18 Mei 2021

HARIAN UMUM KORAN PADANG

Berani Menyampaikan, Santun Mengkritisi

PENYAKIT PASCA PANEN PADA PRODUK HORTIKULTURA SERTA PENANGGULANGANNYA

Produk pascapanen hortikultura segar sangat mudah mengalami kerusakan-kerusakan fisik akibat berbagai penanganan yang dilakukan.  Kerusakan fisik ini terjadi karena secara fisik-morfologis, produk hortikultura segar mengandung air tinggi (85-98%) sehingga benturan, gesekan dan tekanan sekecil apapun dapat menyebabkan kerusakan yang dapat langsung dilihat secara kasat mata dan dapat tidak terlihat pada saat aktifitas fisik tersebut terjadi.  Biasanya, untuk kerusakan kedua tersebut baru terlihat setelah beberapa hari.  Kerusakan fisik ini menjadi entry point  yang baik sekali bagi khususnya mikroorganisme pembusuk dan sering menyebabkan nilai susut yang tinggi bila cara pencegahan dan penanggulangannya tidak direncanakan dan dilakukan dengan baik.

Kehilangan hasil akibat busuk merupakan dasar dikembangkannya teknik-teknik penanganan hasil bagi produk panenan hortikultura. Penyakit penyakit pasca panen merupakan kenyataan yang menentukan dipilihnya suatu teknik penanganan diterapkan. Mengetahui organisme penyebab penyakit dan komoditi inang serta teknik-teknik penanganan merupakan tiga hal yang saling terkait bagi suksesnya upaya mempertahankan komoditi panenan tetap segar hingga sampai pada konsumen.

Praktek-praktek penanganan yang diterapkan atau dilakukan mungkin saja juga berpengaruh terhadap kepekaan komoditi panenan terhadap penyebab penyakit. Hal ini dikarenakan karena tingkat kematangan, pemasakan dan senesen (penuaan). Selain daripada itu, bekas-bekas pemotongan, luka memar ataupun lecet membuat kesempatan organisme penyebab penyakit akan lebih mudah menginfeksi komoditi panenan tersebut. Kondisi tekanan (stress) akibat suhu tinggi atau rendah memungkinkan menyebabkan perubahan dalam aspek fisiologis yang tentunya akan memudahkan bagi berkembangnya penyebab penyakit dan semakin pekanya komoditi terdapat sesuatu jenis penyebab penyakit.

Faktor-faktor utama bagi perkembangan penyakit pasca penen komoditi hortikultura adalah inang (tanaman), penyebab penyakit (microorganisme) dan lingkungan. Faktor lingkungan terdiri atas suhu, kelembaban relatif dan komposisi atmosfir (ruang) simpan. Jadi terdapat tiga faktor utama yang sering juga dikenal sebagai segi tiga penyakit (pathogen/microorganisme – inang – lingkungan).

Penyakit-penyakit yang muncul pada komoditi pada fase penanganan setelah panen dikenal sebagai Penyakit Pasca Panen atau Postharvest Disease. Kegiatan pasca panen meliputi panen, pengangkutan, pemilihan (sortasi), pemasakan, penyimpanan, pengepakan, pengolahan dan pemasaran.

Jenis Penyakit Pascapanen Produk Hortikultura

1. Penyakit Non-Parasiter

a. Kerusakan Mekanis

Kerusakan mekanis  bentuknya  bermacam-macam dan dapat terjadi pada berbagai kegiatan paska panen. Benturan-benturan antara individu komoditi panenan merupakan jenis kerusakan mekanis yang sering muncul dan merugikan.

b. Kerusakan Fisiologis

Biasanya kerusakan  fisiologis  berhubungan  dengan  proses-proses metabolisme komoditi panenan bersangkutan. Hal dikarenakan organ panenan, walaupun telah dipisahkan dari pohonnya, masih melakukan kegiatan fisiologis (mempertahankan kehidupan). Aspek fisiologis yang berkaitan dengan kerusakan fisiologis adalah penguapan (transpirasi), pernapasan (respirasi) dan berubahan biologis lainnya.

2. Penyakit Parasiter

Jenis penyakit pasca panen ini merupakan penyakit-penyakit komoditi panenan yang disebabkan oleh patogen seperti jamur, bakteri dan virus. Penyakit parasit pasca panen dapat merupakan penyakit yang memang terjadi atau proses infeksi patogen terjadi pada saat komoditi telah dipanen. Namun dapat juga telah terjadi infeksi pada saat di lapang (sebelum dipanen), hanya saja patogen pada saat itu dalam keadaan dorman, dan setelah panenan serta kondisi mendukung bagi berkembangnya atau aktifnya patogen tersebut, barulah terjadi perkembangan penyakit yang ditandai terlebih dahulu dengan adanya tanda-tanda penyakit (sympton)

a. Penyakit yang disebabkan Jamur

Jamur  merupakan  mikroorganisme  penting  bagi  suatu  penyakit pasca panen buah dan sayuran serta tanaman hias bunga potong. Jamur yang sering merupakan patogen pasca panen tergolong Klas Ascomycetes dan berhubungan dengan Fungi Imperfecti (jamur Tidak Sempurna).

b. Penyakit yang disebabkan Bakteri

Penyakit pasca panen yang disebabkan oleh bakteri dapat terjadi akibat infeksi bakteri sejak di lapang (pertanaman) maupun saat periode pasca panen (setelah dilakukan pemanenan) selama periode pengumpulan hasil panenan, sortasi, pencucian , packing maupun pengangkutan dan penyimpanan. Terinfeksinya komoditi hortikultura panenan oleh patogen terjadi dari saat di lapang hingga saat pemasaran. Infeksi pada tahapan panen hingga penanganan atau pada periode pasca panen, biasanya dibantu oleh karena adanya luka-luka pada komoditi panenan bersangkutan. Luka-luka tersebut dapat terjadi akibat benturan, lecet oleh kuku saat panen atau pemilihan dan pembersihan, luka-luka akibat tusukan hama (serangga) ataupun luka potongan. Selain daripada itu, perkembangan fisiologi dan kondisi lingkungan serta perkembangan morfologi dan anatomi juga berperan penting pada kemudahan terjadinya infeksi patogen. 

 Oleh karena itu, mengetahui pola-pola proses infeksi patogen pada komoditi panenan sangat penting. Hal ini terkait erat dengan pemilihan teknik Infeksi yang terjadi saat pasca panen akan semakin tinggi, selain adanya jalan infeksi, keadaan lingkungan mendukung bagi perkembangan patogen, sedangkan kondisi tersebut merupakan kondisi yang memungkinkan bagi perubahan metabolisme komoditi panenan seperti pemasakan dan senesen. Perubahan komponen nutrisi (pati, gula, vitamin dan pigmen) dapat memacu proses infeksi patogen dan kemudian perkembangan penyakit pada komoditi panenan.

Cara penanganan pascapanen menentukan masa simpan. Cara penanganan yang kurang baik seperti penanganan yang cenderung menimbulkan pelukaan dan kemunduran fisiologis yang cepat akan berakibat pada pertumbuhan mikroorganisme pembusuk dengan cepat pula.  Perlakuan-perlakuan pascapanen sering diberikan untuk menghambat pertumbuhan atau membunuh mikroorganisme pembusuk.  Namun demikian, adanya pembusukan oleh mikroorganisme adalah akibat sekunder dari penanganan yang salah selama periode pascapanennya.  Seperti pada produk yang mengalami luka maka akan sangat memudahkan mikroorganisme tumbuh pada bagian luka tersebut.  Kemunduran mutu fisiologis biasanya diikuti oleh serangan mikroorganisme pembusuk sibagai akibat sekunder karena degradasi jaringan yang mempermudah infeksi dan enzim pektolitik untuk melunakan jaringan

Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Pascapanen

Produk yang digunakan untuk pengendalian mikroorganisme pembusuk pascapanen harus digunakan setelah mempertimbangkan beberapa factor kritis sebagai berikut:

o Jenis pathogen yang terlibat dalam pembusukan

o Lokasi pathogen di dalam produk

o Waktu terbaik untuk pengendalian pembusukan tersebut.

o Kematangan dari produk

o Lingkungan selama penyimpanan, transportasi dan pemasarannya.

Produk yang dipilih untuk pengendalian pembusukan akibat mikroorganisme harus mempertimbangkan faktor di atas apakah dengan bahan kimia atau pengendalian secara biologis.  Beberapa fungisida terdapat digunakan untuk pengendalian pembusukan oleh mikroorganisme, dibandingkan dengan fungisida pra-panen yang jenisnya banyak, jenis fungisidia pascapanen lebih sedikit. Beberapa produk sudah kehilangan daya racunnya karena tumbuhnya resistansi pada mikroorganisme pembusuk.  Contoh bahan fungisida pascapanen yang sedang digunakan adalah thiabendazole, dichloran, dan imazalil.  Akan tetapi, resistansi terhadap thiabendazole dan imazalil meningkat maka penggunaan sebagai bahan kimia efektif berkurang. Beberapa bahan pengawet antimicrobial sebagai bahan tambahan pada makanan secara umum tidak dipandang sebagai perlakuan pascapanen namun dapat mengendalikan pembusukan, dan dalam beberapa kasus hanya cara inilah pengendaliannya. 

Pengendalian biologis penyakit pascapanen merupakan pendekatan baru dan memberikan beberapa keuntungan dibandingkan dengan pengendalian biologis konvensional:

o Kondisi lingkungan dapat dipelihara dan ditetapkan

o Agen pengendalian biologis dapat lebih efisien

o Efektif biaya untuk produk pascapanen

Agen pengendali biologis yang pertama dikembangkan untuk digunakan pascapanen adalah strain Bacillus subtilis (Pusey and Wilson, 1984). Walau biokontrol tidak diragukan lagi keefektivannya, namun sering tidak memberikan hasil yang konsisten.  Hal ini mungkin disebabkan efikasinya juga dipengaruhi langsung oleh jumlah inokulum pathogen yang ada (Roberts, 1994). Pengelolaan suhu yang baik sangat kritis untuk pengendalian penyakit pascapanen dan perlakuan lainnya dipandang sebagai suplemen terhadap pendinginan (Sommer, 1989). Jamur pembusuk buah umumnya tumbuh optimal pada suhu 20 sampai 25 ºC dan dapat dibagi menjadi suhu pertumbuhan minimum 5 sampai 10 ºC atau -6 sampai  0 ºC. jamur dengan pertumbuhan minimum di bawah -2 ºC tidak dapat dihentikan secara sempurna dengan pendinginan tanpa mengakibatkan pembekuan buah.  Namun suhu rendah memungkinkan diinginkan karena memperlambat pertumbuhan secara berarti dan mengurangi pembusukan.