Indonesia, Sekarang Atau Tidak Selamanya

0
152
Timnas Indonesia. IST

PADANG, KP – Rekor Timnas Indonesia saat ini sudah berhasil menyamai rekor Timnas Argentina, negaranya legenda sepakbola Maradona dan Messi. Namun jangan senang dulu! Rekor yang satu ini bisa membuat hati kecut. Yaitu, empat kali berlaga di partai final, empat kali pula kalah! Jika Timnas Argentina kalah di empat final Piala Dunia dan Copa America, maka Timnas Indonesia kalah di empat final Piala AFF. Namun, kali ini Indonesia berpeluang menghapus ’kutukan’ tersebut dalam final kelimanya di AFF. Sebab, pada leg 1, ‘cakar Garuda’ berhasil mengoyak ‘belalai gajah putih’ dengan skor 2-1. Selangkah lagi, Indonesia bisa menjadi juara Piala AFF, jika pada leg 2, Sabtu malam nanti (17/12) di Stadion Rajamanggala Bangkok, Timnas berhasil menang, setidaknya menahan imbang Thailand. Kesempatan emas itu telah datang. Sekarang, atau tidak selamanya!.

Dalam partai final AFF 2016, Thailand sebagai juara bertahan memang lebih diunggulkan menjadi juara ketimbang Indonesia. Rekor tidak terkalahkan selama gelaran Piala AFF 2016 men- jadi salah satu alasan mengapa Thailand diunggulkan menjadi juara. Ditambah permainan menyerang nan atraktif yang ditunjukkan oleh Teerasil Dangda dan kawan-kawan semakin membuat Thailand di posisi teratas untuk me- rengkuh gelar Piala AFF 2016.

Hal itu kontras dengan Indonesia. Timnas Merah Putih bukanlah favorit juara. Status timnas hanya pelengkap penderita, karena toh sebelum berlaga, tim Merah Putih sudah terca- bik-cabik. Alfred Riedl pun tak kalah realistis (baca: pesimis).

“Hanya dua pemain dari setiap klub yang kami bisa pakai. Kami juga mengalami beberapa masalah berupa pemain cedera sebelum Piala AFF dimulai,” katanya.
Bahkan, pelatih Thailand, Kiatisuk Senamuang, sudah meremehkan Indonesia sejak jauh-jauh hari. Dia memprediksi anak asuhnya bakal menghadapi Vietnam di final. Tapi usai laga semifinal antara Indonesia menghadapi Vietnam berakhir dengan Indonesia sebagai pemenang, ia tak mengira jika Indonesia-lah yang melang- kah ke final. Sedangkan sebelumnya, pelatih tim nasional Singapura, V Sundramoorthy, marah-marah setelah dikalahkan timnas Merah Putih.

Menurut mantan pelatih Vietnam, Thanh Vinh, Indonesia adalah salah satu tim yang langka di dunia. Sementara pelatih Vietnam, Nguyen Huu Thang, yang berurai airmata saat menerima kekalahan mempertegas maksud aneh itu, “Dalam sepakbola, banyak hal terjadi begitu tiba-tiba.”

Stok Keajaiban yang ‘Berlimpah’

Singkat kata, keajaiban dimulai dengan ikut sertanya timnas Indonesia di AFF 2016 ini. Baru dicabut sanksi FIFA, terburu-buru membentuk tim, pemain dibatasi dan langsung terjun ke medan tempur. Betul-betul aneh bin ajaib! Kalaupun ditaklukkan Thailand 4-2, keajaiban sebagai peserta sudah pantas disyukuri.

Seri melawan Filipina sudah dianggap keajaiban bonus. Kemenangan come back 2-1 atas Singapura entah tergolong keajaiban macam apalagi; tiba-tiba bola berlari ke arah Andik, pemain mungil itu kaget dan menendang…gol! Lilipaly yang terlambat gabung timnas juga dikejar bola. Dia pun menendang, dan Singapura terkulai. Pelatihnya marah-marah. Masuk semifinal sudah cukup sebagai pelipur lara atas carut marut sepakbola Indonesia.

Stok keajaiban sejatinya sudah ludes di babak penyisihan. Atas kasih sayang Tuhan, timnas Merah Putih kembali diguyuri keajaiban sepanjang semifinal. Tampaknya, pemain timnas saleh-saleh. Andik menyebut, “Alhamdulillah…”, Manahati dan kawan-kawan sujud syukur.

Kemenangan 2-1 di Pakansari adalah keajaiban yang paling mendebarkan. Semifinal kedua adalah laga yang bikin stres puluhan bahkan ratusan juta rakyat Indonesia. Keajaiban apa yang membuat kiper dan bek Vietnam kalang kabut menerima cungkilan lembut dari kaki terlemah Boaz, yaitu kaki kanannya? Secara tak terduga, kiper Vietnam, Tran Nguyen Manh, gagal menepis bola yang seperti mengelak dari jangkauan tangannya. Keajaiban itu dipertegas dengan kepanikan bek Vietnam, Dinh Dong, yang menendang bola ke tiang gawang. Kenapa tak gol bunuh diri sekalian? Keajaiban itu butuh drama juga, maka Lilipaly yang planga-plongo pun digoda oleh si kulit bundar untuk mencetak gol. Tak percaya? Sang pencetak gol saja tak yakin.

Mungkin saja yang dilawan timnas Indoensia itu kawanan ‘red devils’ sejati, yang semuanya berseragam merah. Tim Vietnam main seperti ’setan’ tenaganya tak berkurang, stamina tak merosot, dan semangat tak menurun meski bermain 10 orang dan mengandalkan bek jadi kiper. Bahkan timnas Vietnam main tanpa kiper di akhir-akhir pertandingan.

Semuanya menyerang kesetanan menggunakan power play a la tim futsal. Mereka bermain seperti perang puputan saja, 7 hari 7 malam menyerbu, mencetak dua gol yang memaksa perpanjangan waktu, penguasaan bola 74 per- sen, dengan 27 tendangan mengarah ke gawang. Pressing luar biasa ganas itu sampai membuat Boaz ikut membantu pertahanan. Apa lagi yang kurang?

Skor sempat 2-1. Tak sedikit penonton Indonesia mulai mematikan televisi. Masuklah perpanjangan waktu dan situasi jadi genting. Stadion My Dinh seperti hendak meledak. Akan tetapi keajaiban itu jatuh dari langit. Ferdinan Sinaga diterjang, penalti didapat. Manahati menjebol gawang untuk menyamakan skor 2-2. Keajaiban itu ternyata juga bikin jantung menderita. Sebetulnya tendangan Manahati menuju arah berdiri kiper, tapi kok kiper jadi-jadian itu malah loncat ke arah lain?

Tuhan Maha Adil kembali memberikan keajaiban. Laskar Merah Putih tak kalah trengginas, serangan tujuh hari tujuh malam ditahan dengan taruhan nyawa. Mereka tidak bermain bola, tapi seperti berperang sungguhan. Mungkin keluguan di kancah AFF yang membuat mereka tak banyak gaya.

Kiper Indoensia seperti baru belajar menendang bola. Berkali-kali Meiga melakukan tendangan gawang justru langsung melesat ke luar lapangan. Bek-bek dan gelandang tak kalah edan, jurusnya sederhana; selain ke gawang sendiri, silahkan hantam bola ke mana saja. Bola datang langsung tebas. Kalau lagi mujur, bola yang dihantam melayang ke pertahanan lawan. Lalu Boaz pontang-panting mengejarnya sendirian lalu dikeroyok habis-habisan oleh bek-bek lawan. Boaz itu bak dibimbing malaikat. Hanya ada satu peluang aneh yang digoceknya. Dan keajaiban turun dari langit, akhirnya gol pun terjadi. Bukan gol ‘Tangan Tuhan’ a la Maradona, tapi gol ‘aneh bin ajaib’.

Timnas kali ini memang tak punya gaya. Kita hanya memakai empat pemain senior, sisanya wajah-wajah baru nan lugu. Beda dengan timnas AFF edisi sebelumnya, timnas memang gaya, ada banyak nama-nama menterang yang menggetarkan nyali lawan. Tetapi mereka teramat banyak gaya, atau sok gaya. Akhirnya pulangnya mati gaya. Terkapar di penyisihan grup.

‘Timnas Day’ jadi tagar tertinggi sedunia, menunjukkan sepakbola masih bisa menjadi harapan pemersatu yang ajaib dan juga keajaiban bagi masyarakat Indonesia. Tetapi, keajaiban itu sudah lunas di semifinal? Celakanya, masih ada final, dua kali pula! Apalagi yang kita andalkan?

Tapi ternyata keajaiban kembali menaungi timnas Indonesia. Sempat tertinggal lebih dulu, Indonesia berhasil membalikkan keadaan. Gol Teerasil Dangda dibalas oleh gol Rizky Pora yang mendapat ‘durian runtuh’ setelah Teerathon Bunmathan salah umpan dan gol Hansamu Yama yang sempat dihina banyak orang. Semua itu datang tak terduga.

Ketika final menjelang dan 250 juta rakyat yang lelah dengan kehidupan yang payah berharap akhir yang sempurna. Banyak yang menyebut kesempurnaan itu berupa Piala AFF diangkat setelah kali ke-5 menembus final. Inilah waktu yang tepat. Juara adalah kesempurnaan yang manis. Kalau tidak sekarang kapan lagi? Dengan segala stok keajaiban yang berlimpah-ruah ini? Kalau tidak sekarang, mungkin tidak akan pernah lagi untuk selamanya.

Walau Thailand memiliki keunggulan gol tandang, tapi kita tak usah risau, karena kita dan skuat timnas Indonesia bisa mengingat hukum ‘mestakung pertama’; setiap kondisi kritis pasti ada jalan keluar. Walau Thailand adalah tim terkuat di Asia Tenggara, kita tak perlu takut karena tinggal mengingat hukum ‘mestakung kedua’; ketika seseorang melangkah, ia akan melihat jalan keluar. Walau Thailand tim paling sedikit kebobolan, tidak usah takut, toh hanya timnas Indonesia yang mampu menjebol gawang Thailand empat kali, dan tentu saja sekali lagi tinggal mengingat hukum ‘mestakung ketiga’; ketika seseorang tekun melangkah, ia akan menuai hasil maksimal.

Timnas Indonesia telah melakukannya di leg pertama, di leg kedua Indonesia pun pasti bisa. Semoga semesta mendukung timnas Indonesia menjadi juara! Setelah ratusan purnama berlalu, mungkin ini saatnya Indonesia bisa berjaya di Piala AFF 2016 ini. Semoga saja!

Namun, tidak akan ada yang kecewa jika timnas kalah di final. Karena kekalahan itu toh bukan kejutan. Terus-terusan mengandalkan keajaiban juga tidak sehat bagi batin kita. Kalau pun berhasil juara Piala AFF 2016, janganlah pandang itu sebagai akhir sempurna. Karena sesungguhnya kesempurnaan itu hanyalah milik Tuhan. Dan Tuhan sedang berbaik hati meminjamkan milik-Nya untuk tim Merah Putih.

Kemenangan adalah guru yang baik, tapi kegagalan adalah guru yang paling baik. Dengan kegagalan kita bisa banyak belajar. Juara atau tidak, hendaknya menjadi pelajaran untuk mengevaluasi diri, sebab tidak ada tim yang sempurna.

Para pemain pun sadar akan hal ini, mereka hanya berusaha sebaik mungkin. Juara hanya bonus, selama sudah berpeluh mati-matian membela timnas Indonesia, mereka telah menunaikan tugasnya untuk bela negara di tengah segala permasalahan yang ada.

Oleh karena itu, apapun yang terjadi nanti, ayo tetap terus dukung timnas Indonesia! Karena dukungan kita pun, disadari atau tidak, akan menambah atau bahkan mungkin bisa jadi kembali menghadirkan keajaiban lain yang bisa didapatkan Indonesia sehingga Indonesia memiliki akhir perjuangan yang sempurna. Indonesia bisa! (Yoli Hemdi, penggemar sepakbola dan pendukung setia timnas Indonesia yang bisa dihubungi lewat surel yolihemdi@gmail.com. Disadur dari panditfootball.com)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY