14 April 2021

HARIAN UMUM KORAN PADANG

Berani Menyampaikan, Santun Mengkritisi

Pembangunan Mental Melalui Sekolah Keluarga di Bukittinggi Mulai Membuahkan Hasil

BUKITTINGGI, KP – Pembangunan non fisik atau pembangunan mental oleh Pemerintah Kota Bukittinggimulai menampakkan hasil. Salah satunya dengan program sekolah keluarga yang diakui mampu menekan angka perceraian dan meningkatkan ketahanan keluarga di Kota Bukittinggi.

Ketua TP PKK Bukittinggi, Ny. Yesi Endriani Ramlan yang menjadi inisiator Sekolah Keluarga menjelaskan, Sekolah Keluarga hadir untuk menjawab keresahan karena banyaknya persoalan mental dan sosial di Bukittinggi. Sekaligus sekolah keluarga menjadi salah satu bentuk pembangunan mental atau pembangunan non fisik yang dilaksanakan oleh pemerintah. Menurutnya, Sekolah Keluarga lebih menitikberatkan pada mengembalikan dan mendekatkan orangtua ke jalan lebih baik berlandaskan agama, akidah dan akhlak sesuai tuntunan Alquran dan Hadist.

“Kita dulu yang berakhlak mulia, baru anak kita berakhlak mulia. Artinya, pembangunan mental ini tidak tampak secara kasat mata, tidak sama dengan pembangunan fisik yang langsung kelihatan hasilnya. Apa yang kita usahakan dan ubah sekarang, akan kita nikmati 5, 10 dan 15 tahun lagi. Jadi tidak heran banyak yang menilai Pemko hanya fokus pembangunan fisik, karena hasilnya langsung nampak. Padahal sebenarnya juga banyak pembangunan mental dan non fisik yang telah dilaksanakan,” tegasnya.

Dikatakannya, sekolah keluarga sudah dilaksanakan sejak tahun 2018 lalu. Setelah hampir tiga tahun berjalan, Sekolah Keluarga ternyata berpengaruh terhadap sistem ketahanan keluarga di Bukittinggi. “Sekolah Keluarga diharapkan dapat membimbing orangtua dalam mengawal anak dan generasi muda kita menjadi generasi emas di tahun 2045. Di tangan kita saat inilah, kualitas anak akan ditentukan,” ujarnya.

Sementara Mantan Ketua Pengadilan Agama Kota Bukittinggi, Orba Susilawati yang menjadi saksi kesuksesan Sekolah Keluarga membenarkan, program tersebut merupakan sistem sangat luar biasa untuk meningkatkan ketahanan keluarga. Yang tentu saja berdampak pada kesejahteraan masyarakat. Kesejahteraan masyarakat pun tidak hanya bisa dinilai dari sisi ekonomi saja.

“Sejak 2018 Sekolah Keluarga dimulai, angka perceraian di Bukittinggi menurun hingga 15 persen. Luar biasa memang, dampaknya sangat terasa namun tidak terlihat secara kasat mata. Sekolah keluarga untuk wilayah kota Bukittinggi bisa memberikan kesadaran masyarakat bahwa dalam sekolah keluarga itu ada proses edukasi untuk menciptakan ketahanan keluarga dengan memperhatikan tanggung jawab dan kewajiban masing-masing. Ini pembangunan mental atau non fisik yang dilaksanakan pemerintah,” jelasnya.

Sedangkan Walikota BukittinggiH. Ramlan Nurmatias mengatakanSekolah Keluarga merupakan jawaban atas kekhawatiran atas beratnya beban bonus demografi yang akan diterima pada tahun 2045. Sekolah Keluarga juga menjadi jalan keluar terhadap persoalan sosial yang terjadi di masyarakat.

“Pembangunan fisik dan non fisik sebenarnya berjalan beriringan. Semua lini terus berjalan, namun tentu tidak semua terekspos dengan maksimal. Apalagi pembangunan non fisik tidak terlihat langsung hasilnya. Tapi bukan berarti tidak ada pembangunan non fisik itu. Salah satunya mensejahterakan keluarga, kuncinya ada di keluarga. Karena itu guna mewujudkan keluarga yang kuat, sakinah mawaddah warrahmah, perlu penguatan keluarga lewat Sekolah Keluarga,” ungkap Wako.(eds)