Makam Syech Adam BB di Antara ‘dua WC’

0
96
MAKAM Syech Adam BB, di antara dua WC penduduk dekat Masjid Jihad Padangpanjang.

PADANGPANJANG sampai kini kokoh mempertahankan dirinya sebagai kota perjuangan yang populer dengan julukan ‘Serambi Mekah’. Kota ini juga terkenal dengan lembaga pendidikan pesantrennya, seperti Pesantren Kauman Muhammadiyah, Thawalib, Diniyah Putri, dan Pesantren Serambi Mekah. Semua pesantren itu sudah melahirkan ribuan cendekiawan Islam yang tersebar di berbagai belahan dunia, terbanyak di Asia Tenggara.

CUCU Syech Adam BB, Mursida dan Farida.
CUCU Syech Adam BB, Mursida dan Farida.

Padangpanjang bukan hanya ternama dengan pesantrennya saja, tapi juga dengan masjidnya. Sebut saja di antaranya Masjid Jembatan Besi, Masjid Jihad, dan banyak lagi yang lainnya.

Kota yang terletak di lereng Gunung Merapi ini sampai kini tetap jadi kebanggaan Ranah Minang karena keistimewaannya melahirkan banyak cendekiawan Islam ternama. Salah satu di antara mereka adalah Syekh Adam BB, seorang pejuang kemerdekaan dan ulama berpengaruh yang terkenal dengan karyanya Masjid Jihad yang berada di tengah- tengah kota berhawa dingin ini.

Syech Adam BB adalah ulama besar yang turut mengangkat senjata melawan penjajahan Belanda dan Jepang. Beliau adalah ulama, parewa, pemberani, dan gagah berwibawa. Dia tampil sebagai imam jihad yang selalu memberi semangat pada jemaah dan umatnya untuk mengusir penjajah dari bumi pertiwi, khususnya di tanah Minangkabau.

Kehebatan Syech Adam BB dalam membangkitkan semangat jihad melalui pidato, khotbahnya, dan pendekatannya pada warganya bisa disamakan dengan tokoh India terkemuka, Mahatma Gandhi. Sehingga, Syech Adam BB dapat julukan ‘Gandhinya Kota Serambi Mekah’.

Begitu besarnya semangat Syech Adam BB menggelorakan semangat warga Padangpanjang melawan penjajahan Belanda dan Jepang. Sehingga, namanya diabadikan jadi nama jalan di kota tersebut, persisnya dari Simpang Balai-balai sampai Bancahlaweh.

Namun, ketokohan Syech Adam BB yang lahir tahun 1889 itu sepertinya tak lagi dikenang generasi masa kiini. Cucu Syech Adam BB bernama Mursida (68) menyebut sekarang kepahlawanan Syech Adam BB tidak begitu lagi jadi ‘kebanggaan’ keluarga.

“Kondisi makam kakek kami yang juga anggota veteran di dalam komplek Masjid Jihad yang dibangunnya sangat memprihatinkan. Lokasi makam itu sejak lama sudah berada antara dua WC rumah penduduk. Sangat tidak pantas,” ujarnya.

Problema yang benar-benar memprihatinkan keturunan Syech Adam BB itu disampaikan pada lembaga Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatra Barat, Rabu (11/1/2017) karena Syech Adam BB adalah salah satu sesepuh ulama jihad untuk kawasan Sumatra Barat.

Cucu Syech Adam BB, Mursida, yang saat ini sakit-sakitan, tak mampu naik ke lantai ll Masjid Nurul Iman di Padang, tempat MUI Sumbar berkantor. Sehingga, dia terpaksa diterima di jenjang lantai dasar masjid oleh penulis selaku Ketua Komisi Informasi dan Komunikasi MUI Sumbar, mewakili pengurus harian yang kebetulan sedang tidak ada di kantor.

Dengan panjang lebar, Mursida bersama kerabatnya, Farida, menuturkan kekecewaannya karena makam kakeknya berada dalam ‘kehinaan’ seakan-akan tidak dihargai kepahlawanannya.

Dikisahkannya, dulu di sekitar makam itu tidak ada rumah penduduk. Namun, entah siapa menjual tanah di samping makam itu, Mursida tidak mengetahuinya. Apakah ada surat jualbeli, atau ada sertifikat , juga tidak jelas olehnya. Namun, warga yang berumah di atas tanah itu, bersedia menjualnya dengan luas areal 44 meter persegi seharga Rp150 juta.

Masih menurut Mursida, Pemko Padangpanjang bersedia turun tangan membangun monumen di areal makam itu, tapi kesanggupan pemerintah memberi ganti rugi hanya Rp70 juta saja.

Sampai kini, pembangunan monumen itu masih dalam perencanaan. Pihak keluarga Syech Adam BB sangat bermohon agar MUI Sumbar mencari jalan keluar mengatasi problema makam ulama pejuang, Syech Adam BB itu.

“Problema yang memprihatinkan itu juga akan kami sampaikan pada Gubernur Sumbar dan pengurus veteran. Sebab, Syech Adam BB juga tercatat sebagai anggota veteran,” kata Mursida. (Adi Bermasa)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY