‘Niagara’ Koto Pulai, Makan Korban

0
449
TIM gabungan mengevakuasi jasad Aldo (23) yang hanyut saat mandi-mandi di Bendungan Koto Pulai, Kecamatan Koto Tangah, Padang, Selasa (3/1). Korban hanyut sehari sebelumnya, Senin (2/1), sekitar pukul 17.00 WIB. Lokasi bendungan yang menjadi objek wisata dadakan itu sebelumnya sudah dilarang untuk dikunjungi karena berbahaya.

PADANG, KP – Telah berulang-ulang Pemko Padang menyerukan bendungan Koto Pulai yang berada di Kecamatan Koto Tangah tidak dijadikan objek wisata dadakan lantaran kondisinya tidak aman. Namun, masih ada warga yang nekad dan tidak meng- indahkan seruan tersebut. Hingga akhirnya, bendungan Kotopulai yang berada di kawasan perbatasan Ikur koto dan Koto Pulai itu benar-benar ‘makan’ korban.

Seorang pemuda eks. mahasiswa STIE-AKBP Padang, Aldo (23), ditemukan tewas sekitar pukul 12.30 WIB, Selasa (3/1), di pinggiran Sungai Batang Kabung, Ganting. Sebelumnya, korban mandi-mandi di bendungan yang disebut-sebut menyerupai air terjun Niagara itu, Senin sore (2/1), sekira pukul 17.00 WIB bersama teman-temannya. Namun sesaat kemudian, teman-teman korban menyadari bahwa Aldo hilang. Kejadian itu menggegerkan pengunjung yang saat itu sedang ramai di lokasi tersebut. Tak lama kemudian, petugas gabungan TNI, polisi, PMI, dan tim SAR serta BPBD berdatangan ke lokasi melakukan pencarian.

Akan tetapi, cuaca yang tidak bersahabat karena hujan deras mengguyur membuat pencarian terhadap pemuda warga Komplek Griya Lestari Blok K/9 RT 05 RW 05, Kampung Jua, Kelurahan Batuang Taba, Kecamatan Lubuk Begalung, itu jadi terkendala dan pencarian sempat dihentikan.

Pada Selasa pagi, upaya pencarian kembali dilanjutkan hingga akhirnya petugas berhasil menemukan jasad korban beberapa kilometer dari lokasi hilangnya korban, tepatnya di Sungai Batang Kabung, Selasa siang. Jasad korban kemudian dievakuasi ke Rumah Sakit Bahayangkara menggunakan mobil ambulan PMI Kota Padang dan selanjutnya diserahkan kepada pihak keluarga untuk dikebumikan.

Wisuda November 2016 Lalu
Sementara itu, Ketua STIE, Riri Mayliza, dan Direktur AKBP, Lola Fitria Sari, mengungkapkan (alm) Aldo merupakan alumni AKBP-STIE ‘KBP’ yang telah wisuda pada Bulan November 2016 lalu. Menurutnya, pihak kampus tidak mengetahui kegiatan mahasiswa secara detail di luar kampus. Termasuk terhadap korban yang berstatus sebagai alumni. Sedangkan terhadap keempat teman korban pihaknya masih mencari tahu apakah berstatus mahasiswa di STIE AKBP atau tidak.

Perlu Diperbaiki Secepatnya
Bendungan Kotopulai memang tren dalam beberapa waktu belakangan sebagai obnjek wisata dadakan. Bendungan yang ambrol dihantam banjir bandang sekitar setahun silam itu membuat lokasi tersebut menyerupai air terjun Niagara. Sehingga, ramai dikunjungi warga.

Menyikapi hal tersebut, Pemko Padang berkali-kali mengeluarkan imbauan dan seruan yang melarang warga mengunjungi bendungan tersebut. Sebab, bendungan itu bukan objek wisata dan tidak aman. Bahkan, Walikota Padang, H. Mahyeldi, juga telah menyerukan agar warga tidak beraktifitas di lokasi bendungan tersebut.

Terkait kejadian yang merenggut korban jiwa itu, Walikota Mahyeldi berharap Balai Wilayah Sungai V segera memperbaiki bendungan tersebut. Sehingga, tidak jatuh lagi korban di lokasi itu.

“Dengan situasi dan kondisi bendungan seperti itu kita harapkan Balai Wilayah Sungai V segera memperbaikinya. Jika intensitas hujan tinggi, tentu akan lebih bahaya lagi. Kita ber- harap secepatnya dilakukan perbaikan,” kata Mahyeldi.

Menurutnya, sejak awal Pemko Padang tidak merekomendasikan lokasi tersebut sebagai kawasan wisata lantaran bendungan tersebut rusak akibat banjir bandang. Sehingga, cukup banyak besi dan beton yang yang membahayakan.

“Kita tidak merekomendasikan bendungan tersebut sebagai tempat mandi-mandi maupun untuk kunjungan wisata,” tegasnya.

Walikota menyampaikan turut berbelasungkawa atas meninggalnya (alm) Aldo yang terseret arus bendungan Koto Pulai itu.

“Atas nama Pemko Padang, kami turut berduka cita atas musibah ini. Semoga almarhum diterima di sisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan tabah menghadapi cobaan,” tutur Walikota Padang.

Diperbaiki dengan Anggaran Rp45 Miliar

Dengan kejadian itu, Balai Wilayah Sungai V kembali mengingatkan kepada masyarakat Kota Padang untuk tidak bermain-main pada reruntuhan Bendung Koto Pulai.

“Kami sudah peringatkan, mudah-mudahan kejadian ini jadi pelajaran untuk kita semua,” sebut Kepala Balai Wilayah Sungai Sumatera V, Faliansyah, didampingi Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Operasi dan Pemeliharaan II, Oki Syafrel, Selasa (3/1).

Menurutnya, bendungan yang selesai dibangun tahun 2001 itu saat ini dalam kondisi rusak berat. Bendungan itu rusak karena gempa 2009, ditambah banjir bandang yang beberapa kali melanda Batang Aie Dingin.

“Sekarang di bendungan tersebut terdapat lubang menganga di bawah air. Selain itu juga terdapat besi-besi runcing yang tidak beraturan terpapar di bawah arus air. Dengan itu, jika ada masyarakat yang bermain dan mandi-mandi di bendungan tersebut, dikawatirkan bisa terjatuh karena dorongan arus. Sehingga, sangat besar peluang menelan korban jiwa. Bentuk beton dan batu alam angat berbeda. Beton pecah itu lebih bahaya dari batu alam karena lebih runcing, apalagi ada besi-besi tajam,” ujarnya.

Dikatakannya, agar masyarakat mengetahui bahaya itu, BWSS V telah memasang papan peringatan. Selain itu juga memasang pita peringatan jangan mendekat.

Untuk penanggulangan kontruksi, BWSS V telah melakukan pengkajian guna perbaikan ke depan. Hasilnya, pengerjaan perbaikan dapat dilakukan pada anggaran 2017.

“Kita sudah anggarkan Rp45 miliar untuk perbaikan tahun ini. Nanti kita laksanakan dengan cepat,” tambahnya. (iwa/bob)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY