MENHAN RI: Indonesia Dikepung Ancaman Multidimensi

0
184
Menhan Ryamizard Ryacudu saat menyerahkan penghargaan bela negara saat peringatan bela negara di Padang

PADANG, KP- Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) saat ini dihadapkan dengan berbagai ancaman fisik maupun non fisik yang bersifat multidimensi. Hal tersebut dikatakan Menteri Pertahanan (Menhan) Republik Indonesia, Ryamizard Ryacudu, saat menjadi Inspektur Upacara Peringatan Hari Bela Negara ke-68 tingkat Nasional, di Lapangan Imam Bonjol Padang, Senin (19/12).

Menhan mengungkapkan, ancaman yang bersifat multidimensi itu di antaranya muncul dalam bentuk ideologi politik, ekonomi, sosial, budaya, dan bentuk-bentuk lainnya. Dari ancaman itu kemudian lahir berbagai ancaman nasional, seperti narkoba, korupsi, ekstremisme, radikalisme hingga terorisme.

Berbagai ancaman itu, tutur Ryamizard, harus diantisipasi dengan aksi Bela Negara yang juga mesti bersifat multidimensi, misalnya upaya melawan aksi pencurian ikan di perairan Indonesia, mendirikan UMKM dan berwiraswasta untuk pertumbuhan ekonomi, dan melawan ancaman kemiskinan dan ketertingalan.

“Hal-hal tersebut juga merupakan aksi bela negara. Bahkan, pengabdian guru dan dokter di perbatasan untuk membantu masyarakat dalam bidang pendidikan dan medis juga termasuk bela negara,” paparnya.

Upacara Peringatan Hari Bela Negara di Kota Padang diwarnai hujan rintik-rintik. Namun hal itu tidak menyurutkan para peserta melaksanakan upacara dengan khidmat dan tertib.
Untuk diketahui, Hari Bela Negara yang jatuh setiap tanggal 19 Desember pada tahun ini mengangkat tema ‘Indonesia tanah tercinta kan kubela sepanjang masa’.

Dalam kesempatan itu, penghargaan Bela Negara diserahkan kepada seluruh pi- hak sesuai dengan bidang yang digelutinya, di antaranya ada dua artis senior yang bergelut dibidang kesenian, yakni Titiek Puspa dan Elly Kasim.

Rangkaian acara Peringatan Hari Bela Negara yang dipusatkan di Kota Padang itu telah dimulai sejak 14 Desember lalu dengan pembentukan kader Bela Negara dan pada 17 Desember digelar malam kesenian sekaligus nonton bareng final sepakbola piala AFF antara Indonesia vs Thailand. Selanjutnya, lomba marathon 10 K Bela Negara pada Minggu (18/12) yang dikuti sekitar lima ribu peserta dan karnaval Bela Negara.

Sejarah Ringkas Hari Bela Negara

Tanggal 19 Desember 2016 telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai Hari Bela Negara. Awal mula sejarah terpilihnya 19 Desember sebagai Hari Bela Negara merujuk pada deklarasi pendirian Pemerintah Darurat Republik Indonesia(PDRI) pada 19 Desember 1948.
Pendirian Pemerintah Darurat Republik Indonesia(PDRI) dilakukan oleh Sjafruddin Prawiranegara di Sumatera Barat yang kala itu menjabat sebagai Menteri Kemakmuran RI.

Sjafrudin mendapatkan mandat langsung dari presiden Soekarno kala itu ditawan oleh Belanda bersama wakil presiden Mohammad Hatta.

Ini isi mandat dari Presiden Soekarno terhadap Sjafruddin Prawiranegara:
Kami Presiden Republik Indonesia memberitahukan bahwa pada hari Minggu tanggal 19 Desember 1948 djam 06.00 pagi, Belanda telah memulai serangannja atas Ibukota Jogjakarta. Djika dalam keadaan Pemerintah tidak dapat mendjlankan kewadjibannja lagi kami menguasakan kepada Mr. Sjafruddin Prawiranegara Menteri Kemakmuran Republik Indonesia untuk membentuk Pemerintah Republik Darurat di Sumatera.

Penetapan Hari Bela Negara pertama kali dicanangkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui surat bernomor 28 Tahun 2006 tentang Hari Bela Negara.

Penetapan Hari Negara merupakan upaya untuk lebih mendorong semangat kebangsaan dalam bela negara untuk mempertahankan kehidupan berbangsa dan bernegara yang menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan.

Hari Bela Negara ini juga ramai diperingati netizen di twitter.

Selamat Hari Bela Negara, jaga persatuan & kesatuan, jaga kehidupan berbangsa & bernegara, jaga kedaulatan bangsa, NKRI harga mati. Pancasila Jaya,” tulis akun @saber_pungli. (bob)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY