Gunung Marapi, Bukan ‘Merapi’

0
357
Gunung Singgalang dapat

Laporan: Septiadi Nefri

BANYAK orang yang salah dalam penyebutan nama gunung ini. Ada yang menyebut gunung ini dengan sebutan ‘Gunung Merapi’. Tapi nama yang benarnya adalah ‘Gunung Marapi’.
Hampir semua pecinta alam, terutama pendaki, pernah naik ke gunung api aktif ini. Letaknya strategis dan akses menuju pos registrasi di kaki gunung Marapi dapat dicapai dengan mudah menggunakan kendaraan.

img_8060

Gunung Marapi berada di antara Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Agam, dan Kotamadya Padangpanjang, namun secara administrasi Gunung Marapi berada dalam kawasan Kabupaten Agam.

Jalur pendakian yang biasa digunakan para pendaki adalah dari jalur Koto Baru, Padangpanjang. Sekitar dua jam perjalanan dari Kota Padang untuk sampai ke pos registrasi. Menuju pos registrasi kita akan melewati ladang penduduk sekitar. Di sepanjang pendakian kalau bertemu dengan pendaki lain kita harus saling menyapa dengan panggilan ‘Pak’ atau ‘Buk’, yang menjadi ciri khas pendaki Sumatra Barat.

img_8006

Setelah berjalan sekitar 45 menit, kita akan sampai di camp area Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Sesudah posko BKSDA, terdapat spot Parak Batuang (hutan bambu), lanjut ke spot berikutnya palang KM 4. Di sana terdapat tempat yang cocok untuk mendirikan tenda atau beristirahat karena areanya yang datar.

Sesudah itu, ada spot yang dinamakan dengan ‘Lubang Mancik’ karena jalurnya seperti lorong yang kiri kanannya merupakan gundukan tanah basah dan licin, apalagi di saat musim hujan. Pendaki harus berhati-hati melewati jalur ini. Tinggi gundukkan tanahnya kira-kira 170 cm.

Spot berikutnya adalah ‘Pintu Angin’. Di sini kita sudah mulai menginjak bebatuan cadas yang menandakan lokasinya sudah dekat dengan puncak gunung.

Apabila telah sampai di puncak gunung yang memiliki ketinggian 2891 mdpl, pendaki akan menemukan monumen yang dikelilingi rantai. Monumen tersebut dinamakan dengan Tugu Abel. Selain itu, pendaki akan disuguhi panorama yang menakjubkan dengan hamparan alam dengan ‘tiang-tiang alami’ berupa Gunung Singgalang dan Gunung Tandikek. Keduya gunung itu, bersama Gunung Marapi, posisinya saling berhadap-hadapan.

Di puncak Gunung Marapi terdapat spot yang dinamakan Lapangan Bola karena luasnya sekitar dua kali lapangan bola kaki yang penuh dengan pasir halus. Maju ke depan, maka akan dijumpai kawah besar yang masih aktif. Selepas kawah itu, terdapat dua puncak tertinggi di Gunung Marapi, yang dinamakan puncak Merpati dan puncak Garuda.

Melewati puncak, terdapat taman Bunga Edelweiss yang sangat indah dan begitu luas. Bunga Edelweiss merupakan flora khas puncak pegunungan. Bunga ini tidak bisa tumbuh di sembarang tempat. Meskipun bunga ini sangat menarik perhatian pendaki, tetapi para pendaki dilarang memetiknya karena keberadaannya yang sangat langka. Ini juga merupakan spot yang paling dicari para pendaki karena merupakan tempat ideal untuk melakukan foto selfie.

Di puncak, meski cuaca panas terik orang-orang tidak akan merasa kepanasan karena suhu di ketinggian yang cukup dingin. Namun ketika turun dari gunung, maka akan terjadi perubahan warna kulit yang mulai memerah atau bahkan mengelupas. Jadi, para pendaki jangan lupa mengutamakan keselamatan dan persiapkan fisik, mental, serta peralatan.
Yang terpenting, gunung bukanlah tempat sampah. Jadi, jangan lupa membawa sampah turun bersama kita. ‘Jangan mengambil apapun kecuali gambar, jangan meninggalkan apapun kecuali jejak, dan jangan membunuh apapun kecuali waktu’.  

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY