24 Juli 2021

HARIAN UMUM KORAN PADANG

Berani Menyampaikan, Santun Mengkritisi

Gedung Kejagung Diduga Sengaja Dibakar

JAKARTA, KP – Mabes Polri menduga ada unsur kesengajaan dalam kebakaran Gedung Utama Kejaksaan Agung (Kejagung) yang terjadi Sabtu malam lalu (22/8). Kabareskrim Polri Komjen Polisi Listyo Sigit Prabowo memastikan akan menggunakan pasal berlapis untuk menjerat pelaku penyebab kebakaran di Gedung Utama Kejagung tersebut.

Sigit mengatakan tim penyidik akan menjerat pelaku menggunakan Pasal 187 KUHP dengan ancaman penjara seumur seumur hidup dan Pasal 188 KUHP dengan ancaman lima tahun penjara.

“Penyidik berkesimpulan terdapat dugaan peristiwa pidana. Sehingga kami tingkatkan perkara ini dari penyelidikan ke penyidikan,” tuturnya dalam jumpa pers di Mabes Polri, Kamis (17/9).

Sigit memastikan kebakaran yang terjadi di Gedung Utama Kejagung tersebut bukan disebabkan oleh arus pendek listriktetapi karena ada nyala api terbuka atau open flame, sehingga seluruh ruangan terbakar habis.

“Api diduga berasal dari lantai enam tepatnya di ruang rapat Biro Kepegawaian dan menjalar ke ruangan serta lantai lainnya yang diduga ada akseleran ACP di lapisan luar gedung dan cairan minyak lobi yang mengandung senyawa hidro karbon ditambah ada bahan-bahan yang mudah terbakar,” katanya.

Dalam keterangan lainnya, Kabareskrim Polri, Listyo Sigit Pramono mengatakan, pihaknya sudah memeriksa 131 orang saksi. Mereka adalah petugas kebersihan, office boy, pegawai Kejagung, sejumlah jaksa, serta sejumlah ahli kebakaran dan pidana.

“Kami kemudian melakukan pendalaman lebih lanjut di dalam proses penyelidikan,” kata Listyo.

Adapun barang bukti yang diamankan adalah CVR kamera pengawas (CCTV), abu arang sisa kebakaran, potongan kayu sisa kebakaran, beberapa botol plastik berisi cairan, serta jirigen berisi cairan.

Barang bukti lainnya adalah kaleng bekas lem, kabel atau instalasi listrik, minyak pembersih. “Semuanya disimpan di gudang cleaning service,” katanya.

Namun, sampai sekarang polisi belum menetapkan tersangka kebakaran tersebut.

Tim puslabfor juga mendapati fakta ada saksi yang mengetahui dan berusaha memadamkan kebakaran tersebut. Namun karena tidak terdukung oleh infrastruktur dan sarana-prasarana yang memadai, sehingga kemudian api tersebut semakin membesar. Ketika api makin membesar, pihak Kejagung meminta pertolongan tim pemadaman kebakaran.

Seperti diketahui, Gedung Kejaksaan Agung mulai terbakar pada Sabtu sore (22/8) dan baru bisa dipadamkan keesokan harinya, Minggu pagi (23/8).Kebakaran gedung Kejagung ini sempat menimbulkan spekulasi di masyarakat, yang mengaitkan dugaan keterlibatan seorang jaksa dalam eksekusi kasus korupsi Djoko Tjandra.

Tuduhan ini dibantah Kejaksaan Agung dan sejumlah pejabat terkait kemudian meminta masyarakat tidak berspekulasi atas penyebab kebakaran tersebut.Dalam berbagai kesempatan, otoritas Kejagung menyatakan bahwa berkas-berkas penting -di antaranya berkas perkara Djoko Tjandra- tidak ikut terbakar.

REAKSI KEJAGUNG

Kejaksaan Agung menyatakan pihaknya mengapresiasi hasil penyelidikan kepolisian yang mengungkap ada unsur pidana dalam kebakaran gedung utama Kejagung.

“Pada prinsipnya, pimpinan Kejaksaan Agung mendukung penuh pengungkapan peristiwa pidana ini,” kata Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum (Jampidum) Fadil Zumhana, Kamis (17/9).

Dia mengatakan, sejak awal Kejagung bersungguh-sungguh mengungkap peristiwa kebakaran tersebut. Dia juga mengatakan pihaknya selalu bekerja sama dengan polisi.

“Ini kami lakukan secara bersama-sama sejak awal terbentuknya posko bersama di Kejaksaan Agung,” ujarnya.

Menurutnya, Jaksa Agung ST Burhanuddin bersungguh-sungguh agar kasus ini dilakukan secara transparan. Dia meminta semua pihak memantau penuntasan kasus kebakaran ini. (cnn)