Puncak HPN 2018, Jokowi Jadi Wartawan di Padang

0
75
Presiden Joko Widodo tanya jawab dengan wartawan saat puncak HPN 2018 di Padang, Jumat (9/2).

PADANG, KP – Setelah berkunjung kebeberapa daerah di Sumbar, Presiden Joko Widodo menghadiri hari Puncak Hari Pers Nasional (HPN) 2018 di Kota Padang. Bahkan, pada HPN kali ini Presiden mencoba memposisikan dirinya menjadi wartawan, sehingga mengundang gelak tawa pada insan pers. Bahkan, pejabat negara maupun duta besar negara sahabat yang hadir. Presiden Jokowi mengajukan sejumlah pertanyaan layaknya wartawan. Hampir 10 menit lamanya. Presiden juga mengaku jengkel pada wartawan. Alasannya, setiap kali melakukan doorstop, 70 hingga 90 orang wartawan selalu mencecar narasumber dengan berbagai hal.

“Wartawan itu banyak pertanyaan, beragam malah. Sering kali narasumber itu tidak siap. Karena ini perayaan pers. Maka, saya minta satu wartawan tunjuk tangan dan maju atas panggung,” ujar Presiden dihadapan peserta yang menghadiri puncak Peringatan HPN 2018 di kawasan Cimpago, pantai Padang, Sumbar, Jumat (9/2).

Presiden menatap setiap sudut pentas yang disesaki ribuan undangan HPN yang berasal dari seluruh Indonesia. Lantas, Presiden memilih seorang wartawan dari arah kiri panggung tempatnya berdiri. Wartawan beruntung yang mendapat kesempatan berdiri sejajar dengan orang nomor satu di Republik ini adalah Muhammad Yousri Nur Raja Agam yang mengaku sudah 40 tahun menjadi wartawan di Surabaya.

“Lo, ini wartawan senior yang dapat. Saya maunya tadi junior, tapi nggak apalah,” kata Jowoki diiringi gelak tawa tamu HPN.

Sekarang, kata Jokowi pada Yousri, ia sering di cecar wartawan dengan pertanyaan yang kadangkala dalam keadaan tidak siap. “Jadi, karena hari ini perayaan pers, saya minta pak Yousri jadi Presiden, saya jadi wartawan,” katanya yang lagi-lagi mengocok perut undangan.

“Baiklah. Saudara wartawan. Apa yang mau ditanyakan,” tanya Yousri pada Jokowi yang spontan membuat Presiden nyegir berikut ribuan undangan.

“Saya jadi nggak berani toh. Pak Presiden menanyakan apa yang mau saya tanyakan, sepertinya siap sekali. Ini pak Yousri bagus kalau jadi Presiden,” balas Jokowi dengan suara dibarengi tawa.

Jokowi mengatakan, pak Presiden memiliki 34 Menteri. Lantas, menteri mana yang dianggap paling penting dari jumlah tersebut.

“Sebenarnya, semuanya penting. Tapi, yang paling penting adalah menteri yang bisa membuat Presidennya nyaman,” jawab Yousri.

“Wah, ini politis banget. Saya tanya, menteri mana yang sebenarnya paling penting. To the point saja. Jangan muter-muter. Saya bingung nulisnya lo,” kata Jokowi mendesak seolah-olah jadi wartawan benaran.

“Baiklah, Menteri yang ngurusin wartawan yang sekarang namanya Kominfo. Karena, semua informasi bisa disampaikan dari desa hingga ke kota,” jawab Yousri.

Tidak hanya menanyakan soal menteri-menteri yang dianggap penting, melepaskan kekesalannya, Jokowi juga menanyakan pada wartawan tersebut tentang media apa yang paling menjengkelkan.

“Saya sering jengkel ditanya mendadak. Awalnya enak, ujungnya pertanyaan susah. Sekarang coba pak Presiden beberkan, media apa yang paling menjengkelkan. Pak Presiden terus saja,” kata Jokowi yang membuat hadirin terpingkal.

Sejenak Muhammad Yousri Nur Raja Agam terdiam dan memikirkan. Lantas, dia menyebut, media yang menyebalkan adalah media abal-abal. Namun, jawabannya Presiden lima menit itu dibantah Presiden betulan.

“Nggak ada di istana media abal-abal, pak. Bapak Presiden kan tiap hari diwawancarai di depan istana, wartawannya itu ke itu saja, sudah kenal juga. Jawab blak-blakan pak Presiden,” kata Jokowi balik bertanya.

Karena didesak, Yousri Nur Raja Agam menjawab gamblang, jika media paling menyebalkan adalah rakyat merdeka. “Ya, kalau rakyatnya merdeka, pemimpinnya susah. Terlalu merdeka, semua dianggap merdeka. Padahal, merdeka itu ada aturannya,” terang Yousri ketika diminta Jokowi memberikan alasan kejengkelannya.

Jawaban tersebut spontan membuat Jokowi terbahak-bahak. “Blak-blakan pak Yousri mewakili perasaaan saya. Sama persis dengan perasaan saya,” kata Jokowi sambil terus terbahak di podium panggung utama puncak HPN.

Jokowi tak dapat menahan tawanya. Alhasil, seperti biasa, ia menyuruh Yousri mengambil sepeda dan bisa di bawa pulang. “Sudah, ambil sepedanya. Presiden kembali saya ambil alih,” terang Jokowi yang terus saja diiringi gelak tawa ribuan undangan.

Dalam kesempatan itu, Presiden juga menyebutkan, pers semakin diperlukan ditengah kemajuan teknologi digital dan banyaknya potensi informasi yang keliru di masyarakat.

“Saya percaya bahwa di era kemajuan teknologi dan era melimpahnya informasi. Justru pers makin diperlukan,” katanya.

Menurutnya, ditengah persaingan alur informasi melalui sebaran dari media sosial, Jokowi menjelaskan media massa semakin diperlukan untuk menyebarkan kebenaran, fakta-fakta dan penegak aspirasi. Media juga diperlukan untuk membangun kehidupan peradaban dan kebudayaan baru ditengah-tengah masyarakat.

“Ditengah era industri 4.0 (era industri generasi ke empat) yang memanfaatkan teknologi digital dan kekuatan komputasi serta analisa data, pers bermanfaat untuk menyebarkan hasil inovasi baru tersebut kepada masyarakat. Era yang menghasilkan banyak inovasi yang harus segera kita ketahui, yang harus segera kita pahami jika kita tidak ingin ditinggalkan,” jelasnya.

Sementara itu, Penanggungjawab HPN 2018, Ketua PWI Pusat Margiono mengatakan, pelaksanaan HPN yang paling banyak dihadiri mentari adalah HPN di Sumbar. Yakni dengan 25 menteri mengunjungi Sumbar. Selain itu, HPN yang paling banyak dihadiri duta besar (Dubes) juga di HPN Sumbar.

“Ini suatu keistimewaan, HPN kali ini dihadiri banyak pejabat nasional dan dubes,”ujarnya

Sedangkan, Ketua Dewan Pers Yosep Prasetyo meminta pers mengedepankan independensi dan berpihak pada kepentingan publik. Dalam pemilihan kepala daerah media jangan berselingkuh dengan kepentingan politik yang kemudian mengabaikan independensi.

Disebutkannya, kebebasan pers di Indonesia merupakan satu keping dengan kebebasan berekspresi dan demokrasi. Maka dari itu, kebebasan pers harus dapat memajukan dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun begitu, Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999, memberikan ruang bagi siapa saja untuk mendirikan perusahaan media. Maka, perusahaan media di tanah air menjamur.

“Pertumbuhan media yang marak itu berdampak pada adanya perekrutan SDM wartawan secara besar-besaran,” katanya.

Yosep juga menyinggung soal pentingnya independensi wartawan di tengah kemerdekaan pers. Wartawan haruslah independen, tidak terpengaruh atas desakan ekomomi dan politik. Seorang wartawan haruslah mengedepankan kepentingan publik.

“Jangan sampai sejumlah kerja sama yang dilakukan dengan pemerintah juga mempengaruhi independensi wartawan. Di Pilkada Serentak 2018 misalnya. Pers sedang diuji, Independen atau berselingkuh dengan kepentingan politik,”ujarnya

Sementara itu, Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno mengaku bersyukur karena Sumbar terpilih sebagai tempat pelaksaan puncak Hari Pers Nasional (HPN) 2018. HPN, adalah wadah insan pers dalam bertukar pikiran dalam memajukan dunia pemberitaan baik untuk masyarakat dan dunia pers sendiri.

“HPN adalah tempat berpikir tentang kemajuan daerah bersama pers tentunya untuk kemajuan kita semua,” pungkasnya. (bob)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY