24 Juli 2021

HARIAN UMUM KORAN PADANG

Berani Menyampaikan, Santun Mengkritisi

Adanya Pemakaman Tan Malaka di Limapuluh Kota Perkuat Sejarah Sumbar

LIMAPULUH KOTA, KP – Adanya pemakaman tokoh pahlawan nasional Ibrahim Tan Malaka di Limapuluhkota tentunya memperkuat keberadaan sejarah tokoh-tokoh Sumbar berkontri besar dalam perjuangan Indonesia merdeka. Hal itu disampaikan Wakil Gubernur Sumatra Barat Nasrul Abit, di sela-sela kunjungannya ke Rumah Pahlawan Nasional Tan Malaka di Kenagarian Pandam Gadang, Kecamatan Suliki Gunuang Omeh, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatra Barat, Selasa (1/9).

“Saat ini kita berada di Rumah Pahlawan Nasional Tan Malaka yang dikenal dengan nama Ibrahim Datuk Tan Malaka Raja Adat Kelarasan Bunga Setangkai, berdasakan Keppres no 53 tahun 1963,” ungkap Nasrul Abit.

Disebutkannya, Pahlawan Nasional Tan Malaka lahir di Pandam Gadang, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatra Barat tahun 1894. Beliau wafat di Kediri Jawa Timur, 21 Februari 1949. Dan dipindahkan kembali ke tempat asalnya oleh Dr. H. Fadli Zon pada 1 Maret 2017. “Atas nama pemerintah dan masyarakat Sumbar, saya mengapresiasi dan menyampaikan terima kasih pada Fadli Zon yang meresmikan dan Wabup Ferizal Ridwan yang sudah membawa Tan Malaka dari Kediri ke Sumbar pada tahun 2017 lalu,” ucapnya.

Kemudian Nasrul Abit mengajak semua yang hadir pada kesempatan itu untuk mendoakan Ibrahim Datuk Tan Malaka, agar dimasukkan ke dalam surga atas perjuangannya untuk kemerdekaan Indonesia. Selanjutnya, Nasrul Abit bersama istrinya Wartawati mengelilingi kediaman Tan Malaka yang terbuat dari kayu berbentuk rumah gadang tiga ruangan. Dalam rumah berukuran sekitar 8 x 16 meter itu, terpampang 14 foto diri Tan Malaka, termasuk juga foto ayah dan ibunya serta sebuah lukisan wajah Tan Malaka hasil karya A. Munaf.

“Dalam rumah terdapat buku-buku berkaitan dengan Tan Malaka, mereka ada yang membaca, atau bertanya kepada saya. Ada juga di antara mereka meninggalkan buku di rumah itu sebagai penambah bahan bacaan,” jelasnya.

Selain itu, Indra salah satu cucu Tan Malaka menjelaskan, rumah gadang tersebut adalah rumah yang ditempati Tan Malaka di saat muda sebelum pergi sekolah ke Belanda. Di mana terlihat ada satu foto Tan Malaka bersama teman-temannya di Belanda.

Di samping itu, memang terlihat beberapa bagian rumah gadang kayu Tan Malaka itu sudah mulai melapuk dan membutuhkan pembenahan. “Selama ini biaya perawatan rumah hanya dari pihak keluarga saja, mudah – mudahan dengan hadirnya Wagub Sumbar ini bisa membantu untuk kelangsungan bangunan ini,” harap Indra.

Apalagi tahun lalu sebelum Covid-19, Indra mengatakan, semenjak dipindahkannya makam Tan Malaka ke sana, ada banyak pengunjung yang datang. Namun sejak adanya Covid-19 sudah jarang dikunjungi. “Kami tidak membatasi pengunjung, silahkan datang, pengunjung bebas bertanya tentang Tan Malaka, sepanjang diketahui,” ulas Indra.

Menurut Indra, para pengunjung biasanya membaca, melihat-lihat dan bertanya seputar Tan Malaka. Yang mana di Rumah Tan Malaka terdapat sejumlah buku milik Tan Malaka (Gerpolek, Dari Penjara ke Penjara, Madilog), serta buku lain tentang Tan Malaka hasil penelitian Harry A Poeze, Pacar Merah Indonesia milik Matu Mona dan lain-lain.