18 Mei 2021

HARIAN UMUM KORAN PADANG

Berani Menyampaikan, Santun Mengkritisi

Wagub Nasrul Abit Beri Smartphone untuk Kakak Beradik Anak Penjual Belut

PADANG, KP – Di masa pandemi covid-19 mengharuskan pelajar dan mahasiswa untuk memiliki smartphone agar proses belajar secara daring bisa berjalan baik. Namun, tidak semua pelajar bisa memiliki smartphone yang harganya terbilang tidak murah. Seperti yang dialami dua orang kakak beradik penjual belut di Padang.

Mereka adalah Ansyah Putra dan Pamil Prasatio Syah Puyra. Mereka hidup dengan kondisi keluarga yang bisa dikatakan jauh dari kata cukup. Penjualan belut yang dilakoni ayahnya Asraf hanya bisa memenuhi kebutuhan makan dari hari ke hari.Dengan kondisi yang demikian, bagaimana pula Asraf bisa membeli sebuah smartphone untuk anak-anaknya guna membantu proses belajar daring di masa pandemi covid-19.

Ansyah Putra atau yang akrab disapa Aan menceritakan penghasilan ayahnya dari hari-hari tidak menentu. Terkadang bisa mendapatkan 4 kilogram belut bila cuaca lagi hujan.Tapi bila cuaca panas, hasil menangkap belut menggunakan lukah hanya dapat 2 kilogram saja. Untuk 1 kilogram belut itu dijual Rp35.000.Artinya penghasilan dari ayahnya itu berkisar Rp70.000.

“Tidak setiap hariayah saya menangkap belutkarena lihat cuaca juga. Padahal kebutuhan selalu ada dan kami ada tiga orang beradik kakak,” katanya, kemarin.

Aan ini kini tengah menempuh pendidikan dan berjuang meraih strata 1 di di Fakultas HukumUniversitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang angkatan 2016. Sementara adiknya Pamil Prasatio Syah Puyra yang akrab disapa Pamil masih duduk dibangku Sekolah Dasar (SD), dan adiknya satu lagi masih belum mencukupi untuk bersekolah.

“Kami ini perantau yang datang dari Kabupaten Pesisir Selatan. Alasan merantau ke Padang untuk mencari ekonomi yang lebih layak ketimbang di kampung dimana saat ini perekonomian sangat sulit,” ujar dia.

Begitu juga dengan ayahnya, menangkap belut bukandi wilayah Kota Padangtapi di Pesisir Selatan. Artinya, ayah Aan harus bolak balik dari kampung halamannya ke Padang.

“Kata ayah harga belut di Padang lebih tinggi ketimbang di kampung,” ujar Aan.

Ia menceritakan adiknya Pamil pernah satu minggu tidak belajar daringkarena tidak punya smartphone. Sedih jelas. Sementara anak-anak lainsibuk belajar setiap pagi menggunakan smartphone, adiknyahanya bisa duduk dan berdiam diri di rumah.

Kondisi seperti itumau tidak mau harus dilalui oleh Pamil. Bahkan Aan terus berupaya mengumpulkan uang membeli smartphone agar adiknya bisa belajar dan tidak libur lagi. Setelah sekian lamakondisi itu dilalui Aan bersama adiknya, perjuangannya itu sampai ke telinga Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit.