Pelajar Temukan Granat Aktif Sisa PRRI

0
120
Anggota Kepolisian Polres Pasaman Barat menjinakkan granat di Nagari Kapa setelah ditemukan masyarakat, Selasa (17/1). Granat aktif itu diduga sisa perang PRRI. JUNIR

SIMPANGEMPAT, KP – Seorang pelajar di Nagari Kapa, Kecamatan Luhak Nan Duo, Kabupaten Pasaman Barat, Ferry Irawan (15), menemukan sebuah granat tangan jenis nanas di dalam tanah perumahan milik Yusnaliati di Jorong Malasiro, Selasa (17/1).

Penemuan granat itu membuat warga sekitar terkejut karena takut granat tersebut meledak. Tak berapa lama kemudian, petugas kepolisian tiba di lokasi untuk mengamankan granat tersebut.

“Granat tangan itu berukuran 10 x 15 centimeter. Granat tersebut sudah kita amankan,” kata Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Pasaman Barat, AKBP Djoko Ananto, didampingi Kepala Satuan Intelkam, AKP Muzhendra, kemarin.

Menurutnya, granat itu ditemukan sekitar pukul 09.00 WIB ketika Ferry Irawan sedang menggali tanah timbunan bersama pamannya, Agus Prihatin. Saat menggali tanah itu, dia bersama pamannya terkejut melihat benda keras seperti granat yang sudah berkarat dilapisi tanah.

Melihat benda itu, dia bersama pamannya langsung melaporkan penemuan itu kepada pihak kepolisian. Setelah diperiksa ternyata memang benda keras itu ternyata adalah granat yang diduga masih aktif. Petugas Polres Pasbar berkoordinasi dengan Satuan Brimob Polda Sumbar langsung mengamankan lokasi itu dengan memasang police line.

Kapolres menjelaskan, dari pemeriksaan awal dan hasil analisa, granat tersebut diduga peninggalan zaman perang PRRI karena lokasi penemuan itu merupakan bekas kantor PRRI.

“Diperkirakan granat tersebut sudah ber- usia puluhan tahun namun aktif karena masih ada sumbu ataupeledaknya. Saat ini granat tersebut sudah diamankan,” jelasnya.

Sekadar diketahui, perang PRRI merupakan ‘perang saudara’ antara Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dengan pemerintah pusat (Jakarta). PRRI didekla rasikan pada 15 Februari 1958 dengan keluarnya ultimatum dari Dewan Perjuangan yang dipimpin Letnan Kolonel Ahmad Husein di Padang. Gerakan itu mendapat sambutan dari wilayah Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah, di mana pada tanggal 17 Februari 1958 ka- wasan tersebut menyatakan mendukung gerakan PRRI.

Konflik yang terjadi itu dipengaruhi oleh tuntutan daerah terhadap keinginan otonomi daerah yang lebih luas. Selain itu, ultimatum yang dideklarasikan tersebut bukan tuntutan pembentukan negara baru maupun pemberontakan, tetapi lebih merupakan protes mengenai bagaimana konstitusi dijalankan.

Bagaimanapun, pertentangan itu dianggap sebagai sebuah pemberontakan oleh pemerintah pusat yang menganggap ultimatum itu merupakan proklamasi pemerintahan tandingan dan kemudian ditumpas dengan pengerahan kekuatan militer terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah militer Indonesia.

Semua tokoh PRRI adalah para pejuang kemerdekaan, pendiri, dan pembela NKRI. Sebagaimana ditegaskan Ahmad Husein dalam rapat Penguasa Militer di Istana Negara April 1957, Landasan perjuangan daerah tetap untuk menyelamatkan Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta. (nir)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY