14 April 2021

HARIAN UMUM KORAN PADANG

Berani Menyampaikan, Santun Mengkritisi

SETELAH PEMBANGUNAN TAMAN BURUNG, Zona Reptil dan Karnivora Segera Hadir di TMSBK

BUKITTINGGI, KP – Ekonomi masyarakat Kota Bukittinggi sangat tergantung dengan tingkat kunjungan ke Kota Bukittinggi sebagai kota wisata. Untuk itu Pemerintah kota Bukittinggi terus meningkatkan kualitas objek wisata yang ada di Bukittinggi. Salah satunya peningkatan kualitas Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan (TMSBK).

Kadis Pariwisata Pemuda dan Olahraga Bukittinggi melalui Kabid TMSBK Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Ikbal Bahal mengatakan Kebun Binatang Bukittinggi merupakan salah satu Kebun Binatang Tertua di Indonesia. TMSBK bersama kebun binatangnya menjadi destinasi unggulan bagi pengunjung yang datang ke Bukittinggi dan memberikan konstribusi cukup signifikan terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“Demi kenyamanan bagi pengunjung serta untuk menjaga dan merawat satwa yang berada di TMSBK. Pemerintah Kota Bukittinggi memprogramkan untuk melakukan revitalisasi TMSBK yang dimulai dengan penyusunan Master Plan pada tahun 2018,” ungkap Iqbal.

Dikatakannya, revitalisasi itu dilakukan selain karena kondisi kebun binatang yang sudah lama tidak direvitalisasi, juga karena Walikota Bukittinggi H. Ramlan Nurmatias menginginkan Kebun Binatang itu tidak hanya didatangi orang untuk menyaksikan binatang yang terkurung di dalam kandangnya. “Tetapi juga menjadikan kebun binatang sebagai sarana edukasi dan konservasi bagi pengunjungnya. Artinya, Kinantan Bird PARK ini tidak hanya tempat rekreasi, tetapi juga tempat edukasi dan konservasi,” terangnya.

Dengan memanfaatkan lahan yang ada di areal TMSBK lanjutnya, untuk tahap I dibangunlah semacam taman burung yang diberi nama “Kinantan Bird Park”. Di mana Kinantan Bird Park yang dibangun di atas tanah seluas 2.500 meter persegi itu akan diisi oleh 40 hingga 50 jenis burung atau lebih dari seratus ekor burung. Burung- burung itu terasa di alam bebas dan pengunjung juga menikmatinya seperti di alam bebas yang dilengkapi air terjun dan taman yang dapat menambah daya tarik dan nuansa berbeda dari taman Burung Aviari.

“Di samping itu Taman Aviari ini juga dilengkapi 13 kandang yang nyaman untuk burung-burung yang dllindungi. Taman Aviari ini merupakan taman burung terbesar di Sumatra dan mungkin juga di Indonesia,” ungkapnya.

Kemudian jelasnya, Kinantan Bird Park juga dilengkapi fasilitas pendukung lainnya, seperti kandang adaptasi, klinik perawatan burung, ruang latih, ruang pakan (makanan burung), ruang perawat dan fasilitas konservasi lainnya. “Untuk masuk Kinantan Bird Park ini gratis bagi pengunjung TMSBK, dan ini dilakukan dalam rangka memanjakan pengunjung TMSBK dan direncanakan akan dibuka dalam minggu ini untuk umum,” sambungnya.

Lebih lanjut dijelaskannya, pembangunan Kinantan Bird Park tersebut diawali dengan membuat master plannya di tahun 2018 dan untuk pekerjaan fisiknya dilaksanakan tahun 2019 untuk tahap I. “Dan tahap II dilanjutkan pada tahun 2020 ini dengan menelan total anggaran sebesar Rp 10,34 miliar yang diambilkan dari APBD Kota Bukittinggi,” paparnya.

Di samping itu kata dia, Walikota Bukittinggi H. Ramlan Nurmatias betul-betul menginginkan TMSBK menjadi objek utama di Kota Bukittinggi yang dapat memanjakan para pengunjungnya. Artinya, kebun binatang yang ada di Bukittinggi itu dibuat berbeda dengan kebun binatang lainnya di Indonesia. Dan Wako Ramlan ingin setiap pembangunan yang dilaksanakannya bermanfaat bagi masyarakat dan dapat mendatangkan hasil bagi masyarakatnya.

Untuk itu sambungnya, seiring dengan selesainya pembangunan Kinantan Bird Park TMSBK, juga tengah dikerjakan pembangunan zona reptil yang berada di bawah tanah. Dengan selesainya zona reptil itu nantinya, pengunjung juga merasakan berada di alam reptil itu sendiri. Tidak hanya itu, juga ada zona karnifora, seperti harimau, singa, harimau dahan dan kucing emas serta hewan karnifora lainnya. “Untuk zona karnifora ini, pengunjung dapat berintegrasi dengan hewan-hewan tersebut dari balik kaca tebal. Untuk zona reptil dan karnifora, dibangun dengan anggaran Rp 12  miliar lebih yang bersumberkan dari APBD Kota Bukittinggi,” tuturnya.

“Di samping itu, tahun ini juga tengah dikerjakan revitalisasi Rumah Adat Bagonjong yang ada di dalam TMSBK, dengan item pekerjaan, penggantian atap ijuk, penggantian lantai dan perbaikan sarana prasarana lainnya, dengan menelan anggaran sebesar Rp 1,1 miliar dari APBD Kota Bukittinggi tahun 2020,” tukasnya. (eds)