Sawahlunto Jadikan Kawasan Kota Tua Cagar Budaya Heritage

0
264
Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto. IST

SAWAHLUNTO, KP – Upaya Pemerintah Kota Sawahlunto untuk membangun citra kepariwisataan dengan menjadikan kawasan kota tua sebagai cagar budaya berbasis “heritage“ terus digencarkan. Hal ini tentunya akan berguna untuk menopang program pengembangan ekonomi masyarakat melalui sektor pariwisata.

“Area kota tua yang telah menjadi cagar budaya nasional seluas 89 Ha tersebut, banyak terdapat benda – benda bersejarah. Namun, berdasarkan kajian dan penelitian yang dilakukan pada tahun 2016, jumlah cagar budaya di Sawahlunto terdapat sebanyak 114, tetapi yang di keluarkan Surat Keputusannya (SK) oleh Walikota, baru 74 bangunan bersejarah,” ungkap Sekretaris Dinas Kebudayaan Peninggalan Sejarah dan Permuseuman Sawahlunto, Yendra Fitri R kepada KORAN PADANG, kemarin.

Dikatakan, kawasan tersebut adalah areal permukiman peninggalan penjajahan Belanda berabad -abad silam, dan bangunan serta tata ruangnya masih di pertahankan guna menjaga keasliannya.

Lebih lanjut Ia menjelaskan, pada tahun ini Dinas terkait akan menggelontorkan dana sebesar Rp5 miliar untuk merevitalisasi dan melengkapi fasilitas Museum Goedang Ransoem.

“Museum Goedang Ransoem ini nantinya tidak seperti museum pada umumnya, dimana dalam penataannya kami mencoba untuk mengembangkan konsep yang berbasis Informasi Tekhnologi (IT),” sebutnya.

Ia juga mengambarkan, di tahun 2018 nantinya akan membuat miniatur cagar budaya yang ada di kota itu lengkap dengan IT nya. Sehingga, pengunjung yang datang nantinya akan merasakan ia ada di zaman itu.

Disamping itu, guna menjaga cagar budaya Kota Sawahlunto, para pemuda setempat membentuk sebuah komunitas yang dinamai dengan Sawahlunto Heritage Community.
Salah seorang anggota komunitas, Yopie menuturkan, ia bersama rekan – rekannya terus berusaha untuk menjaga dan memantau kondisi cagar budaya yang ada. Hal ini tentunya adalah pengharapan agar cagar budaya Sawahlunto dapat di jaga kelestariannya serta di akui oleh UNESCO.

“Seperti yang terjadi saat ini, adanya salah seorang warga yang membuat bangunan di depan pintu Lubang Mbah Suro. Ini menjadi perhatian kami, dan nanti kami akan laporkan serta menyurati lembaga legislatif serta dinas terkait untuk menyikapi hal tersebut,” ungkapnya.

Ia menambahkan, untuk menjaga keaslian tersebut tentunya bukanlah pekerjaan mudah, namun hal ini perlunya kerjasama yang baik antara Pemko dengan masyarakat. Sebab, UNESCO melarang merobah bentuk bangunan dan jumlahnya, hal ini terutang dalam undang – undang No.11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya. (fad)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY