21 April 2021

HARIAN UMUM KORAN PADANG

Berani Menyampaikan, Santun Mengkritisi

Wabup Zuldafri Hadiri Goro di Nagari Sungai Jambu Pariangan

BATUSANGKAR, KP – Gotong Royong merupakan sebuah tradisi yang sudah mengakar di tengah-tengah masyarakat sebagai bentuk pengejawantahan peribahasa ‘berat sama dipikul, ringan sama dijinjing’. Hal itu disampaikan Wakil Bupati Tanahdatar H. Zuldafri Darma, ketika turut menghadiri kegiatan Gotong Royong (Goro) di Nagari Sungai Jambu Kecamatan Pariangan, Sabtu (12/9) lalu.

Disebutkannya, arti peribahasa dan menjadi rujukan kebiasaan masyarakat Minangkabau tersebut yakni dalam melaksanakan sebuah pekerjaan secara bersama-sama, sehingga pekerjaan itu semakin mudah dan gampang untuk dilaksanakan.

“Dengan kebersamaan dan kekompakan, seberat apapun pekerjaan kalau kita laksanakan bersama, tentu akan terasa lebih ringan dan mudah menyelesaikannya. Goro menjadi salah satu langkahnya, apalagi saat ini keterbatasan APBD Tanahdatar, Goro dengan mengandalkan swadaya masyarakat tentunya akan sangat membantu pembangunan, khususnya di nagari,” ujar Wabup Zuldafri.

Tidak itu saja tambah Wabup, Goro juga bisa menjadi wadah meningkatkan rasa kekeluargaan dan silaturahmi antar sesama masyarakat. “Dalam Goro terjadi interaksi dan komunikasi antar sesama, sehingga saat itu bisa dilakukan penyamaan persepsi atau pandangan, penyampaian permasalahan serta cara pemecahannya. Sehingga melihat manfaat Goro sangat banyak, tentu tidak ada salahnya kebiasaan ini terus dilestarikan dalam pola kehidupan masyarakat kita,” tukasnya.

Di kesempatan itu juga, A. Dt. Sinaro Nan Gotik yang merupakan salah seorang tokoh masyarakat dan ninik mamak Pasukuan Payo Badar Bawah Nagari Sungai Jambu menyampaikan terima kasih atas kehadiran dan atensi Wabup. “Tentunya kehadiran Wabup menjadi motivasi tersendiri bagi kami dari Pasukuan Payo Badar Bawah yang sedang Goro mengambil pasir dan batu untuk memperbaiki bekas Kantor Desa yang bakal dimanfaatkan untuk penyimpanan alat-alat pesta pernikahan dan alat untuk kematian milik suku Payo Badar. Sehingga alat ini aman, terjaga dan bisa dimanfaatkan setidaknya oleh 400 KK suku kami,” ungkap A. Dt. Sinaro Gotik.

A. Dt. Sinaro Gotik menambahkan, masyarakat di pasukuan Payo Badar tetap melestarikan budaya goro dalam kehidupan bermasyarakatnya. “Alat pernikahan dan kematian yang telah ada, bisa dimanfaatkan oleh seluruh Pasukuan Payo Badar ketika diperlukan, itu menandakan goro dalam kebersamaan tetap kami jaga sampai saat ini, dan Insya Allah akan tetap lestari di pasukuan kami ini,” pungkasnya.

Di kesempatan itu, sebagai bentuk dukungan dan motivasi, Wabup Zuldafri Darma membantu 20 Sak Semen sebagai bahan pembangunan gudang penyimpanan itu. (nas)