‘GAS’ Perkenalkan Padang Tempo Dulu ke Masyarakat Luas

0
156
Beberapa koleksi ruangan Galeri Arsip Statis (GAS) di Kantor Arsip, Perpustakaan dan Dokumentasi Kota Padang, Jl. Jend. Sudirman No. 1 Padang, eks SMAN 1 Padang, kemarin (14/12). SEPTIADI NEFRI

PADANG, KP – Guna menyelamatkan arsip maupun dokumen yang ada di Kota Padang, baik dalam bentuk foto ataupun kertas, dan memberikan efek edukasi kepada masyarakat, Kantor Arsip, Perpustakaan dan Dokumentasi Kota Padang telah membuka Galeri Arsip Statis (GAS) untuk umum.

GAS tersebut berada di kantor Arsip di Jalan Jenderal Sudirman No.1 Padang, Komplek eks SMA 1 Padang. GAS ini di buka mulai dari pukul 08.00 s/d 16.00 WIB pada hari Senin – Jumat.

Pengelola GAS di Kantor Arsip, Perpustakaan dan Dokumentasi Kota Padang, Marshaleh Adaz kepada KORAN PADANG, kemarin menyebutkan, keberadaan GAS ini bertujuan untuk memperlihatkan kepada masyarakat bagaimana Kota Padang pada masa lampau.

Dimana, katanya, belum banyak perubahan yang terjadi di Kota Bengkuang ini, seperti foto bangunan – bangunan lama yang masih kokoh tegap berdiri, Soekarno yang pernah datang ke Kota Padang, Hoyak Tabuik yang pernah diadakan di Balaikota Padang yang lama, kusir bendi di Padang yang kebanyakan orang China, dan dokumen – dokumen bernilai tinggi lainnya yang penuh dengan sejarah.

Hal itu katanya, dapat bermanfaat bagi pengunjung setelah datang ke GAS. Sebab, banyak mendapat pemahaman serta perbedaan, tentang bagaimana Kota Padang yang dulu dengan yang sekarang. Kebanyakan pengunjung ada yang berasal dari mahasiswa, namun ada juga turis asing yang berkunjung ke GAS ini, karena tertarik untuk mempelajari sejarah yang ada di Kota Padang.

Arsip – arsip yang ada disini, sebutnya, baik itu berupa foto maupun kertas yang terdiri dari surat- surat penting ataupun peta, semuanya berkaitan dengan Kota Padang tempo dulu, mencakup hal dalam bidang sosial, politik, ekonomi, budaya, olahraga dan agama.

Lebih lanjut dijelaskannya, untuk pemeliharaan dan perawatan saat ini masih terbatas, kendala pertama adalah ruangan yang sempit juga AC yang masih kurang. Sebab, untuk tempat dokumen-dokumen kertas ini harus berada pada ruangan berhawa dingin supaya awet.

Lalu, kendala yang kedua adalah tempat untuk penyimpanan arsip asli masih terbatas, sebab untuk barang – barang arsip yang dipajang itu harus duplikat, bukan yang asli. Sehingga, untuk saat ini pihak GAS menutupi dengan plastik untuk setiap dokumen – dokumen penting ini. Sehingga, setiap pengunjung yang datang ke GAS ini langsung dibimbing oleh pengelola.

Menurutnya, arsip iniidealnya seperti pohon kelapa. Artinya, pengelolaan arsip yang tertata baik memberikan akar yang kuat bagi suatu organisasi, dan jika arsip itu menawarkan kemudahan dalam penemuannya kembali, maka kiprah organisasi ini akan berkibar, seperti pohon kelapa yang dari pucuk, daun, buah dan batang memiliki nilai guna.

“Dunia tanpa arsip akan menjadi dunia tanpa ingatan, tanpa kehidupan, tanpa hak – hak yang sah tanpa pengertian akan akar sejarah dan ilmu, serta tanpa idealis kolektif,” ungkapnya.

Marshaleh Adaz berharap agar masyarakat Kota Padang dapat berkunjung ke GAS ini, karena banyak hal yang bisa dipelajari dari sini.

“Kita bisa mengetahui bagaimana Kota Padang dulu, apa – apa saja yang telah dilewati oleh Kota Padang dari dulu hingga sekarang, banyak pembelajaran yang bisa dipetik dari sini. Dan, dalam hal negatifnya kita dapat memetik pembelajaran masa lalu agar tidak terulang lagi pada masa yang akan datang dan begitu sebaliknya, sesuai motto kami, yaitu kami siap membantu anda mencintai kota ini melalui arsip statis,”jelasnya. (ted)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY