Kemandirian Siswa, Tujuan SLB Perwari

0
267
Aktivitas para siswa di SLB Perwari Padang, Senin (14/11). Foto SEPTIADI NEFRI

PADANG, KP – Mengajar anak berkebutuhan khusus bukan perkara yang mudah, diperlukan pendidikan dan keterampilan khusus agar dapat menangani mereka.

Warna Hindra, yang dulunya seorang guru di Sekolah Luar Biasa (SLB) Perwari Kota Padang, dan kini telah menjabat sebagai Kepala Sekolah di SLB tersebut.

Ia mengatakan, selain pendidikan dan keterampilan khusus, sebagai guru juga memerlukan yang namanya “Ketulusan, kesabaran, dan rasa kasih sayang,” ungkapnya kepada KORAN PADANG ketika dijumpai di sekolah tersebut.

Sambungnya, selain belajar di dalam lokal, ia juga mengajak siswa untuk belajar di halaman sekolah, untuk dapat menggali lagi potensi yang ada pada siswa, seperti berolahraga, bercocok tanam, ataupun pertukangan.

Di samping itu, SLB Perwari ini mempunyai ektrakulikuler seperti, olahraga, pramuka, kesenian dan keterampilan, keterampilan disini terbagi dari memasak, menjahit dan juga mendaur ulang barang bekas atau kerajinan tangan.

Lalu, dari hasil buatan siswa ini nantinya akan diletakkan di kafe sekolah, dan nantinya akan dibeli oleh para guru ataupun siswa.

“Prestasi siswa di sekolah ini cukup beragam, seperti ada yang ikut lomba lari tingkat Provinsi, lomba menyanyi, lomba menari dan tata boga. Setiap anak mempunyai potensi dan bakat masing – masing, tinggal kita sebagai guru untuk membimbing dan mengarahkannya kemana siswa ini bisa menjadi sukses nantinya,” jelasnya.

Namun hal ini juga diperlukan bantuan dari keluarga, terutama orang tua siswa. Untuk itu, diharapkan para siswa ini nantinya bisa mandiri dan berkreatifitas layaknya orang – orang normal pada umumnya.

Sekolah ini, sebutnya, memiliki murid dengan total jumlah 54 siswa, yang terdiri dari SD berjumlah 39 siswa, lalu SMP 9 siswa, dan SMA 6 siswa, dengan tenaga pengajar sebanyak 14 guru.

Lokal disini juga berjumlah, sebanyak 14 ruangan. SLB Perwari ini terdiri dari tiga kategori siswa, yakni Tuna Grahita, Tuna Rungu dan Tuna Daksa, dengan kisaran umur antara 7 tahun hingga ada yang sampai 38 tahun. “Di sekolah ini kita mengelompokkan sesuai dengan  IQ, bukan umur siswa,” tambahnya. (Teddy)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY