18 April 2021

HARIAN UMUM KORAN PADANG

Berani Menyampaikan, Santun Mengkritisi

Pentingnya Peningkatan Kompetensi Apoteker dalam Konseling Obat Pasien Hipertensi

PENYAKIT hipertensi Menurut (WHO) adalah suatu keadaan dimana dijumpai tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih untuk usia 13 – 50 tahun dan tekanan darah mencapai 160/95 mmHg untuk usia di atas 50 tahun. Pengukuran tekanan darah minimal sebanyak dua kali untuk lebih memastikan keadaan tersebut.

Hipertensi dapat dikelompokan menjadi dua jenis, yaitu: Hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Hipertensi primer adalah hipertensi yang tidak atau belum diketahui penyebabnya. Hipertensi primer menyebabkan perubahan pada jantung dan pembuluh darah. Sedangkan hipertensi sekunder adalah hipertensi yang disebabkan atau sebagai akibat dari adanya penyakit lain dan biasanya penyebabnya sudah diketahui, seperti penyakit ginjal dan kelainan hormonal atau pemakaian obat tertentu.

Pentingnya kita untuk mengetahui Penyakit Hipertensi adalah dimana Prevalensi hipertensi saat ini dilaporkan semakin meningkat berkisar antara 35–46% di negara berkembang maupun negara maju dan diprediksi akan semakin meningkat sebesar 60% pada tahun 2025. Peningkatan prevalensi tersebut akan berakibat pada resiko terjadinya stroke (60%) dan serangan jantung (50%). Angka kesakitan hipertensi di negara Amerika sebesar 27,8, sementara di Indonesia angka kematian yang disebabkan hipertensi dan penyakit jantung cukup tinggi, yaitu sekitar 28%.

Rendahnya kepatuhan pasien terhadap pengobatan hipertensi berpotensi menjadi penghalang dalam tercapainya tekanan darah yang terkontrol dan dapat pula dihubungkan dengan peningkatan pada biaya pengobatan atau rawat inap serta komplikasi penyakit jantung.

Healthy people for hypertension menganjurkan perlu adanya pendekatan yang lebih komprehensif dan intensif guna mencapai pengontrolan tekanan darah secara optimal. Diperlukan berbagai upaya dalam peningkatan kepatuhan pasien terhadap terapi obat demi mencapai target tekanan darah yang diinginkan. Sedikitnya 50% pasien yang diresepkan obat antihipertensi tidak meminum obat sesuai yang direkomendasikan. Strategi yang paling efektif adalah dengan kombinasi strategi seperti edukasi, modifikasi sikap, dan sistem yang mendukung.

Faktor- faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya hipertensi adalah

  1. Genetik: adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akan menyebabkan keluarga itu mempunyai risiko menderita hipertensi.
  2. Obesitas: berat badan merupakan faktor determinan pada tekanan darah pada kebanyakan kelompok etnik di semua umur.
  3. Jenis kelamin: prevalensi terjadinya hipertensi pada pria sama dengan wanita. Namun wanita terlindung dari penyakit kardiovaskuler sebelum menopause salah satunya adalah penyakit jantung koroner.
  4. Stres: stres dapat meningkatkan tekanah darah sewaktu, dan itu bisa mengakibatkan jantung memompa darah lebih cepat sehingga tekanan darah pun meningkat.
  5. Kurang olahraga: Kurangnya aktivitas fisik menaikan risiko tekanan darah tinggi karena bertambahnya risiko untuk menjadi gemuk. Orang-orang yang tidak aktif cenderung mempunyai detak jantung lebih cepat dan otot jantung mereka harus bekerja lebih keras pada setiap kontraksi, semakin keras dan sering jantung harus memompa semakin besar pula kekuatan yang mendesak arteri.
  6. Pola asupan garam dalam diet: badan kesehatan dunia yaitu World Health Organization (WHO) merekomendasikan pola konsumsi garam yang dapat mengurangi risiko terjadinya hipertensi. Kadar sodium yang direkomendasikan adalah tidak lebih dari 100 mmol (sekitar 2,4 gram sodium atau 6 gram garam) perhari.
  7. Kebiasaan Merokok: merokok menyebabkan peninggian tekanan darah.

Pencegahan

Upaya pencegahan dan penanggulangan Hipertensi dapat dilakukan dengan cara :

  • Perubahan pola makan
  • Pembatasan penggunaan garam hingga 4-6 gr per hari, makanan yang mengandung soda kue, bumbu penyedap dan pengawet makanan.
  • Mengurangi makanan yang mengandung kolesterol tinggi (jeroan, kuning telur, cumi-cumi, kerang, kepiting, coklat, mentega, dan margarin).
  • Menghentikan kebiasaan merokok, minum alkohol
  • Olah raga teratur
  • Hindari stres

Pentingnya konseling Apoteker dengan Pasien Hipertensi dikarenakan konseling merupakan salah satu bagian tatalaksana terapi pasien hipertensi untuk mencapai tujuan terapi. Konseling sebagai bagian dari implementasi konsep asuhan kefarmasian bertujuan untuk memberikan tambahan pengetahuan tentang obat dan pengobatan dengan harapan dapat memberikan pemahaman pada pasien mengenai peranan obat pada penyembuhan penyakitnya.

Kepatuhan pasien dapat juga berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan pengobatan. Hasil terapi tidak akan mencapai tingkat yang optimal tanpa adanya kesadaran dari pasien untuk patuh terhadap pengobatannya bahkan dapat menyebabkan kegagalan terapi, serta menimbulkan komplikasi yang sangat merugikan bagi pasien. Pengukuran tingkat kepatuhan penting dilakukan agar tercapai efektivitas dan efisiensi pengobatan, serta untuk monitoring keberhasilan pengobatan.

Penelitian sebelumnya menunjukkan keberhasilan pengobatan pada penderita hipertensi dengan penyakit lainnya tidak hanya dipengaruhi oleh kepatuhan pasien akan tetapi juga dipengaruhi oleh kualitas pelayanan kesehatan, sikap, dan keterampilan tenaga kesehatan, sikap, dan pola hidup pasien beserta keluarga.

Penderita hipertensi umumnya berobat ketika sudah mengalami gejala yang dapat menggangu aktifitas sehari-hari seperti kaku kuduk, sakit kepala dan menurunnya fungsi penglihatan serta kebiasaan berobat secara tidak teratur sesuai dengan anjuran dokter. Biasanya penderita hipertensi berhenti minum obat hipertensi ketika gejala yang dirasakannnya berkurang tanpa ada instruksi untuk menghentikan terapi.

Oleh karena itu, untuk menciptakan pengetahuan dan pemahaman pasien dalam penggunaan obat yang akan berdampak pada kepatuhan dalam pengobatan serta keberhasilan proses penyembuhan, maka perlu dilakukan adanya pelayanan informasi obat untuk pasien dan keluarga melalui konseling obat dengan Apoteker. Di dalam Konseling obat inilah Apoteker akan mengetahui seberapa lama pasien telah menderita hipertensi, ada tidaknya penyakit lain yang menyertai hipertensi, serta ada tidaknya komplikasi penyakit berat dapat berpengaruh pada penurunan tekanan darah.

Konseling merupakan sebuah tindakan atau program yag dilakukan oleh Apoteker kepada pasien untuk dapat meningkatkan kepatuhan berobat penderita hipertensi agar tercapainya tingkat keberhasilan dalam pengobatan serta kualitas pelayanan kesehatan juga harus ditingkatkan agar pasien mendapatkan terapi yang optimal.