18 Mei 2021

HARIAN UMUM KORAN PADANG

Berani Menyampaikan, Santun Mengkritisi

Dua Penjual Satwa Dilindungi Ditangkap di Pasaman

LUBUKSIKAPING, KP -Tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam(BKSDA) Sumbar bersama Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum (Gakkum) LHK Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menangkap dua orang pelaku perdagangan satwa dilindungi di Lubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA SumbarKhairi Ramadhanmengatakan kedua pelaku masing-masing berinisial MN (47 tahun) dan PS (38 tahun). Keduanya merupakan warga Nagari Sontang Cubadak, Kecamatan Padang Gelugur, Kabupaten Pasaman.

“Kedua pelaku diamankan ketika mengangkut dan akan memperjualbelikan satwa dilindungi di Lubuk Sikapingsekitar pukul 19.30 WIB, Kamis lalu (10/9),”ungkap Khairi Ramadhan, Minggu (13/9).

Dari tangan kedua pelaku berhasil diamankan Barang Bukti (BB) berupa dua ekor kukang (nyticebus coucang), sisik trenggiling (Manis javanica), dan sepasang tanduk kambing hutan (carpricornus sumatraensis).

“Hasil pemeriksaan sementara, pelaku MN merupakan pemburu dan penjerat satwa dilindungi seperti harimau, burung rangkong, dan berbagai jenis satwa dilindungi lainnya,”ucap Khairi Ramadhan.

Bahkan, lanjutnya, MN disinyalir merupakan penyalur dalam jaringan perdagangan satwa dilindungi sampai ke Dumai dan Batam.

“Setidaknya dari pengakuannya MN sudah memperjualbelikan harimau sebanyak 8 ekor dan ratusan paruh burung rangkong. Namun selama ini ia berhasil menghindar dari pemantauan petugas. Pelaku terkenal ahli dan licin dalam menjalankan aksinya,”ujar Khairi Ramadhan.

Saat ini semua barang bukti diamankan di kantor Pos Gakkum Kementerian LHK di Padang, termasuk barang bukti sepeda motor berplat dinas yang diduga aset salah satu pemerintahan nagari di Kabupaten Pasaman. Sedangkan kedua pelaku yang telah ditetapkan sebagai tersangka ditahan di Rumah Tahanan Polda Sumbar di Padang.

“Pelaku terancam pasal 21 ayat 2 huruf a dan huruf d Undang-undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan sanksi pidana penjara paling lama lima tahun dan denda paling banyak Rp100 juta,” katanya.

Saat ini tim gabungan KLHK sedang menelusuri pelaku lainnya dalam jaringan perdagangan yang pernah diperbuat oleh pelaku MN. (nst)