Maraknya Pembuangan Bayi di Kota Padang, Berikut Penjelasan Psikolog

0
86

Laporan: Irwanda Saputra

Kasus pembuangan bayi baru-baru ini menjadi marak terjadi di Kota Padang. Dalam kurung waktu belakangan, terdapat dua kasus pembuang bayi yang ditemukan di dua lokasi berbeda.

Salah satu lokasi penemuan bayi yang sangat menyayat hati seperti yang ditemukan di lingkungan kampus Universitas Andalas (Unand) Kota Padang. Saat itu, bayi malang itu sangat memprihatinkan dengan dibungkus oleh sebuah tas dan kondisi tidak bernyawa.

Di lokasi lain masih di Kota Padang, beberapa hari yang lalu penemuan bayi kembali terjadi di salah satu Masjid. Kali ini, bayi tidak berdosa ditemukan diatas kotak infak dibungkus dengan kardus minyak goreng. Beruntung, saat itu si bayi masih dalam kondisi hidup dan sehat.

Maraknya pembuang bayi di Kota Padang ini membuat Psikolog Yuni Ushi Johan angkat bicara. Menurutnya, ada beberapa faktor pemicu hingga seseorang nekad membuang bayi yang merupakan darah daging mereka (orangtua) sendiri.

“Seseorang nekad membuang bayi dikarenakan bayi itu tidak diharapkan oleh orangtuanya. Dalam arti kata, orangtua bayi telah hamil di luar nikah dan belum siap memiliki seorang anak. Selain itu, karena faktor ekonomi. Tapi, pada umumnya kebanyakan pemicunya karena si bayi ini tidak diharapkan,” terang Yuni Ushi Johan kepada KORAN PADANG.

Dijelaskannya, sebenarnya orangtua bayi tidak mau membunuh atau membuang bayi tersebut asalkan kedua pasangan tersebut bertanggung jawab. Namun, kebanyak pasangan tidak demikian dan memutuskan untuk nekad melakukan hal yang keji itu.

“Kebanyakan laki-laki yang tidak bertanggung – jawab dan mengakibatkan ibu dari si bayi kehilangan akal dan buntu pikiran, sehingga tidak tahu harus mengadu kemana untuk menutup permasalahan yang dialaminya. Anggap saja misalkan mengadu ke orangtua, pasti akan dimarahi atau tidak diizinkan menikah dengan laki-laki tersebut,” ulasnya.

Dengan demikian, Yuni Ushi Johan menambahkan, pada akhirnya orangtua bayi nekad mengorbankan dirinya dan mengakibatkan berani  membuang atau membunuh calon manusia baru yang telah dilahirkannya. Hal itu, diakibatkan pikiran orangtua yang telah sempit.

Terkait dengan dampak orangtua yang telah nekad membuang anaknya, Yuni Ushi Johan membeberkan, memiliki kepribadian yang tertutup dan berada di kondisi yang tidak tenang. Selain itu, juga tidak mampu beraktivitas karena memiliki rasa malu yang luar biasa.

“Mereka (orangtua) akan cemas, gelisah dan takut bertemu dengan orang-orang baru. Karena, setiap bertemu dengan orang baru pasti akan berfikir orang tersebut mengetahui masa lalunya yang kelam. Ini yang mengakibatkan orangtua itu memiliki kepribadian tertutup,” katanya sembari menyebutkan orangtua tersebut juga memiliki emosi yang tidak stabil.

Pentingnya Peran Orangtua Asuh

Lebih lanjut Yuni Ushi Johan menjelaskan, dampak dari bayi yang dibuang oleh orangtuanya dan dibesarkan oleh seseorang (orangtua asuh) tergantung terhadap lingkungan sekitarnya. Apabila si bayi tumbuh dewasa di lingkungan yang baik, beretika dan memiliki sopan santun pasti akan menjadi anak yang baik pula.

“Yang jelas si bayi tidak berdosa dan bersalah, bahkan tidak akan menanggung dosa kedua orangtuanya. Dia terlahir fitrah, dia adalah korban akibat kontrol nafsu orangtuanya. Maka itu, apabila si bayi hidup di lingkungan yang baik, etika dan sopan santun pasti akan menjadi anak yang baik,” tambahnya.

Namun, Yuni Ushi Johan mengungkapkan, jika anak tersebut hidup di lingkungan yang buruk maka akan mengikuti hal buruk juga. Hal ini, katanya, akan berdampak terhadap anak itu tidak bisa mengeluarkan potensi yang dimiliki.

“Kalau dapat anak ini hidup di lingkungan yang penuh kasih sayang serta penuh dengan cinta kasih, maka akan memiliki kepribadian yang percaya diri. Menjadikan dia orang yang mampu berfikir jernih terhadap pengalaman masa lalunya dan tidak pedendam,” jelasnya.

Harus Mengetahui Masa Lalu

Sementara, terkait anak yang menjadi korban kasus pembuangan bayi, Yuni Ushi Johan menegaskan, anak tersebut harus mengetahui masa lalunya sebelum mememilih pasangan hidup (menikah). Sebab, seorang anak harus tahu asal bibit dan bobot serta ibu kandungnya.

“Masalah dia mau kembali dan bertemu sama ibu kandungnya atau tidak itu haknya. Tapi tetap, sebagai orangtua pengasuh harus tetap memberi tahu pengalaman masa lalu si anak. Dia harus tau asal orangtuanya dan dia berasal darimana, ini sikologisnya,” tegas Yuni Ushi Johan.

Diungkapakannya, hubungan batin seorang anak dan ibu kandung tidak akan bisa dipisahkan. Namun, imbuhnya, untuk ketahap itu anak tersebut harus dipersiapkan metal dan mampu menerima keadaan dan kenyataan.

“Jangan sampai menjadikan dia semakin terpuruk. Sebenarnya tugas orangtua asuh jauh lebih berat, karena orangtua asuh harus tahu karakter si anak dan mempersiapkan metal dan agamanya. Apabila ingin menceritakan masa lalu si anak pancing dia seperti mengajak menonton sinetron yang sama dengan kisahnya dan tanya tanggapannya” pesan Yuni Ushi Johan.

Yuni Ushi Johan menambahkan, misalkan anak tersebut marah terhadap adegan di sinetron itu biarkan dia meluapkan emosinya setelah itu baru ceritakan bahwa kisah tersebut sama apa yang dialami olehnya. Dikatakannya, ketika kita memposisikan diri, biasanya ana-anak akan menerimanya.

“Artinya begini, rumah adalah tempat tumbuh kembang anak yang lebih baik. Tumbuh kembang anak yang baik bukan di tampat mereka nongkrong atau bermain, tapi rumah tempat dia besar dan dididik dengan  penuh kasih sayanglah yang tepat. Orangtua itu, merupakan dokter psikolog yang terbaik untuk si anak,” tutup Yuni Ushi Johan

Menunggu Orangtua Asuh

Terpisah, Kepala Rumah Sakit (Karumkit) Bhayangkara Polda Sumbar, Kompol dr. Tasrif mengatakan, bayi yang ditemukan di kawasan Masjid selanjutnya pihaknya sepenuhnya melakukan perawatan. Untuk kondisi bayi, masih dalam pengawasan dengan keadaan normal dan sehat.

“Bayi ini membutuhkan perawatan dan kita sepenuhnya melakukan hal itu, baik dari kesehatannya maupun dari segi apa yang dibutuhkan bayi seperti susu dan pakaiannya. Saat ini, bayi itu kita rawat di ruangan intesif anak,” jelas Karumkit kepada KORAN PADANG.

dr. Tasrif menambahkan, terkait nama bayi, sampai saat ini pihaknya masih belum memberi nama yang tepat terhadap bayi malang tersebut. Hingga kini, Rumah Sakit Bhayangkara masih menunggu proses calon orangtua asuh terhadap bayi itu.

“Sesuai prosedur yang kami laksanakan, penyidik akan berkoordinasi dengan Dinas Sosial Provinsi Sumbar. Kemudian, akan ditindak lanjuti oleh dinas tersebut dan akan melakukan proses pencarian calon orangtua asuh,” ulasnya.

Terkait perawatan yang dilakukan pihak Rumah Sakit Bhayangkara Polda Sumbar, hingga kini belum bisa memastikan kapan bayi tersebut berakhir dilakukan perawatan. Namun, jika bayi itu sudah keluar dari ruang perawatan akan dikembalikan kepada penyidik.

“Tugas penyidik inilah yang akan berkoordinasi dengan Dinas Sosial. Kita harapkan secepatnya dapat mencari orangtua asuh terhadap bayi malang ini, sehingga masa depannya dapat terjamin dan bayi ini tumbuh dengan sehat,” pungkas dr. Tasrif. (*)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY