TIDAK BISA MELIHAT DAN MENDENGAR Indra Yeka, Tukang Ojek Penderita Tumor Otak Butuh Uluran Tangan Dermawan

SOLOK, KP – Indra Yeka (36 tahun) yang sehari-hari berprofesi sebagai tukang ojekkini tidak lagi bisa beraktivitas.Ia didiagnosa dokter mengalami tumor otak. Pasca menjalani operasi, kondisi Indra justru tidak bisa lagi melihat dan mendengar. Kini ia terbaring lemah di kediamannya di kawasan Pasar Usang, Nagari Koto Gadang Guguk, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok.

Indra tinggal bersama ibu dan adiknya. Sementara istrinyasudah pulang ke rumah orangtuanya sejak Indra tidak bisa lagi beraktivitas. Orangtua Indra, Lisnar (63 tahun) mengaku bagaikan ‘disambar petir di siang bolong’ ketika mendengar penjelasan dokter bahwa anaknya terkena tumor otak. Ia juga tak kuasa menahan kekagetannya ketika diberitahu dokter bahwa anaknya butuh alat bantu pendengaran yang harga alatnya puluhan hingga ratusan juta rupiah.

“Jangankan membeli alat bantu semahal itu, untuk biaya transportasi berobat ke rumah sakit saja kami sudah tak punya lagi. Ini benar-benar ujian bagi kami,” terang Lisnar kepada KORAN PADANG, Rabu (5/8).

Lisnar yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani harus berhenti bekerja dan kini bebannya kian berat di usia yang kian menuakarena anaknya Indra Yekatiba-tiba buta dan tuli usai operasi tumor di kepala. Sementara suaminyasudah lebih dulu berpulang ke rahmatullah pada tahun 1990-an silam.

Saat iniIndra tidak hanya buta dan tuli, lututnya pun mulai membengkak dan makin hari makin besar. Lisnar hanya berharap keajaiban dan uluran tangan para dermawan agar anaknya bisa mendapat pengobatan.

Indra Yeka tidak pernah menduga bakal mengalami nasib seperti itu. Ayah dua anak itu harus menjalani kehidupan begitu getir. Sebelum dioperasi, ia bekerja sebagai tukang ojek di sekitar tempat tinggalnya di Guguak. Ketika mengetahui ada pembengkakan di kepala bagian belakangdekat leher, ia berobat dan akhirnya dioperasi di RSUD Arosuka menjelang lebaran Idul Fitri lalu. Usai operasi, kondisinya tidak semakin membaik, malah kian tidak berdaya. Penglihatannya mulai kabur, pendengarannya pun tidak lagi berfungsi dengan baik.

Seharusnya Senin lalu (3/8)Indra harus dibawa ke RSU M. Djamil Padang untuk kontrol rutin. Namun apa hendak dikata, dana untuk biaya transportasi ke Padang tidak ada. “Selama ini masih ada bantuan tetangga dan hasil kerja sebagai buruh tani tapi sejak Indra sakit, sayapun berhenti bekerja,” jelas Lisnar didampingi anaknya Hendra Fauzi, yang merupakan adik Indra Yeka.

Ia menambahkan, dokter di M.Djamil Padang sudah menjelaskan kepada bahwa Indra Yekamengalami tumor otak. Namun sebelum dioperasi, Lisnar harus membawa anaknya kontrol dua atau tiga kali seminggu. Bukan satu dokter saja yang harus ditemuinya, tapi ada beberapa dokter yaitu dokter mata, dokter THT, dan dokter syaraf.

“Sekarang ada lagi pembengkakan di lutut. Sekali ke rumah sakit minimal harus ada dana Rp500.000,” ujar Lisnar dengan nada pilu.

Dana tersebut jelasnya, hanya untuk transportasi. Ia harus menyewa mobil seharian. Sekali pergi bbiayanya Rp350.000, karena tidak bisa membawa anaknya yang kini sudah buta dan tuli, dan kaki sakit naik turun bus umum. Belum lagi biaya makan. Karena itulah, setelah melakukan kontrol sebanyak enam kali Lisnar pun tidak bisa berangkat lagi ke Padang karena tidak ada ongkos.

“Kalau kontrol ke RSUD Arosuka, masih kami usahakan,” terang Lisnar.

Disebutkannya, untuk ke RSUD Arosuka, ia mengeluarkan ongkos ojek Rp30.000 karena ‘ditenggang’ tukang ojek. Namun kalau ke Padang, biaya transportasi cukup besar sementara penghasilannya tidak ada. Apalagi kerja ke sawah dan ladang orang tidak bisa lagi dilakukannya.

“Kebutaan dan tuli ini sudah dialaminya sejak 1,5 bulan lalu,” jelas Lisnar.

Dalam kondisi terpuruk seperti itu, Lisnar tidak tahu lagi harus mengadu kepada siapa. Sementara menantunya, istri Indra Yekasudah kembali pula ke rumah orangtuanya. Sehingga, ia harus berjuang untuk menjaga anaknya.

“Anak saya memang tidak mampu lagi membiayai hidup keluarga,” ucapnya.

Sejak Indra Yeka sakit, terangnya, ialah yang merawat Indra. Lisnar tidak bisa meninggalkan Indra Yeka sendirian di rumah. Adik Indra Yeka, Hendra Fauzi bekerja sebagai karyawan catering di kawasan Gunung Talang. Sebagai pekerja harian, Hendra berusaha membantu biaya hidup orangtuanya. Namun untuk membawa kakaknya berobat dua atau tiga kali seminggu ke rumah sakit di Padang, penghasilannya tidak cukup.

Kini, Lisnar dan Indra Yeka hanya bisa berdoa sembari mengharapkan uluran tangan semua untuk meringankan bebannya. Bagi donatur dan dermawan yang ingin meringankan beban Indra Yekabisa menghubungi nomor 081233066118  atas nama Hendra Fauzi, adik Indra Yeka atau mengirim donasi ke nomor rekening 555201017749534 atas nama Arwita Marni yang merupakan pengurus alumni SMP 3 Gunung Talang. (wan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Catatan : Pemilik Ulayat Pantas Disejahterakan

Rab Agu 5 , 2020
PENGUSAHA besar bidang perkebunan cenderung menganggap enteng penduduk yang punya […]