Ketika Direktur VIVA Media Group Bicara Tantangan Media Nasional

0
118
PADANG, KP – Tantangan yang dihadapi media nasional akhir-akhir ini mengalami deflasi yang cukup besar, dan situasi ini di Indonesia akan terus berlanjut. Penurunan ini, dipengaruhi dua faktor penekan seperti tekanan globalisasi yang didominasi dari sisi pengiklan, dan tekanan disrupsi teknologi melalui perubahan platform digital.
Hal itu diungkapkan Presiden Direktur VIVA Media Group, Anindya Novyan Bakrie saat menjadi salah satu pembicara dalam rangkaian peringatan Hari Pers Nasional (HPN) di Hotel Grand Inna Padang, Kamis (8/2).
“Sebagai gambaran deflasi yang terjadi karena globalisasi dipimpin oleh media agency yang bersatu. Pendapatan media di seluruh Indonesia pertahunnya itu kira-kira Rp15 triliun. Nah, salah satu media agency terbesar di dunia itu kira-kira pendapatannya setahun US$20 miliar (per tahun),” terangnya.
Ditambahkannya, dari sisi sumber daya manusia (SDM), jumlah pekerja media agency tersebut berjumlah 205 ribu orang, setidaknya sama jumlahnya dengan pekerja media di Indonesia, paling tidak di industri televisi. Kondisi ini, imbuhnya, membuat posisi media agency bersatu memiliki daya tawar lebih kuat dari pemain di media nasional.
“Ini satu yang belum terlalu banyak disoroti, tapi akan saya bawa untuk diskusi sedikit,” ulasnya.
Berbicara media sepuluh tahun lalu, Anindya Novyan Bakrie menjelaskan, media massa merupakan bisnis seksi karena menyentuh konsumsi domestik Indonesia. Media juga dikatakan akan terus berkembang karena ekonomi saat itu stabil.
“Demografinya bagus, 80 persennya dihuni kelas menengah dan 2/3-nya dihuni generasi milenial atau generasi Z yang di bawahnya. Tapi, jika dilihat Adex (belanja iklan) per PDB-nya, Indonesia masih tertinggal dengan negara ASEAN lainnya, seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura,” bebernya.
“Itu menjadi tanda tanya. Seolah-olah orang mengatakan ‘wah ini artinya kesempatannya luar biasa’. Tapi ternyata karena ada tekanan itu tadi, membuat pengiklan memiliki kekuatan yang lebih besar dari pemilik media,” sambungnya.
Lebih lanjut, Anindya Novyan Bakrie menekankan, adalah disrupsi teknologi yang ditandai masuknya platform baru, di mana pemain-pemain asing masuk dan bersaing. Karena menurutnya, tidak sedikit pemain-pemain yang memiliki platform teknologi beralih menjadi pemain media.
“Mereka juga melakukan konsolidasi dari sisi aplikasi atau platform, yang tadinya hanya berupa media sosial, berubah menjadi chat Apps, search engine, dan video streaming. Tekanan itu yang menjadi deflasi di industri ini (media) akan terus terjadi, dan ini tak bisa dielakkan,” cetusnya.
Kendati banyak tekanan yang menghimpit media nasional saat ini, dia menyatakan bukan berarti media nasional harus menyerah. Justru munculnya tantangan membuat semua pemain yang ada di dalamnya mencari jalan keluar agar bisnis ini ‘sustainable’.
“Media ke depan harus berpikir lebih banyak, mendengarkan lebih baik dari sisi pelanggan kita dan mencoba melayani secara 360 derajat. Artinya, dia menambahkan, media ke depan harus menjadi gabungan platform yang ada, seperti gabungan event management, talent production dan content management,” pungkasnya. (iwa)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY