Grand Design Komplek Museum Mulai Disiapkan, Tim Penjemput Jasad Tan Malaka Berangkat 14 Januari

0
146
WAKIL Bupati Limapuluh Kota, Ferizal Ridwan, bersama para tokoh peduli perjuangan Tan Malaka, meninjau lokasi pembangunan komplek museum dan pustaka Tan Malaka di Nagari Pandam Gadang, Kecamatan Gunuang Omeh, kemarin. RIDHO MULDI PUTRA

LIMAPULUH KOTA, KP – Setelah dialog rencana pemindahan jasad Tan Malaka di STAIN Kediri beberapa waktu lalu, kini Pemkab Limapuluh Kota bersama YPP-PDRI, Tan Malaka Institute (TMI), dan Keselarasan Bungo Setangkai, mulai mengkaji rencana pembangunan komplek museum Tan Malaka di Nagari Pandam Gadang.

Bahkan, dalam waktu dekat, di samping menyusun rencana penjemputan jasad Tan Malaka dari Desa Selo Panggung, Kediri, ke Pandam Gadang, Limapuluh Kota, pemkab bersama sejumlah lembaga peduli sejarah Sumatra Barat sedang menyiapkan grand design atau maket pembangunan komplek Museum Tan Malaka.

Wakil Bupati Limapuluh Kota, Ferizal Ridwan, saat jumpa pers di Masjid Jami’ Komplek Museum Tan Malaka, kemarin, mengungkapkan rencana pemindahan jasad Tan Malaka sudah memasuki tahap pengurusan administrasi di Kementerian Sosial RI.

“Insyaallah, tim penjemputan akan dilepas secara adat di Pandam Gadang pada 14 Januari nanti, berkaitan dengan peringatan peristiwa Situjuah yang merupakan matarantai PDRI,” sebut Ferizal.

Menurutnya, penjemputan jasad Tan Malaka didasari keinginan pihak keluarga dan ahli waris karena Tan Malaka merupakan seorang pucuk adat dan raja pada Keselarasan Bungo Setangkai. Adapun secara syariat Islam, pemindahan jasad Tan Malaka dibolehkan karena tiga unsur, pertama, apabila belum diselenggarakan secara syariat Islam, kedua, tidak dimakamkan di tanah milik atau kekuasaannya, dan ketiga, untuk mencari kebenaran di atas sengketa.

Dalam prosesi tersebut, ulas Wabup, pemerintah daerah, pemerintahan nagari, bersama Keselarasan Bungo Setangkai dan lembaga peduli perjuangan Tan Malaka sudah menyiapkan panitia penjemputan. Menurut rencana, selepas penggalian makam, akan dilakukan kirab yang melalui 36 daerah yang pernah menjadi basis perjuangan Tan Malaka di Pulau Jawa dan Sumatra, mulai dari Kediri hingga Limapuluh Kota.

Ferizal mengajak seluruh unsur masyarakat dan para tokoh peduli ikut menyukseskan prosesi tersebut.

“Di samping pemindahan jasad Bapak Republik, tuntutan utama kita tetap pada satu niat, bahwa jasa dan pemikiran Tan Malaka tidak layak diikubur bersama jasadnya yang sudah mati. Kami selaku pemerintah daerah dan pengurus YPP-PDRI akan terus menuntut kompensasi, pengakuan kepahlawanan, dan pembangunan bagi daerah basis perjuangan beliau ke pemerintah pusat,” sebut Ferizal Ridwan.

Sementara, Direktur TMI Sumatera Barat, Yudilfan Habib Datuk Monti, menyebutkan kepedulian pemerintah dan masyarakat atas kiprah kepahlawanan dan pemikiran Tan Malaka mesti terus digelorakan sebagai upaya pelurusan sejarah.

Sebab, selain pengakuan Tan Malaka sebagai pahlawan nasional, Tan Malaka secara pendidikan juga belum diketahui secara mendalam oleh generasi bangsa.

“Padahal, pengaruh pemikiran Tan Malaka berhasil mengantarkan kemerdekaan bagi republik ini, termasuk lebih dari 19 negara dari penjajahan kolonialisme. Inilah yang harus kita gali dan pelajari sebagai referensi pengetahuan bagi pembangunan bangsa. Beliau bukan cuma pahlawan nasional tapi juga seorang pahlawan internasional,” tutur Habib.

Dia mengaku prihatin selama ini pemerintah terkesan acuh bahkan seperti sengaja meredupkan kiprah sejarah Tan Malaka. “Terbukti, belum adanya pemuatan materi pelajaran sejarah tentang kiprah dan perjalanan Tan Malaka baik dalam materi pendidikan muatan lokal atau di dalam mata pelajaran sejarah,” tukasnya.

Tahlilan Rutin di Komplek Tan Malaka
Menghangatnya perdebatan atas pemindahan jasad Tan Malaka belakangan ini menimbul- kan kecintaan masyarakat terhadap salah seorang tokoh pendiri republik asal Pandam Gadang itu. Para tokoh dan masyarakat di tanah kelahiran Tan Malaka mulai merasa memiliki sesepuh mereka yang merupakan seorang pucuk adat di Keselarasan Bungo Setangkai.

Walinagari Pandam Gadang, Khairul Apit, menyebutkan, masyarakat tiga nagari yang menjadi basis Keselarasan Bungo Setangkai, yakni nagari Pandam Gadang, Suliki, dan Kurai, mulai antusias berkunjung dan bergotong-royong memperbaiki komplek museum dan perpustakaan Tan Malaka yang berada di daerahnya.

“Bahkan setiap petang Kamis malam Jumat kita rutin menggelar tahlilan di Masjid Jami’ Tan Malaka,” ujarnya. (dho)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY