19 April 2021

HARIAN UMUM KORAN PADANG

Berani Menyampaikan, Santun Mengkritisi

Ekonomi Minus 5,32 %, Indonesia di Ambang Resesi

JAKARTA, KP – Badan Pusat Statistik (BPS) telah resmi memngumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Kuartal II/2020 mengalami kontraksi minus 5,32%. Kepala BPS Suharinyanto mengatakan kontraksi yang lebih dalam ini terendah sejak tahun 1999 yang mana ekonomi minus 6,13% namun belum masuk jurang resesi.

“Kalau kita melacak kembali kontraksi 5,35% ini terendah sejak triwulan pertama tahun 1999 yang mengalami kontraksi minus 6,13%,” kata Suhariyanto dalam video virtual, Rabu (5/8).

Dia mengatakan bahwa yang diperlukan saat ini pemerintah terus bergandengan tangan dalam menggenjot pertumbuhan ekonomi di Kuartal III/2020. Hal ini agar Indonesia tidak masuk jurang resesi seperti yang dialami beberapa negara lainnya. Sebagai informasi, resesi bisa terjadi jika pertumbuhan ekonomi negatif berturut selama dua kali.

“Saat ini pemerintah terus bergandeng tangan dalam memulihkan ekonomi di kuartal ketiga. Saya optimis Indonesia bisa pulih di kuartal ketiga dengan berbagai stimulus yang diberikan,” jelasnya.

Dia pun mengatakan semua pulau di Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang mengalami kontraksi. Diantaranya pulau Jawa dan Sumatera yang menyumbang pertumbuhan ekonmi yang negatif.”Jawa dan Sumatera memberikan kontribusi terbesar ekonomi yang mana semuanya minus di seluruh pulau, Jawa yang paling tinggi minusnya yang mencapai 6,69%,” kata dia.

DI PINGGIR JURANG RESESI

Ekonom Bank Permata Josua Pardede meminta pemerintah hati-hati dengan kontrakasi ekonomi mencapai -5,32%. Pertumbuhan ekonomi negaif tersebut berpotensi menuntun Indonesia masuk jurang resesi. Dalam ekonomi makro, resesi atau kemerosotan adalah kondisi ketika pertumbuhan ekonomi riil minus selama dua kuartal atau lebih dalam satu tahun.

“Probabilitas risiko resesi semakin besar mempertimbangkan kinerja perekonomian kuartal II/2020 melambat -5,32% sementara progres penyerapan belanja atau stimulus penanganan Covid-19 dan PEN juga masih rendah,” kata Josua.

Menurut dia yang perlu dilakukan mengoptimalkan penyerapan belanja pemerintah dan mengimplementasikan secara cepat stimulus ekonomi akibat terdampak Covid-19. Upaya itu diharapkan mampu mendorong kinerja perekonomian pada kuartal III/2020 sehingga terhindar dari resesi ekonomi. “Oleh sebab itu, langkah untuk mendorong ekonomi melalui percepatan stimulus belanja pemerintah dengan tetap mendorong peningkatan produktivitas yang memiliki multiplier effect terhadap permintaan dan konsumsi masyarakat,” katanya.

Dia menambahkan secara umum, realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal II/2020 sesuai ekspektasi di mana konsumsi rumah tangga dan investasi juga mengalami pertumbuhan negatif. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga tercatat terkontraksi ke kisaran -5,51% (year on year/yoy) dari kuartal sebelumnya 2,84% yoy.

“Sektor-sektor dari sisi produksi yang diperkirakan menurun signfikan dan bahkan tercatat terkontraksi, antara lain sektor perdagangan dan manufaktur,” tandas dia.

EKONOMI SUMBAR MINUS 4,91 PERSEN

Sementara itu, laju pertumbuhan ekonomi Sumatra Barat di kuartal II tahun ini juga mengalami kontraksi atau minus 4,91 persen. Penurunan terjadi di hampir seluruh lapangan usaha akibat wabah pandemi Covid-19.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar Pitono mengatakan setelah pada kuartal pertama masih mencatatkan pertumbuhan 3,92 persen, pada kuartal II ini ekonomi Sumbar justru berbalik tumbuh negatif menjadi 4,91 persen.

“Tidak hanya Sumbar, wabah Covid-19 dampaknya dirasakan di seluruh Indonesia, bahkan dunia. Secara nasional (ekonomi) kontraksinya 5,32 persen,” katanya, Rabu (5/8).

Menurutnya, Sumbar masih cukup baik karena lebih cepat menerapkan PSBB, sehingga sektor usaha yang mengalami penurunan memang yang terkait langsung dengan PSBB, yakni perdagangan, transportasi, dan akomodasi. Harapannya, dengan mulai terkendalinya penyebaran Covid-19, maka pemulihan ekonomi di sektor usaha tersebut bisa berjalan lebih cepat.

Dari sisi produksi, Pitono merinci lapangan usaha sektor penyediaan akomodasi seperti hotel dan restoran mengalami penurunan paling besar yakni 33,24 persen, kemudian sektor transportasi dan pergudangan turun 29,37 persen, dan sektor pengadaan listrik dan gas turun 8,33 persen.

Disusul kemudian sektor pengadaan air turun 6,20 persen, jasa perusahaan turun 5,67 persen, kontruksi turun 5,21 persen, pertambangan dan penggalian turun 4,50 persen, administrasi pemerintahan turun 3,88 persen, dan perdagangan turun 3,32 persen.

Selain itu, ekonomi Sumbar masih tertolong dengan tumbuhnya sektor informasi dan telekomunikasi yang tumbuh 11,52 persen, jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 4,21 persen, jasa pendidikan 2,23 persen, real estate 2,13 persen, dan sektor pertanian 0,55 persen.

Adapun, sektor pertanian yang menjadi kontributor terbesar ekonomi Sumbar masih mampu meningkatkan produksi di tengah pandemi, sehingga ikut berkontribusi menahan laju pertumbuhan ekonomi yang negatif.

Sedangkan dari sisi konsumsi, seluruh sektor mengalami penurunan. Mulai dari konsumsi rumah tangga turun 4,02 persen, investasi atau PMTB turun 4,36 persen, konsumsi pemerintah 10,84 persen, ekspor 16,27 persen, konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT) turun 6,42 persen, dan impor turun 64 persen. (snc/lgm)