Ketika Gadis Kembar Itu Jatuh Ke Pelukan Pria Beristri (Bagian 3)

0
231
si kembar Mawar dan Melati. DODDY

Menabur Cinta, Menuai Badai

Laporan Doddy Sastra

SATU PEKAN berada di Kota Pekanbaru, Riau, dua gadis kembar yang dibawa kabur dua pria beristri itu tinggal di tempat usaha peternakan ikan dan sekaligus bekerja sebagai pemberi pakan ikan. Namun, tak betah bekerja sebagai buruh di peternakan ikan tersebut, Syaiful dan Rika Media Putra mengajak Mawar dan Melati melanglang buana ke Kota Duri, masih di Provinsi Riau.

Menurut penuturan Mawar dan Melati, di Kota Duri mereka tinggal di rumah seorang kenalannya di kawasan Pingir. Namun, empat hari berada di rumah kenalannya itu dan atas bantuan kenalan tersebut, mereka pindah dan menyewa rumah petak kontrakan.

Bang Ipul, demikian Mawar memanggil Syaipul yang telah memperistrinya lewat prosesi nikah di bawah tangan melalui walinikah tak resmi itu, tinggal disebuah rumah kontrakan. Sedangkan Melati bersama Rika Media Putra yang telah menjadi suami tak resminya itu, tinggal di rumah kontrakan lain. Tapi, rumah kontrakan tersebut jaraknya tidak terlalu jauh. Sehingga mereka masih bisa bersama-sama.

Dua gadis kembar yang ‘dipulun’ badai asmara itu mengakui selama tinggal di Duri mereka hidup layaknya sepasang suami-istri, meski kenyataannya hidup di rumah kontrakan tak memiliki apa-apa, kecuali tidur beralas kasur santai dan beberapa alat rumah tangga apa adanya.

Modal utama untuk mengelabui orang atau tetangga jika ingin menyelidiki hubungan mereka, ungkap Mawar dan Melati, adalaah surat nikah palsu yang berhasil diperolehnya dari per- nikahan tidak resmi dari walinikah di Tampan, Riau. ‘Surat Nikah’ itu menjadi ‘senjata’ untuk menutupi pelarian mereka.

Hebatnya, untuk mengelabui walinikah ter- sebut, umur Mawar dan Melati dipalsukan. Mawar diakui berumur 18 tahun, demikian pula Melati diakui berumur 18 tahun.

“Ketika berada di Duri, kami bekerja di sebuah tempat usaha percetakan batu bata. Sungguh, walaupun saat itu mulai merasakan berat dan pahitnya kehidupan, karena bekerja sebagai kuli pencetak batu bata, namun apa boleh buat nasi telah menjadi bubur. Ini adalah resiko gejolak cinta buta yang membuat kami harus pasrah menuai badai,” ungkap Mawar dan Melati yang mengaku mulai merindukan kedua orangtuanya, adik, serta masa-masa indah bersama teman-teman sekolahnya.

Mawar dan Melati mengatakan selama berada di Duri, pada minggu pertama mereka hidup bahagia. Namun memasuki bulan pertama dan kedua, Syaiful dan Rika Media Putra mulai berkata-kata kasar. Bahkan, ketika Mawar menegur Syaiful karena sering minum tuak, pria itu berani melontarkan kalimat-kalimat kasar dan menyatakan, “jaan kau atur-atur pulo iduik den lai,” bentak Syaiful seperti diungkapkan Mawar.

Mendapat perlakukan kasar dari pria tersebut, Mawar dan Melati mengaku ingin pulang ke rumah orangtuanya. “ Namun apa daya, jalan pulang tidak tahu. Akhirnya kami pasrah menerima kenyataan hidup yang mulai terasa pahit,” ujar Mawar dan Melati merasakan penyesalan.

Mereka mengakui, dua setengah bulan berada di Duri, hidup mereka mulai terasa susah. Tak tahan menderita, akhirnya Rika mengajak Melati pindah ke Pasir Putih, Pekanbaru, dan beberepa hari kemudian memutuskan pergi ke Pasir Pangaraian, Ujung Batu, Kabupaten Kampar.

Menurut Mawar, itulah pertama kali dia harus berpisah dengan adik kembarnya Melati, yang memilih pindah ke Pasir Pangiraian, Ujung Batu, Kampar. Beberapa hari setelah Melati dan Rika pindah ke Pasir Putih, Syaiful mengajak Mawar pindah ke Kabupaten Dharmasraya.

Hanya empat hari berada di Simpang Tiga, Jorong Beringin, Kenagarian Taratak Tinggi, Kecamatan Timpeh, Kabupaten Dharmasraya, anggota Satreskrim Polres Payakumbuh menangkap Syaiful bersama Mawar, Jumat (6/1).

Saat ini, pria beristri yang sudah memiliki seorang anak dengan wanita lain itu harus mendekam di balik jeruji besi Polres Payakumbuh dengan tuduhan telah melarikan anak di bawah umur serta melakukan tindakan pidana pencabulan terhadap korban.

Beberapa hari setelah Syaiful dan Mawar ditangkap, Rabu (11/1), pihak Satreskrim Polres Payakumbuh juga berhasil menangkap Rika Media Putra bersama Melati di tempat pelariannya di Desa Pasir Jaya, Kecamatan Rambah Hilir, Kabupaten Rokan Hulu, Riau.

Kedua pria beristri perusak masa depan kedua gadis kembar yang masih di bawah umur itu terancam hukuman berat dengan tuntutan pasal berlapis dengan ancaman hukuman sekitar 15 tahun penjara.

Lantas, bagaimana akhir dari kisah kelam kedua gadis kembar ini setelah petualangan cinta buta mereka berhasil dipadamkan penegak hukum? Jawabnya, simak episode terakhir dari kisah memilukan ini pada edisi besok. Catatan akhir dari sekelumit kisah pahit ini mungkin dapat dijadikan pelajaran bagi orangtua yang memiliki anak gadis yang berjiwa labil dan gampang terpengaruh oleh bujuk rayu yang akhirnya akan menjerumuskan mereka ke sisi kelam dunia nan penuh noda. (bersambung)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY