Catatan : Kita Butuh Walinagari Kreatif

PETANI atau rakyat kreatif banyak ditemui di pedesaan. Nereka yang kreatif berusaha itu rata-rata hidupnya sejahtera, minimal sederhana, berkecukupan, dan tak masuk kelompok warga miskin lagi. Namun demikianmeski angka kemiskinan terus berkurang di tiap nagaritapi penyusutan jumlah warga miskin itu terbilang agak lamban.

Bagaimanapun jugaperan walinagari atau kepala desa sangat menentukan kesejahteraan warganya. Boleh jadi ada warga desa yang sudah sejahtera kehidupannya bukan disebabkan peran pemerintahan nagaritapi keuletan mereka secara pribadi.

Di tengah sepinya informasi tentang nagari atau desa yang punya usaha mandiri untuk kesejahteraan anak nagarinya, terselip berita KORAN PADANG terbitan Sabtu (1/8) tentang ‘Pemuda Kampung Tangah Pariaman Garap Lahan Tidur’. Lahan tidur tersebut digarap oleh Badan Milik Usaha Desa (Bumdes) Kampung Tangah, Kecamatan Pariaman Timur. Walikota Pariaman Genius Umar tampak mengapresiasi Bumdes di daerahnya tersebut. Terbukti, Pak Wali Genius turut serta menanam bibit jagung pada lahan garapan pemuda Kampung Tangah itu.

Bumdes yang tengah giat di Kampung Tangah Pariaman ini boleh jadi lantaran kepala desanya kreatif. Terbukti dengan kemunculan Bumdes yang digerakkannya.

Sangat banyak desa atau nagari di Sumbar tapi jarang muncul informasi ke permukaan tentang keberadaan Bumdes. Padahal di tiap nagari masih banyak lahan tidur serta potensi sumber kesejahteraan yang perlu diangkat untuk kesejahteraan masyarakat.

Ada sawah terlantar, kolam berair jernih tanpa ikan, areal perladangan dan tanah perbukitan yang disia-siakan, padang pengembalaan tanpa hewan ternak, serta beragam sumber kesejahteraan lainnya yang terlantar begitu saja.

Jika masing-masing pemerintahan desa atau nagari punya program usaha kesejahteraan seperti di Kampung Tangah Pariaman, niscaya program mengatasi kemiskinan cepat jadi kenyataan. Nyatanya, sekarang kesibukan banyak kalangan di era corona ini cenderung hanya menadahkan tangan menunggu bantuan. Bagi yang tak kebagian, muncul lah beragam sumpah-serapah.

Keberadaan Bumdes di tiap nagari atau desa sebenarnya sangat diperlukan. Masih banyak penduduk miskinboleh jadi karena pemerintahan nagarinya tak kreatif memunculkan semangat ‘mambangkik batang tarandam’ untuk kesejahteraan warganya.

Kalaulah walinagari hanya terbelenggu dalam rutinitas belaka tanpa ada terobosan untuk kesejahteraan rakyatnya, boleh jadi yang bersangkutan termasuk pemimpin yang gagal. Padahal, potensi desa atau nagari semakin kuat berkat penempatan alat negara seperti polisi dan TNI untuk menerobos berbagai kebekuan di tingkat bawah.

Bagaimanapun juga, walinagari atau kepala desa sengaja dipilih rakyat dan disetujui/dilantik pemerintah adalah untuk mempercepat kesejahteraan rakyat. Namun Bumdes belum begitu tampak maksimal geraknya. Boleh jadi tungganai kampung itu tak begitu kreatif.

Oleh karena itu, sudah seharusnya di setiap nagari ada Bumdes. Sebaliknya nagari yang tak punya Bumdes, boleh jadi walinagarinya enggan bersusah-susah. Hal begini tak dikehendaki terjadi berketerusan. *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Bangkrut, Ratusan BPR Dilikuidasi - Sumbar Terbanyak Setelah Jabar

Sel Agu 4 , 2020
JAKARTA, KP – Sebanyak 103 bank umum dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang kinerja keuanganya sangat sulit hingga menyebabkan kebangkrutan terpaksa dilikuidasi sepanjang 2006 hingga Juni 2020. Direktur Eksekutif Klaim dan Resolusi Bank Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Suwandi mengatakan dari ratusan bank dan BPR yang dilikuidasi itu salah satunya adalah […]