Mulai Turun, Harga Cabai Masih ‘Pedas’

0
251
Seorang pedagang cabai di Pasar Raya Padang. Robi Ham

PADANG, KP – Distribusi cabai merah mulai lancar di beberapa daerah di Sumatra Barat, khususnya di Kota Padang. Hal itu membuat harga cabai merah mulai turun merah dari kisaran Rp80 ribu per kg hingga Rp95 ribu per kg beberapa waktu belakangan menjadi Rp68 ribu hingga Rp70 ribu per kg.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumatra Barat, Asben Hendri, menyebutkan pasokan cabai merah di Sumatra Barat sudah mulai lancar kembali, sehingga membuat harga cabai merah yang sempat melambung tinggi sudah mulai mengalami penurunan harga.

“Distribusi dari sentra penghasil cabai sudah mulai lancar. Kekurangan pasokan yang sebelumnya menjadi hal utama dari tingginya harga cabai telah dapat teratasi,” ujarnya saat dihubungi KORAN PADANG, Senin (7/11).

Dia membeberkan, data dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumbar pertanggal 7 September 2016, bahwa harga cabai dibeberapa pasar di Kota Padang seperti Pasar Raya Padang yang sebelumnya Rp.76000 menjadi Rp.68.000, Pasar Raya Siteba Rp.81.000 sekarang Rp.75.000 dan Pasar Raya lubuk buaya Rp.80.000 menjadi Rp.70.000 per kilogramnya.

“Disperindag Sumbar terus melakukan update harga komoditi di pasaran setiap hari untuk memantau perkembangan kenaikan harga komoditi, tidak hanya cabai merah tapi komoditi lainya seperti beras, gula, daging sapi, daging ayam, telur ayam, susu dan komoditi lainnya,” ulasnya.

Asben juga mengapresiasi langkah Dinas Pertanian yang menerapkan pasar tani setiap hari Jumat di kantor Dinas Pertanian Sumbar, yang saat ini dikhususkan menjual komoditi cabai merah. Jumlah cabai yang disediakan setiap minggunya selalu ditambah, dengan harga jual di bawah harga pasar.

“Upaya Dinas Pertanian ini merupakan langkah antisipasi yang bagus untuk menekan harga komoditi terutama cabai merah yang terus mengalami kenaikan yang tak menentu di pasaran. Karena cabai merah ini tergantung pasokan, jika pasokan sedikit cabai akan mengalami kenaikan yang sangat signifikan,” tuturnya.

Selain itu, Asben mengatakan, untuk pasokan cabai merah yang didatangkan dari distributor diluar Sumatra Barat, pedagang di Sumbar menggunakan jalur darat, tapi tidak menutup kemungkinan melalui udara.

“Lewat udara dilakukan hanya pada kesempatan atau waktu tertentu saja. Tidak secara tetap atau rutin,” katanya.

Dia berharap pasokan cabai merah di Sumbar terus mengalami peningkatan, sehingga masyarakat tidak resah dengan harga yang melambung tinggi karena kekurangan pasokan.

“Disperindag akan saling bersinergi dengan Dinas terkait agar pasokan di Sumbar tetap aman dan harga tidak melambung tinggi,” tukasnya.

Sementara, pedagang cabai di Pasar Raya Padang, Anto, mengatakan harga cabai sudah mulai mengalami penurunan Rp4 ribu per kilogram. Ia mengatakan sejak satu bulan lalu harga cabai merah di Padang terus naik. Pada awalnya harga cabai yakni Rp48 ribu per kilogram kemudian naik menjadi Rp60 ribu terus menembus Rp64 ribu bahkan mencapai Rp80 ribu.

Tingginya harga cabai saat ini, sebutnya disebabkan kurangnya pasokan dari luar daerah. Rata-rata pasokan cabai berasal dari Jawa dan Medan, dengan harga yang sama yakni Rp76 ribu.

“Kami mendapat informasi kurangnya pasokan dari Jawa disebabkan oleh banjir yang mengakibatkan produksi cabai menurun,” tuturnya.

Hal senada juga dikatakan Udin, pedagang cabai lainnya di Pasar Raya Padang bahwa pada satu bulan terakhir harga cabai terus merangkak naik yang menyebabkan pembeli mengurangi jumlah pembelian.

“Karena harga mahal, pembeli banyak yang mengurangi pembelian cabai merah tersebut, misalnya kalau biasanya mereka membeli satu kilogram, sekarang hanya setengah kilogram saja,” ujarnya.

Seorang pembeli cabai di Pasar Raya Padang Milna sempat mengeluhkan tingginya harga cabai tersebut. Ia menuturkan saat membeli cabai beberapa waktu lalu di Pasar Raya Padang mencapai Rp.95.000 perkilogram.

“Cabai Ini merupakan bahan pokok yang harus ada dan dibutuhkan, masa’ harga bisa sampai melonjak tinggi, semoga ke depan pemerintah dapat mengatasi persoalan ini,” tukasnya.

Pengusaha Rumahmakan Pilih Cabai Hijau

Untuk mensiasati harga cabai yang masih tinggi, konsumen pun harus pintar menyiasatinya. Seperti yang dilakukan Asyfa (41), seorang ibu rumahtangga yang tinggal di kawasan Kuranji, Padang.

Menurutnya, untuk mengurangi penggunaan sambal cabai saat makan, dia tidak menggunakan tomat saat memasak. Hal itu dilakukan agar pedasnya tidak kurang.

“Otomatis, sedikit saja menggunakan sambal cabai langsung terasa,” ujar ibu empat anak tersebut.

Lain lagi yang dirasakan pengusaha rumah makan. Seperti penuturan Ayang (60), pengusaha rumah makan di Simpang Tabing, Kototangah.

“Sejak beberapa pekan terakhir terpaksa saya menggunakan cabai hijau yang harganya sedikit lebih murah dari cabai merah. Sebab, tidak mungkin hanya karena harga cabai naik, kita menaikan harga jual nasi. Takutnya konsumen lari dan tidak datang,” ujarnya.

Yang berharap peran serta dinas terkait untuk kembali menstabilkan harga cabai, apalagi orang Minang terkenal dengan suka makanan pedas. (rob/bob)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY