dikarenakan cuaca.

“Ini bukan pedagang yang menahan stok cabai, tapi memang daerah produksi yang mengalami gangguan,” tukasnya.

Dia mengungkapkan, karena produksi cabai dalam negeri yang mengalami gangguan, sehingga pedagang mendatangkan cabai dari luar ngeri yakni dari Thailand.
Selain itu, Mahyeldi juga telah menyerukan pegawai dan warga Padang untuk menanam cabai minimal 10 polybag di pekarangan rumah masing-masing untuk mengantisipasi kelangkaan cabai. “Ini langkah bagus walaupun kualitas mungkin berbeda. Tapi setidaknya dapat mengantisipasi gejolak harga cabai,” tukasnya. (bob)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY