Cabai Sumbar Dijual ke Riau dan Kepri

0
564
Ilustrasi

PADANG, KP – Kenaikan harga cabai merah di sejumlah pasar di Sumatra Barat, khususnya di Kota Padang, dipastikan akibat kurangnya pasokan. Bukan disebabkan permainan oleh kelompok pedagang tertentu. Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Pertanian Provinsi Sumatra Barat, Ir. Candra, Jumat (4/11).

“Berkurangnya pasokan ke pasar karena produksi cabai merah lokal sebagian besar justru dijual untuk memenuhi kebutuhan provinsi tetangga, seperti ke Riau dan Kepulauan Riau.

Padahal, produksi cabai merah Sumbar dalam setahun mencapai 59 ribu ton. Sedangkan tingkat konsumsi cabai rata-rata masyarakat Sumbar hanya 30 ribu ton per tahun. Harusnya stok cabai kita berlebih. Namun, ternyata sebagian besar produksi malah dijual pedagang ke Pekanbaru dan Batam,” jelasnya.

Dia menyebutkan sentra penghasil cabai di Sumbar antara lain Kabupaten Agam, Tanahdatar, Solok, dan Limapuluh Kota.

Menurutnya, cabai merah lokal yang dijual ke luar provinsi mencapai 30 ribu ton lebih. Sehingga, terjadi kekurangan untuk memenuhi konsumsi lokal sekitar 2-3 ton cabai.

“Kekurangan kita sangat sedikit sebenarnya. Tapi dampaknya terhadap harga luar biasa. Yang terjadi saat ini kebutuhan tinggi sementara produksi kurang,” tuturnya.

Guna meredam gejolak harga cabai merah yang terjadi, Candra menyebutkan Dinas Pertanian menggelar pasar tani setiap Hari Jumat di kantor setempat, Kilometer 8 Bandar Buat, Kota Padang. Pasar tani itu dikhususkan untuk menjual komoditi cabai merah dengan harga jual di bawah harga pasar.

“Jumat ini disediakan 100 kilogram. Minggu depan naik jadi 200 kilogram. Selanjutnya kita naikkan dua kali lipat lagi, begitu seterusnya. Dengan harga pasaran saat ini pada kisaran Rp80 ribu – p85 ribu per kg, maka di pasar tani dijual lebih rendah, yaitu Rp70 ribu per kg,” paparnya.

Di sisi lain, Gubernur Sumbar Irwan Prayitno sebelumnya telah mengeluarkan edaran pada 24 Oktober lalu yang menginstruksikan seluruh Pegawai Negeri Sipil (PNS) menanam cabai di pekarangan rumah masing-masing. Satu orang diimbau menanam 10 pohon cabai merah. Dengan harapan produksi cabai dapat meningkat dan masyarakat bisa memenuhi kebutuhan cabai sendiri tanpa tergantung stok di pasar.

“Tahun ini penanaman cabai oleh PNS masih dilakukan secara swadaya. Hampir 50 persen PNS Dinas Pertanian di kabupaten dan kota telah melaksanakan arahan itu. Tahun 2017, pohon cabai akan diberi Dinas Pertanian karena memang baru bisa dianggarkan tahun depan,” tukasnya.

Untuk diketahui, komoditi cabai merah menjadi penyumbang inflasi bulan Oktober di Sumatra Barat. Berdasarkan rilis Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sumatra Barat, inflasi di Sumbar pada bulan Oktober menjadi tertinggi kelima secara nasional, yakni 0,54% (mtm). Secara spasial, inflasi Sumbar disumbang oleh inflasi Kota Padang sebesar 0,56%, dan Bukittinggi 0,37%. Cabai merah menjadi komoditi penyumbang inflasi utama disusul kenaikan harga elpiji 3 kilogram dan tarif listrik. (bob)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY