Developer Perumahan Diamankan, Para Korban ‘Ngadu’ Ke LBH Padang

0
353
Ilustrasi

PADANG,KP – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang berpendapat, kasus yang dialami ratusan client yang diduga tertipu oleh developer perumahan Aliana yang terletak di kawasan Rindang Alam, Kelurahan Kapolo Koto, Kecamatan Pauh tersebut memiliki dua aspek hukum dan LBH meminta Pihak Kepolisian agar dapat megambil langkah tegas.

Hal itu diungkapkan Koordinator Divisi Hak Asasi Manusia (HAM) LBH Padang, Wendra Rona Putra saat menerima pengaduan beberapa perwakilam korban ke Kantor LBH Padang di Jalan  Pekanbaru No 21, Kelurahan Ulak Karang, Kecamatan Padang Utara, Senin (5/6).

“Kasus ini awalnya sudah dilaporkan di Polsek Kuranji dan akhirnya dilimpahkan di Polresta Padang, menurut saya itu tepat karena konteks kasus ini cukup berat apalagi yang menjadi korban cukup banyak dan nominal kerugian lumayan besar. Namun kita akan mengawal proses kasus ini agar pihak kepolisian profesional dan memastikan tidak terjadinya korban baru,” jelasnya.

Wendra Rona Putra juga meminta, pihak Kepolisian agar dapat mengambil langkah tegas untuk mengidentifikasi dan menimalisir oknum perusahan yang melakukan teror terhadap korban untuk mencabut laporan. Karena, imbuhnya, dari keterangan beberapa korban mendapat ancaman untuk melakukan hal tersebut.

“Menurut saya Polisi segera mengambil langkah tegas dengan melacak serta mengindetifikasi oknum perusahan itu. Bahkan kalau dapat menghentikan operasional perusahan agar tidak munculnya korban baru yang lebih banyak,” ulasnya.

Wendra Rona Putra menjelaskan, dari kasus yang dialami belasan client perusahaan perumahan tersebut jelas memiliki aspek  hukum pidana karena adanya indikasi kuat penipuan dengan mengiming – imingkan korban untuk membayar cicilan dengan harga murah dan akan dibangun perumahan komplek.

“Tapi nyatanya, setelah korban melunasi cicilan enam bulannya tidak kunjung dibangun dan bahkan perusahaan perumahan itu tidak jelas karena status tanah setelah diselidiki bersengketa. Selain itu, posisi perusahaan tersebut ditenggarai bodong karena tidak memiliki akte pendirian dan tidak terdaftar di Kementrian Hukam dan Ham,” bebernya.

Lebihlanjut dijelaskan Wendra Rona Putra, perusahaan perumahaan tersebut juga melakukan ingkar janji kepada para korban terkait proses pengembalian uang cicilan.

“Katanya (perusahan) apabila korban ingin membatalkan dalam pengambil salah satu rumah, semua uang cicilan akan dikembalikan, tapi dalam kenyataannya sampai sekarang tidak kunjung ada. Terakhir dijanjikan pada  bulan Mei lalu namun perusahaan tetap tidak membayar,” katanya.

Dilanjutkanya, saat ini LBH Padang masih mengumpulkan materi bahan terkait pedampingan terhadap kasus tersebut. Karena, imbuhnya, total nasabah mencapai 365 orang yang merasa dirugikan baru terindikasi hanya 100 orang.

“Kita meminta untuk korban agar yang merasa tertipu dapat berkoordinasi satu sama lain dan mengumpukan data agar nanti kita tidak melakukan proses hukum yang berulang. Sehingga, kita dari LBH juga dapat mempersiapkan tindakan selanjutnya yang cepat dan tepat,”

Sementara, menurut salah satu korban Fitri Wulandari mengatakan, dirinya telah membayar ansuran cicilan sebanyak enam kali sebesar Rp600 Ribu. Bahkan, sesuai permintaan perusahaan juga wajib mambayar uang notaris sebesar Rp2 Juta.

“Karena tidak kunjung kepastian itu beberapa client mudur dan kata dia (penaggung jawab perusahaan) bagi yang mundur akan dikembalikan uang tersebut namun tidak kunjung ada dan uang saya tidak kembali. Maka itu kami sebagai korban yang merasa tertipu tidak terima dan menyelesaikan kasus ini ke pihak kepolsian,” katanya.

Kapolresta Padang Kombes Pol Chairul Aziz melalui Kasat Reskim, Kompol Daeng Rahman mengungkapan, pihaknya telah menerima limpahan berkas kasus dugaan penipuan yang dilakukan oleh developer perumahan tersebut. Hingga kini, kasus itu masih dalam proses penyelidikan lebih lanjutdan satu orang telah diamankan.

“Hari Jumat lalu (2/5) kita telah menerima limpahan kasus itu dari Polsek Kuranji dan telah kita proses. Bahkan satu orang telah kita amankan bernama Dewi Astuti yang bertanggung jawab di perusahaan itu. Untuk pelaku telah dititipkan dan ditahan di sel tahanan Polsek Padang Timur karena hanya di sana ada tahanan perempuan,” pungkas Daeng Rahman. (Irwanda Saputra)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY