Hukum Adat Itu Kuat

DI setiap daerah biasanya ada hukum adat yang diberikan terhadap warga setempat atau pendatang yang terbukti melakukan kejahatan, melanggar norma-norma agama dan kesusilaan. Penerapan hukum adat ini masih terus dilaksanakanmeski tak begitu muncul ke permukaan. Hukum adat disepakati sebagai kekuatan bersama yang tidak lapuk kena hujan dan tak lekang kena panas.

Berita KORAN PADANG terbitan Kamis lalu (3/9) di halaman 1 ‘Diduga berbuat mesum seorang perempuan diarak keliling kampung’ di sebuah daerah di Pasaman sebenarnya tak perlu sampai jadi kontroversi jika hukuman adat dilaksanakan dengan konsekuen. Kontroversi muncul ketika pelaku perempuan yang diarak itu dalam kondisi tidak berpakaian, mendapat perlakuan kasar, dan divideokan. Video itu pun tersebar luas dan jadi konsumsi publik. Hal ini sayang disayangkan. Untung saja, polisi sudah turun tangan mengusut penyebar video tersebut.

Namun, yang hendak disorot dalam kasus ini bukanlah arak-arakan tersebut, melainkan penerapan hukum adat, termasuk bagi pelaku asusila. Dalam berita tersebut tidak dituliskan apakah hukum adat telah diberlakukan terhadap pasangan mesum tersebut. Apalagi, kabarnya pelaku sudah dua kali melakukan perbuatan mesum. Mayoritas hukum adat menerapkan sanksi denda yang dijatuhkan oleh ninik mamak setempat. Jika terulang lagi, atau dalam kasus yang lebih parah, biasanya pelaku diusir, bahkan dibuang sepanjang adat.

Hukum adat sejatinya sangat realistis, bahkan sejalan dengan ajaran agama (Islam).”Adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah. Antara adat dan ajaran Islam keduanya saling berkulindan.Harmonisnya penerapan hukum adat dengan ajaran agama (Islam) di suatu suku atau kaum pertanda pemuka masyarakatnya sangat konsekuen.Bisa jadi kehidupan warga kampung itu tenang lahir-bathin karena ninik mamaknya amanah dalam melaksanakan aturan moral kepada anak-kemenakannya.

Tak hanya di daerah saja hukum adat konsekuen dijatuhklan pada pelanggar norma kehidupan.Di Kota Padang juga ada. Seperti di lingkungan pesukuan Chaniago dan Sikumbang di Kelurahan Flamboyan Baru dan Lolong Belanti. Di sana, pasangan mesum yang tertangkap basah disidangkan pemuka warga. Pelaku, didampingi keluarganya, bersedia membayar denda adat 60 karung zak semen, berlanjut pengusiran dari kampung itu, dan juga dinikahkan oleh keluarga kedua belah pihak.

Penulis yang kebetulan Ketua RW di selingkaran Kampung Chaniago dan Sikumbang ini, memastikan bahwa pelaku perbuatan menyimpang yang tertangkap basah selama ini adalah warga pendatang, seperti anak kostyang berstatus mahasiswa/wi. Sudah tiga kali problema kejahatan moral ini diselesaikan dalam tempo dua tahun terakhir. Sama sekali tak ada hambatan dalam pelaksanaan hukum adat tersebut.Apalagi kedua pasangan berlawanan jenis itu mengakui perbuatannya dengan tertulis dihadapan petugas keamanan, pemuka warga, dan tokoh berpengaruh lainnya.

Begitulah. Hukum adat di masing-masing daerah tentu berbeda pula ragamnya, sesuai dengan tradisi setempat. Perlu dimaklumi, hukum adat itu sudah lama usianya. Mungkin belum ada hukum negara, hukum adat sudah diberlakukan di negeri ini oleh ninik mamak dalam mengatur anak dan kemenakannya. *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Tahun depan Kemendikbud Terapkan Kurikulum Baru

Jum Sep 4 , 2020
JAKARTA, KP – Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Maman Fathurrahman mengatakan kurikulum baru akan diterapkan mulai tahun ajaran 2021/2022 mendatang. “Launching sekitar Maret 2021dan mulai diimplementasikan pada tahun ajaran baru 2021/2022,” ungkapnya, Jumat (4/9). Kurikulum baru itu bakal diterapkan secara bertahap di sekolah penggerak dan […]