Makam Korban Aborsi, Dibongkar

0
640
Ilustrasi

PADANG, KP – Untuk mengungkap kasus aborsi yang menewaskan perempuan berparas cantik, Hesty Reza Mustiningsih (23), Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskimum) Polda Sumbar melakukan pembongkaran terhadap makam korban, Selasa (31/1). Hal itu untuk melengkapi bukti-bukti penyidikan kasus tersebut. Dalam kasus itu, polisi menetapkan kekasih korban M (32) dan karyawan sebuah rumah sakit di Bukittinggi, MC (35), sebagai tersangka.

Pembongkaran makam karyawati perusahaan rokok PT HMS cabang Bukittinggi itu dilakukan atas izin keluarga, di kawasan Balai Baru, Kecamatan Kuranji, Kota Padang.

“Pembongkaran sudah atas izin keluarga. Sebab, keluarga berharap kasus tersebut segera terungkap. Setelah makam dibongkar, kemudian dilakukan otopsi terhadap jenazah korban,” terang Direktur Reserse (Dirres) Umum Polda Sumbar, Kombes Pol Erdi Adrimulan Chaniago.

Menurutnya, otopsi dilakukan guna mencari tahu jenis kandungan obat yang dipakai korban untuk menggugurkan kandungan.

Dari pembongkaran makam itu, sejumlah sample organ tubuh bagian dalam korban dibawa ke laboratorium untuk diteliti.

“Kami lakukan penelitian terhadap sample terlebih dahulu. Sehingga, jenis obat yang dikomsumsi korban sebelum meninggal dapat diketahui,” tambahnya.

Namun, pihaknya belum bisa memberikan keterangan terkait hasil otopsi. Sebab, hasil sample dari tubuh korban dibawa ke laboratorium di Kota Medan, Sumatra Utara, untuk dilakukan penelitian.

“Kita tunggu dulu setelah selesai diteliti dan hasilnya keluar dari laboratorium,” cetusnya.
Sementara, Kabid Humas Polda Sumbar, AKBP Syamsi, menambahkan sejauh ini pihak kepolisian telah memeriksa 21 saksi, termasuk dari pihak Rumah Sakit Umum Adnaan WD, Payakumbuh.

“Saksi sebanyak 21orang itu telah kami periksa. Sekarang kami masih menunggu hasil outopsi jenazah untuk dilakukan penyidikan lebih lanjut,” terangnya.

Diberitakan sebelumnya, peristiwa itu bermula sekitar bulan September 2016. Saat itu tersangka M berkenalan dengan korban yang satu tempat kerja dan akhirnya mereka berpacaran. Semasa berpacaran keduanya melakukan hubungan tanpa ikatan pernikahan dan mengakibatnya korban diperkirakan hamil 5 bulan.

Lantaran keduanya tidak siap melangsungkan pernikahan, korban dan tersangka sepakat menggugurkan kandungannya. Mereka mencari cara aborsi dengan membrowsing di internet dan mendapatkan informasi obat untuk menggugurkan kandungan.

Tersangka kemudian meminta kepada temannya yang bekerja di sebuah rumah sakit di Bukittinggi, MC, membeli obat merek G sebanyak 3 kali .

Tanpa sepengetahuan kedua orangtua korban, tersangka membawa Hesty berobat ke salah satu bidan di Bukittinggi. Karena kondisi Hesty sudah mulai lemas, bidan menyarankan korban berobat ke rumah sakit bersalin.

Setelah diperiksa oleh dokter pada salah satu klinik di Bukittinggi, korban disa- rankan untuk melakukan kuret lantaran kondisi kandungan korban tidak bersih. Namun korban tidak bersedia diambil tindakan medis.

Pada 4 Januari 2017, di rumah salah seorang saksi yang merupakan kerabat M, korban mengalami kejang-kejang tidak sadarkan diri. Namun, alih-alih dibawa ke rumah sakit, korban justru dibawa ke rumah ‘orang pintar’ karena diduga kerasukan. Setibanya di rumah tersebut, kondisi korban tidak sa- darkan diri dan dilarikan ke rumah sakit Adnaan WD, Payakumbuh. Namun pihak rumah sakit menyatakan bahwa korban telah meninggal dunia.

Ayah korban, Nofrizal, karena merasa kematian anaknya sedikit janggal, melakukan kroscek ke klinik di Bukittinggi dan diperoleh informasi bahwa anaknya dalam keadaan hamil. Merasa tidak senang, Nofrizal langsung melaporkan kasus tersebut ke SPKT Polda Sumbar.

Tersangka dikenakan Pasal 347 KUHP atau 348 KUHP atau Pasal 349 KUHP atau Pasal 299 KUHP jo Pasal 75 (1) dan ayat (2) jo Pasal 194 Undang – Undang Kesehatan No. 36 Tahun 2009. (iwa)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY