20 Juni 2021

HARIAN UMUM KORAN PADANG

Berani Menyampaikan, Santun Mengkritisi

Padangpariaman Pilot Project Nasional Penyusunan Renkon Kebencanaan

PARITMALINTANG, KP – Pemerintah Kabupaten Padangpariaman memulai penyusunan dokumen Rencana Kontingensi (Renkon) Bencana Gempa Bumi dan Tsunami di Masa Pandemi Covid-19, Senin (14/9) lalu.

Workshop penyusunan dokumen Renkon Kebencanaan Padang Pariaman akan, dilaksanakan di Hall IKK Padang Pariaman hingga Rabu (16/9).

Direktur Kesiapsiagaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)Eny Supartini, akan menghadirinya, karena Renkon tersebut telah ditetapkan sebagai pilot project nasional.

“Jadi dokumen Renkon yang kita susun di Padangpariaman ini, akan menjadi rujukan penyusunan Renkon daerah lain di Indonesia nantinya,” ujar Eni dalam sambutannya jelang pelaksanaan workshop.

Eny menjelaskan, review dokumen renkon bencana gempa dan tsunami sangat penting dilakukan. Sehingga, di dalamnya dapat disesuaikan dengan kondisi pandemi saat ini. “Sampai sekarang belum ada yang dapat memastikan kapan pandemi ini berakhir. Jadi kita harus benar-benar siaga dalam segala hal kebencanaan,” ujarnya.

Ia mencontohkan, bencana gempa dan tsunami. Sebelum adanya pandemi, proses evakuasi warga bisa dibilang sulit berjalan. Apalagi saat pendemi Covid-19 ini, menurutnya tugas dalam evakuasi tentunya semakin berat. Sebab, masyarakat tidak bisa dievakuasi ke satu titik saja.

“Strategi ini yang bakal kita rumuskan dalam dokumen Renkon Bencana Gempa dan Tsunami di masa pandemi ini. Jadi kita bisa tentukan bagaimana jalur dan titik evakuasi warga saat gempa ataupun tsunami di masa pandemi berjalan baik dan tidak menciptakan klaster penyebaran Covid-19,” ujarnya.

Untuk itu, baginya keseriusan para peserta workshop renkon di Padangpariaman sangat diperlukan. Sehingga, mereka nantinya benar-benar mamahami dokumen tersebut. “Kita sangat serius dengab penyusunan dokumen renkon ini. Makanya tim penyusunnya kita buatkan langsung SK-nya,” ungkapnya.

Begitupun setelah dokumen tersebut rampung, ia menekankan agar OPD dan stakeholder lainnya di Padangpariaman memahaminya dengan baik. Sehingga, mereka benar-benar mampu menjalani isi dokumen tersebut ketika terjadi bencana.

“Selain penyusunan dokumen Renkon Kebencanaan Padangpariaman ini, kita ke Padangpariaman juga dalam ekspedisi. Salah satunya untuk menilai ketangguhan desa atau nagari. Sebab nagari juga ujung tombak dalam penanggulangan bencana,” ujarnya.

Dengan penilaian itu, diharapkannya forum pengurangan risiko bencana di nagari dibuat lebih kuat lagi. Begitupun para relawan di nagari. “Pada dasarnya semua sudah ada terlibat soal kebencanaan di desa/nagari. Kini tinggal kita memastikan mereka semaki tangguh atau fight kapan saja,” pungkasnya.

Sementara Bupati Padangpariaman,Ali Mukhni mengatakan, kebencanaan sangat menjadi perhatian seriusnya. Bahkan, dirinya bersama BPBD dan stakeholder terkait selalu menyosialisasikan kebencanaan hingga ke tingkat korong di Padangpariaman.

“Kita sering sampaikan di nagari-nagari untuk selalu waspada, siaga dan memahami prosedur evakuasi apabila terjadi bencana. Sebab kita tidak ingin kejadian 2009 terulang. Sampai-sampai ada kuburan massal di daerah kita,” ujar Ali Mukhni.

Untuk itu, dirinya dan jajaran berpikir keras dalam penanggulangan dan penekanan risiko dampak bencana, dengan membentuk program-program inovatif di BPBD Padangpariaman.

Di antaranya Sistem Informasi Penanggulangan Bencana (Simuna), Datang Menyelesaikan Masalah Dampak Bencana (Tangkas Aman), Padang Pariaman Siaga Darurat Bencana (Papa Sadar Bana), dan Pusat Data Kejadian Bencana (Pataka).

“Kita berinovasi agar gerak kita benar-benar cepat dan nyata ketika terjadi bencana. Jadi, saat bencana itu terjadi, kita tidak hanya survei, tetapi langsung merumuskan dan bertindak mencarikan solusi dalam waktu 24 jam,” ujar bupati dua periode itu.

Di tempat yang sama Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Padangpariaman, Budi Mulya menjelaskan, memang baru Padangpariaman yang melakukan penyusunan dokumen Renkon Bencana Gempa dan Tsunami di Masa Pandemi. Langkah cepat itu diambil pihaknya, karena kondisi pandemi tidak dapat dipastikan berakhirnya.

“Jumlah masyarakat kita di Padangpariaman ini sangat banyak. Kondisi geografis daerah kita juga banyak yang rawan bencana. Kita juga sudah pernah mengalami musibah besar di tahun 2009 lalu,” ujarnya. (war)