Dibalik Kemesraan Jokowi – Prabowo, “Bangsa Ini Bangsa yang Perasaan, Kalau Sakit Hati, Lama Lupanya…”

0
166
Pertemuan Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di Istana Negara. ISTIMEWA

JAKARTA, KP – Selesai bersafari politik mendatangi pasukan-pasukan elite TNI-Polri, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) masih menyibukkan diri dengan agenda-agenda politik lainnya.

Agenda politik demi meredam ketegangan yang ada sedari arus bawah masyarakat hingga ke atas. Tidak bisa dimungkiri bahwa situasi negara dewasa ini berpotensi gaduh. Apalagi persoalannya kalau bukan karena kasus dugaan penistaan agama oleh Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Pengerahan massa ormas Islam pada demonstrasi besar-besaran 4 November lalu sempat bikin waswas kita-kita sebagai masyarakat awam.

Masyarakat yang pastinya membutuhkan situasi negeri yang tenang demi bisa terus menjaminkan nafkah bagi keluarga sehari-hari. Pun begitu setiap individu manusia Indonesia harus pula ‘melek’ terhadap situasi negara. Situasi yang belakangan berpotensi mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan kbhinekaan yang sudah padu sejak 71 tahun lampau.

Makanya dalam berbagai kunjungan Presiden Jokowi ke pasukan Kopassus TNI AD, Brimob Polri, Marinir TNI AL, Paskhas TNI AU dan Kostrad TNI AD, dite- kankan kembali akan kewaspadaan tiap-tiap prajurit untuk menjaga NKRI, menjaga Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.

Situasi bisa semakin keruh karena adanya rencana demonstrasi besar-besaran lainnya bertajuk ‘Bela Islam Jilid III’. Bukannya ingin melarang hal demokrasi warga, hanya saja situasinya sedang tidak baik, apalagi dengan mengerahkan massa yang lebih besar dari demo 4 November lalu. Sejatinya, tuntutan pada demo 4 November pun sudah dijalankan aparat. Yakni penegakan dan pemrosesan hukum terhadap Ahok. Statusnya pun sudah ditetapkan tersangka pada gelar perkara yang dilakukan Bareskrim Polri pada Selasa 15 November lalu.

Ada kekhawatiran tersendiri bila massa tetap akan turun ke jalan pada 25 November mendatang. Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta Profesor Syaiful Bahkri, mencemaskan bahwa demo 25 November malah akan menimbulkan gejolak sosial.

“Kita khawatir aksi-aksi itu akan membuat gejolak, bahkan bukan tidak mungkin bentrokan sosial yang akan membuat ancaman keamanan dan ketertiban nasional (kamtibmas) semakin besar karena memberi peluang pihak ketiga untuk memanfaatkan situasi dan kondisi ini,” kata Prof Syaiful di Jakarta, Kamis (17/11).

Perihal demo 25 November, isu ini juga yang kemudian jadi salah satu topik pembicaraan Presiden Jokowi dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di Istana Negara, Kamis (17/11). Kedatangan ini selain membalas kunjungan Presiden Jokowi ke kediaman Prabowo di Hambalang, Bogor beberapa waktu lalu, juga seolah jadi momen kemesraan lainnya antara dua rival dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 itu. Prabowo mengatakan dirinya akan terus menerus ikut mengurangi ketegangan politik.

“Bukan hanya soal demo 25 November, tapi setiap saat saya anjurkan kita tidak usah gaduh, tidak usah tegang,” terang Prabowo dalam laporan langsung iNews TV.

Prabowo menambahkan, sebagai pim- pinan partai dirinya merasa punya kewajiban untuk mengurangi ketegangan termasuk soal isu demo 25 November.

“Saya akan selalu menganjurkan kesejukan,” sambungnya. Terkait kasus Ahok, Prabowo meminta agar setiap pejabat atau tokoh harus benar-benar menjaga kesejukan, ketenangan, dan tutur kata. Hal itu penting agar masyarakat tidak emosional.

“Bangsa kita ini bangsa yang pera- saan. Kalau sudah sakit hati, lama (lupanya). Makanya tokoh-tokoh harus dijaga betul tutur katanya,” kata Prabowo. (ozc)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY