Rizanto Algamar: Pengelolaan Agrowisata Masih Setengah Hati

0
100
Ilustrasi

PADANG, KP – Pengelolaan agrowisata perlu perencanaan yang matang, dan tidak bisa setengah hati agar mencapai sasaran yang sudah ditetapkan sejak awal.

Hal tersebut disampaikan Anggota DPRD Sumbar dari Fraksi PDI-P, Rizanto Algamar kepada wartawan ditemui digedung DPRD Sumbar, Selasa (31/1).

Ia mengatakan, membuat program memang harus konsisten jangan hanya membuat program tapi tidak direncanakan dengan matang. “Membuat program itu harus sampai-sampai, ini baru saja dibuat anggaran sudah dipotong sehingga tidak mencapai sasaran,” ujarnya.

Sumbangungnya, pemotongan anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) tidak bisa dipukul rata, karena kebutuhan dan permasalahannya berbeda. Ada sejumlah program yang harus diprioritaskan, apalagi untuk pengembangan pariwisata Sumbar ke depannya.

Menurutnya, agrowisata Lubuk Minturun (Lumin) berada di tempat yang strategis dan lokasinya yang nyaman serta berpotensi untuk mengembangkan seperti yang telah dibuat di daerah lain misalnya seperti, di Taman Wisata Mekarsari di Jawa Barat (Jabar).

“Konsep agrowisata ini sangat diminati saat ini, apalagi para pengunjung dapat belajar sekaligus menikmati hasilnya langsung,” ulasnya.

Masyarakat Sumbar khususnya Padang, sangat membutuhkan tempat-tempat rekreasi seperti ini, apalagi mereka dapat membawa semua anggota keluarga berkunjung sekaligus memberikan pelajaran bagi anak-anak bagaimana mencintai dan mengenal berbagai tumbuhan. Apakah itu buah-buahan, sayuran, maupun tumbuhan obat-obatan.

“Namun kondisi kini cukup memprihatinkan. Agrowisata Lumin memang tidak terurus, seharusnya keberadaan agrowisata itu dimanfaatkan dan dikelola dengan maksimal oleh pihak-pihak yang terlibat di dalamnya.

Lebih lanjut dijelaskannya, agrowisata ini salah satu objek kunjungan unggulan, dan dapat menjadi percontohan untuk daerah lainnya yang ada di Sumbar. Namun yang ia lihat saat ini hanya pertanian yang banyak bergerak di agrowisata Lumin tersebut, sementara kehutanan dan yang lainnya tidak begitu nampak berperan disana.

Untuk mengembangkan wisata di Sumbar banyak hal yang bisa dikembangakan, salah satunya dengan melestarikan kembali tanaman yang berkaitan dengan sejarah dan budaya minangkabau.

Misalnya saja, ia sudah pernah meminta pada Dinas Kehutanan untuk menyediakan bibit batang andaleh (kayu yang dipakai untuk tiang-tiang rumah tua seperti rumah adat dan masjid). Kayu ini hanya ada di dua provinsi di Indonesia yakni di Jabar dan Sumbar.

Disamping itu, pelestarian Batang Andaleh ini adalah salah satu tugas sejarah yang menjadi ikon Sumbar untuk dibudidayakan. “Ini adalah kayu yang sangat keras, kenapa tidak kita coba budidayakan. Kayu ini juga mahal, dan saya juga melihat sudah mulai dibudidayakan di Unand. Artinya, untuk membudidayakannya tidak begitu sudah. Kayu ini juga berkaitan dengan sejarah dan budaya di Sumbar,” ujarnya.

Dari pantauan sebelumnya di Agrowisata Lumin, tampak sejumlah tanaman tidak terawat dengan baik, dan banyak tanaman yang tidak berbuah. Meskipun ada sejumlah tanaman yang berbuah, tapi buahnya tidak sempurna banyak yang busuk. Seperti yang tampak, buah labu siam, jambu biji, cabai, markisa, dan sejumlah tanaman lainnya.

Diketahui, agrowisata Lumin memiliki luas 9,5 hektar hanya dikelola empat orang tenaga kebersihan, dan ditambah dengan dua orang tenaga honorer. Lahan seluas ini hanya dominan dikelola oleh Dinas Pertanian, sementara bagian Dinas Perkebunan dan Dinas Kehutanan tidak begitu terawat. (bob)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY