14 April 2021

HARIAN UMUM KORAN PADANG

Berani Menyampaikan, Santun Mengkritisi

SETELAH DIMUAT DI MEDIA Bantuan Untuk Indra Yeka Penderita Tumor Otak Terus Mengalir

SOLOK, KP – Setelah dimuat di media online Jarbatnews.com dan Harian Umum Koran Padang terbitan Rabu (5/8), bantuan untuk Indra Yeka yang tidak bisa lagi melihat dan mendengar terus mengalir.Bahkan usai divonis dokter mengalami tumor otak, Indra yang sehari-hari berprofesi sebagai tukang ojek, kini tidak lagi bisa beraktivitas.Kini, Indra terbaring lemah di kediamannya di kawasan Pasar Usang, Nagari Koto Gadang Guguk, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok atau tidak jauh dari kediaman Bupati Solok.


“Alhamdulillah, kawan-kawan dan rekan-rekan Indra Yeka ikut berpartisipasi membantu melalui rekening yang saya buka dan ada juga yang mau datang langsung ke rumah Indra,” terang Arwita Marni, warga Gurun, Jorong Pasar Baru Nagari Koto Gadang Guguak, yang ikut berpartisipasi membuka rekening donatur untuk Indra Yeka.

Selain di Nagari Guguak, warga Nagari Cupak di bawah koordinator Mai Depi dan Lisa Nopela, juga ikut mengumpulkan sumbangan. “Ini masalah kemanusiaan bukan untuk tenar. Jadi kami akan terus berusaha mengumpulkan dana untuk membantu saudara kita Indra Yeka,” tutur Mai Depi.

Disebutkannya, bantuan bisa dikirim melalui rekening BRI dengan nomor 5543 01 012555 53 3 atas nama Mai Depi dan Rek BRI dengan nomor 555201011853539 atas nama Lisa Nopela. Semua bantuan yang terkumpul akan disumbangkan kepada Indra Yeka. Selain itu, koordinator untuk Kecamatan IX Koto Sungai Lasi, juga sudah terbentuk melalui koordinator Salmi Hayati. “Kita benar-benar terenyuh usai membaca berita tentang nasib yang menimpa saudara kita di Pasar Usang Koto Gadang Guguak. Mudah-mudahan semakin banyak dermawan yang membantu,” tutur Salmi Hayati.


Salmi juga berharap, semakin banyak donatur dan dermawan yang akan tergugah hatinya untuk membantu Indra Yeka. Sementara Kepala SMPN 3 Gunung Talang, Yenni bersama majelis guru, juga ikut mengumpulkan dana untuk Indra Yeka. Bahkan uang yang terkumpul akan digabung dengan sumbangan alumni dan rencananya akan diserahkan Selasa depan. “Kita benar-benar prihatin mendengar cerita dan nasib yang dialami Bapak Indra setelah membaca berita Koran Padang,” sebut Yenni.


Saat ini Indra tinggal bersama ibu dan adiknya. Sementara istrinya sudah pulang ke rumah orang tua semenjak Indra tidak bisa lagi beraktivitas. Orang tua Indra, yakni Lisnar awalnya seperti ‘disambar petir di siang bolong’ ketika mendengar penjelasan dokter bahwa alat bantu pendengaran untuk anaknya bisa didapatkan dengan harga Rp30 juta, Rp80 juta atau Rp120 juta. “Jangankan membeli alat bantu semahal itu, biaya transportasi berobat ke rumah sakit saja kami sudah tak punya lagi. Ini benar-benar ujian bagi kami,” terang Lisnar kepada Koran Padang.

Lisnar yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani harus berhenti bekerja karena anaknya Indra, tiba-tiba buta dan tuli usai operasi tumor di kepala. Sementara suaminya sudah meninggal tahun 1990-an silam. Sedangkan Indra tidak pernah menduga bakal mengalami nasib seperti itu. Ayah dua anak itu harus menjalani kehidupan begitu getir. Sebelum dioperasi, ia bekerja sebagai tukang ojek di sekitar tempat tinggalnya di Guguak. Ketika mengetahui ada pembengkakan di kepala bagian belakang, dekat leher. Ia pun berobat hingga akhirnya dioperasi di RSUD Arosuka menjelang lebaran 1441 H lalu. Usai operasi kondisinya tidak semakin membaik, tetapi kian tidak berdaya. Penglihatannya mulai kabur, pendengarannya pun tidak lagi berfungsi dengan baik. Sekarang ia sama sekali tidak bisa melihat dan mendengar.

Sementara dokter di M. Djamil Padang sudah menjelaskan penyakit tumor otak yang dialami Indra. Karena itu harus menjalani operasi. Namun sebelum dioperasi, Lisnar harus membawa anaknya kontrol dua atau tiga kali seminggu. Bukan satu dokter yang harus ditemuinya, tapi ada beberapa dokter, seperti dokter mata, telinga dan syaraf. “Sekali ke Rumah Sakit minimal harus ada dana Rp500.000,” ujar Lisnar pilu.

Dana tersebut hanya untuk transportasi. Ia harus menyewa mobil seharian. Sekali pergi Rp350.000, karena tidak bisa membawa anaknya yang kini sudah buta dan tuli, kaki sakit turun naik bus umum. Belum lagi biaya makan. Karena itulah, setelah melakukan kontrol sebanyak enam kali, kali ini tidak bisa berangkat karena tidak ada lagi ongkos ke Padang. “Kalau kontrol ke RSUD Arosuka, masih kami usahakan,” ujar Lisnar.

Untuk ke RSUD Arosuka, ia mengeluarkan ongkos ojek Rp 30.000 karena ‘ditenggang’ tukang ojek lainnya. Namun kalau ke Padang, biaya transportasi meningkat lebih dari 1000 persen, sementara penghasilannya tidak ada. Apalagi kerja ke sawah dan ladang orang tidak bisa lagi dilakukannya. “Kebutaan dan tuli ini sudah dialaminya sejak 1.5 bulan lalu,” jelas Lisnar.

Sejak Indra Yeka sakit, ia lah yang merawatnya. Lisnar tidak bisa meninggalkan Indra sendirian di rumah. Adik Indra, Hendra Fauzi bekerja sebagai karyawan catering di kawasan Gunung Talang. Sebagai pekerja harian, Hendra berusaha membantu biaya hidup orang tuanya. Namun untuk membawa kakaknya berobat dua atau tiga kali seminggu ke rumah sakit di Padang, penghasilannya tidak cukup. Kini Lisnar dan Indra hanya bisa berdoa, sembari mengharapkan uluran tangan kita semua untuk meringankan bebannya. 

Bagi donatur yang ingin meringankan beban Indra Yeka bisa menghubungi nomor 0812-3306-6118 atas Hendra Fauzi, adik Indra Yeka atau kirim donasi pembaca yang budiman  ke nomor rekening alumni SMP 3 Gunung Talang dengan nomor rekening 555201017749534 atas nama Arwita Marni. (wan)