19 April 2021

HARIAN UMUM KORAN PADANG

Berani Menyampaikan, Santun Mengkritisi

Kasus Ibu Bunuh Anak Gara-gara Belajar Daring Pertanda Bahaya Serius

JAKARTA, KP – DPR RI menyoroti penganiayaan yang menyebabkan tewasnya seorang anak di Lebak, Banten. Motif di balik peristiwa tersebut karena pelaku kesal akibat anaknyaKS (8 tahun)sulit mengikuti Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dengan sistem daring.

Ketua Komisi X DPR Syaiful Huda mengatakankasus itu menunjukkan metode PJJ sistem daring membutuhkan penanganan lebih serius dari para pemangku kepentingan (stakeholder). Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan harus benar-benar memantau pelaksanaan PJJ karena kasus itu juga dapat dimaknai sebagai peringatan tanda bahaya yang serius.

“Karena banyaknya kendala yang bisa memberikan tekanan psikis terhadap siswa, orangtua siswa, maupun para guru. Kasus pembunuhan anak oleh seorang ibu yang kesal akibat anak kesulitan mengikuti PJJ harus menjadi peringatan keras bagi kita semua,” ujar Syaiful Huda, Rabu (16/9).

Model pembelajaran jarak jauh memang mempunyai banyak kendala, misalnya rendahnya literasi digital di sebagian besar ekosistem pendidikan nasional, keterbatasan kuota data, belum solidnya metode pembelajaran jarak jauh, hingga tidak meratanya sinyal internet di berbagai wilayah.

“Berbagai kendala ini menciptakan tekanan psikologis yang lumayan besar bagi para siswa, guru, dan orangtua siswa,” katanya.

Kondisi tersebut, ujar Huda, diperparah dengan situasi sosial-ekonomi yang kian berat sebagai dampak pandemi covid-19. Banyaknya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), pemotongan gaji, hingga hilangnya kesempatan berusaha juga yang dialami sebagian orangtua siswa dan membuat beban hidup kian berat.

“Maka, bisa jadi berbagai tekanan tersebut menciptakan ledakan emosional jika dipicu hal-hal yang terkesan sepele, seperti anak yang tidak cepat mengerti saat melakukan pembelajaran jarak jauh,” katanya.

Ia berharap agar pihak sekolah memberikan pemahaman kepada para guru dan orangtua siswa akan turunnya beban kompetensi dasar yang harus dipenuhi siswa selama proses pembelajaran jarak jauh. Hal ini penting sehingga guru dan orangtua tidak melulu mengejar pemenuhan beban kompetensi selama masa pandemi.

“Pada praktik PJJ selama ini guru hanya memberikan beban, baik berupa hapalan maupun tugas begitu saja kepada siswa. Kondisi ini membuat orangtua siswa kerap kali stres karena harus menyetorkan tugas tersebut melalui video maupun gambar kepada guru. Harusnya, pola ini tidak lagi terjadi karena sudah ada modul-modul PJJ yang disediakan oleh Kemendikbud,” katanya.

KRONOLOGIS IBU BUNUH ANAK

Warga Desa Cipalabuh, Kecamatan Cijaku, Kabupaten Lebak, Banten, digegerkan dengan penemuan jenazah anak kecil berinisial KS (8 tahun). Dia dikubur di TPU Gunung Keneng dengan pakaian lengkap. Ternyata, korban yang masih duduk di kelas 1 SD itu meninggal karena dianiaya oleh Ibunya LH (26 tahun). Pelaku tega membunuh putrinya sendiri lantaran kesal sang anak sulit menerima pembelajaran saat belajar daring (online)

“Pelaku memukul lebih dari lima kali pada 26 Agustus lalu sekitar pukul 09.00 WIB. Dari pengakuan pelaku, anaknya sedang belajar daring dengan sekolah,” kata Kasatreskrim Polres Lebak AKP David Adhi Kusuma, kepada awak media di kantornya, Selasa (15/9).

Lantaran sulit menerima pembelajaran daring, sang ibu merasa kesal kemudian menganiaya anaknya. Awalnya hanya mencubit, kemudian memukul tubuhnya menggunakan tangan, gagang sapu, hingga mendorongnya dan kepalanya terbentur lantai.

Sang ayah IS (27 tahun) yang baru pulang ke kontrakannya di daerah Kreo, Tangerang, Banten, kaget melihat putrinya dalam kondisi lemas. Kemudian LH dan IS berniat membawa KS ke rumah sakit menggunakan sepeda motor. Nahas, di perjalanan KS menghembuskan napas terakhirnya. Karena panik, LH dan IS membawa jenazah putri kandungnya itu ke Cijaku, Kabupaten Lebak, Banten, untuk dimakamkan dengan meminjam cangkul dari warga sekitar.

“Kemudian berupaya menghilangkan jejak dengan menguburkan korban. Di TPU di Cijaku itu ada makam neneknya. Setelah menguburkan jenazah, mereka pulang dan pindah kontrakan,” katanya.

Jenazah korban ditemukan warga sekitar pada Sabtu lalu (12/9) karena curiga melihat gundukan kuburan yang masih baru. Kemudian masyarakat bersama pihak kepolisian membongkar gundukan tanah itu dan ditemukan jenazah KS.

Tak perlu waktu lama, LH dan IS berhasil ditangkap Minggu dinihari (13/9) di rumah kontrakan barunya di daerah Jakarta. Sementara anak pelaku yang merupakan saudara kembar KS dititipkan ke rumah saudaranya untuk diasuh dan dirawat.

Berdasarkan otopsi luar kepada korban, terdapat luka lebam pada kepala kanan dan tulang tengkorak yang diduga terkena hantaman benda tumpul.

Karena perbuatannya, kedua pelaku ditetapkan sebagai tersangka dan dijerat Pasal 80 Ayat 3, Undang-undang (UU) Nomor 35 Tahun 2104 Perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak dan atau Pasal 338 KUHP.

“Saudara kembarnya ada di sana (saat kakaknya dianiaya ibunya). Ia kami titipkan dengan permintaan orangtua kepada kakak kandung pelaku. Saat (memakamkan kakaknya) di TPU di Cijaku, saudara kembar korban dibawa juga, menyaksikan juga penguburan,” katanya. (rol)