‘Goreng Balap’ yang Bikin Ketagihan

0
298
Pelanggan menikmati goreng balap

PADANG, KP – Pukul 23.00 WIB adalah waktu dimulainya bagi dua orang kakak beradik ini untuk berjualan gorengan. Ada goreng tahu, pisang, bakwan, tempe dan ubi. Saat warga yang lain sudah lelap dalam peraduannya, Pia (50) dan adiknya, Nisa (40), baru saja memulai berjualan goreng dengan gerobak kayunya. Meski gerimis sekalipun, tidak menyurutkan semangat mereka untuk mencari nafkah. Dua bersaudara itu harus rrela berjualan pada malam hari untuk menghadapi kerasnya kehidupan.

goreng-balap-1

Hampir tiap hari Pia dan Nisa berjualan gorengan di sebuah simpang dekat Dealer Honda Gajah Motor, Jalan Khatib Sulaiman, Padang.

“kami hanya libur sehari saja, yaitu Hari Minggu, untuk sekadar beristirahat,’’ kata Nisa sambil tertawa. Dia agak humoris dibanding kakaknya, Pia.

Sejak tahun 1996, kedua kaka beradik itu sudah berjualan. Waktu itu mereka berjualan sore hari hingga malam. Namun karena sering dirazia petugas Satpol PP, mereka memilih waktu yang aman untuk berjualan pada malam hari. Menurutnya, itu adalah waktu yang aman bagi pedagang kaki lima untuk berjualan.

“Satpol PP sering melintas, tetapi cuman lewat saja,” tukasnya sambil memainkan sendok penggorengan dengan sigap di atas kuali yang panjangnya kira- kira 1 meter.

goreng-balap-2

Pia mematok harga Rp1000 untuk satu buah goreng. Dia menyebutkan konsumennya kebanyakan anak-anak sekolah ataupun mahasiswa. Bahkan ada yang datang dari Lubeg sekedar untuk mengisi perut yang kosong pada tengah malam. Pada malam minggu, kakak beradik ini dipastikan kewalahan melayani pelanggannya. Sebab, pada malam Minggu itu Jalan Khatib Sulaiman ini telah disulap menjadi lintasan balapan liar. Itulah asal mulanya kenapa gorengan Pia dan Nisa itu disebut dengan ‘goreng balap’.

Pia menyebut ada suka duka dalam menjalani profesi sebagai penjual goreng. Dia menuturkan, sukanya pada pukul 00.00 WIB karena waktu itu pelanggan sedang ramai-ramainya. Tetapi ketika cuaca tidak bersahabat, seperti badai dan hujan, hanya segelintir orang yang membeli goreng balap karena mereka memilih untuk di dalam rumah ketimbang berbasah-basah mencari makan keluar.

Sebenarnya, Pia bercita-cita sebagai seorang guru kesenian. Lulusan IKIP Padang (sekarang UNP) itu terpaksa meninggalkan impian tersebut karena waktu itu dia cuman diterima sebagai guru honorer di salah satu sekolah di Kota Padang. Gaji guru honorer saat itu tidak mencukupi untuk hidup di kota besar ini.

“Namun, dengan berjualan gorengan seperti ini, alhamdulillah tercukupi,” ujarnya sambil mengangkat goreng bakwan yang telah masak untuk ditiriskan. Pia tidak menyebutkan berapa nominal yang didapat dari hasil berjualan gorengan tersebut, tetapi kakak Nisa itu menyebutkan dia bisa menghabiskan sekitar 800-1000 goreng dalam semalam.

Laporan : Septiadi Nefri

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY