Noviyanti: Lestarikan Sejarah Budaya, Itu Juga Bela Negara

0
139
Penilaian Lomba Menulis tentang museum dengan tema 'Cinta Museum Bela Negara' yang diadakan di Museum Adityawarman Jl. Diponegoro, Belakang Tangsi, Padang Barat, Selasa (20/12). Foto SEPTIADI NEFRI

PADANG, KP – Museum merupakan lembaga edukasi, rekreasi dan atraksi. Sehingga, lembaga ini harus mampu memberikan informasi sebagai tempat belajar, menyenangkan bagi pengunjung.

Tak hanya itu, museum juga menjadi tempat unjuk kreatifitas dan talenta bagi penerus bangsa, maka dari itu mencintai museum hendaklah menjadi gerakan bersama.

Menyikapi hal itu, Museum Adityawarman menggelar lomba menulis tentang museum, dengan seiring pada 19 Desember lalu, Kota Padang memperingati Hari Bela Negara (HBN), maka dalam perlombaan kali ini dikaitkan menjadi tema ‘Cinta Museum Bela Negara’.

Lomba tersebut telah dimulai dari 7 hingga 14 Desember 2016, dengan jumlah peserta sebanyak 30 orang yang terdiri dari kalangan pelajar, guru, mahasiswa dan masyarakat lainnya, yang penilaiannya serta pengumuman pemenang dilakukan pada, Selasa (20/12).

Kepala UPTD Museum Adityawarman, Noviyanti menjelaskan, peran museum sebagai lembaga dalam memperoleh informasi, itu dapat berkembang secara luas.

“Bela negara apabila dikaitkan dengan museum bukan dengan angkat senjata untuk saat ini, tetapi melestarikan sejarah dan budaya kita, agar generasi muda termotivasi untuk mengetahui nilai – nilai budaya dan perjuangan di Sumbar,” jelasnya kepada awak media disela – sela perlombaan yang diadakan di Museum Adityawarman, kemarin.

Ia berharap usai kegiatan ini dilaksanakan agar dapat meningkatnya jumlah pengunjung ke museum dan menumbuhkan rasa cinta tanah air pada masyarakat.

Sementara, Pinto Janir selaku juri dan juga seniman Kota Padang menjelaskan, museum adalah tempat untuk melihat kebelakang, apabila tidak terulang untuk ke depannya.

Itu sebab, kata Pinto, lihat sejarahmu, lihat jati dirimu, maka engkau akan tahu bagaimana untuk melangkah ke depan. Ia berharap, akan lahirnya tokoh – tokoh Minang dengan diadakannya kegiatan ini.

“Karena orang Sumbar adalah pemikir – pemikir ulung, karena lebih sebagian negara ini didirikan diatas pemikiran orang – orang Minangkabau, maka itu jadilah beberapa diantaranya,” jelasnya.

Ia menambahkan, agar generasi sekarang generasi yang tidak lupa dengan sejarahnya, sebab banyak yang bisa gali di museum. Lalu, ia juga berencana akan mendirikan komunitas cinta museum dimana potensi di museum bisa di hidupkan kembali di tengah – tengah masyarakat.

Salah seorang peserta dalam lomba menulis tersebut, Sahrul Rahmat menjelaskan, ia mengangkat tema dalam mengikuti lomba ini adalah tentang bagaimana menjadikan museum ini sebagai candu bagi masyarakat.

“Kita juga mengajak masyarakat untuk peka terhadap kebudayaan mereka, dimana telah banyak kebudayaan kita yang luntur akibat masuknya budaya – budaya luar yang dapat merusak bangsa ini,” ungkapnya.

Dalam perlombaan yang diikuti oleh 30 peserta ini, namun yang lolos untuk dilakukan penilaian hanya 12 peserta.

Juri dalam lomba menulis tentang museum ini diantaranya, Yulizar Yunus, Pinto Janir, Zusneli Zubir, dimana para juri ini merupakan pemerhati budaya Minang dan juga seniman.

Penilaian yang dilakukan oleh para juri melalui beberapa tahapan yaitu, penilaian melalui sejauh mana penghayatan yang ditulis oleh peserta tentang museum ini, dan cara peserta dalam menyajikan ke dalam bentuk tulisan, baik pembahasan maupun pengetahuan. (ted)

 

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY