28 Juli 2021

HARIAN UMUM KORAN PADANG

Berani Menyampaikan, Santun Mengkritisi

BAHAS ‘SUMBANG DUO BALEH’Ketua LKAAM Bukittinggi Buka Sosialisasi Adat dan Budaya

BUKITTINGGI, KP – Walikota Bukittinggi diwakili Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Bukittinggi H. Syahrizal Dt. Palang Gagah, membuka secara resmi Sosialisasi Adat dan Budaya bagi Bundo Kanduang, Puti Bungsu dan Rang Mudo se-Kecamatan Mandiangin Koto Selayan (MKS) Bukittinggi di Aula Kantor Camat MKS, Kamis (17/9). Turut hadir pada kesempatan tersebut Ketua KAN Mandiangin, Bundo Kanduang Kota Bukittinggi, Ketua Bundo Kanduang Mandiangin Koto Selayan serta penasehat Bundo Kanduang Mandiangin Koto Selayan.

Camat MKS, Erizal dalam sambutannya menyampaikan, beberapa waktu lalu telah dilaksanakan acara budaya yang serupa. Yakni berupa diskusi adat dalam rangka meningkatkan peranan mamak tungganai dalam kaum dan mendapatkan respon positif dari masyarakat. Untuk itu saat ini kembali dilaksanakan sosialisasi budaya khususnya kepada Bundo Kanduang, Puti Bungsu dan Rang Mudo se-Kecamatan MKS.  

“Sosialisasi Adat dan Budaya yang dilaksanakan hari ini khususnya ditujukan kepada Bundo Kanduang, Puti Bungsu dan Rang Mudo dengan materi yang akan disampaikan nantinya oleh Ketua Bundo Kanduang Kota Bukittinggi yakni membahas tentang Sumbang duo baleh,” ucapnya.

Dijelaskannya, pembahasan materi tentang sumbang duo baleh tersebut diambil untuk mengingatkan dan meningkatkan kembali pemahaman duo baleh ketetapan dan larangan yang harus ditaati perempuan minang. “Karena pada akhir-akhir ini sumbang duo baleh sudah terlalu sumbang dan sangat terabaikan oleh anak kemenakan kita, khususnya di Kecamatan MKS,” sebutnya.  

Sementara Ketua LKAAM Bukittinggi H. Syahrizal Dt.Palang Gagah, dalam sambutannya mengapresiasi kepedulian Camat, tokoh kerapatan adat dan bundo kanduang Kecamatan MKS karena telah menyelenggarakan acara yang sangat strategis itu disebabkan banyaknya terjadi perubahan di masyarakat.

“Kegiatan ini sangat kami apresiasi, karena memang kita bersama-sama telah melihat bahwa ‘jalan lah dialiah urang lalu, cupak lah dianjak urang manggaleh’. Betapa kita tidak paham lagi dengan adat sendiri, jati diri sendiri, sehingga terjadilah pergeseran yang seharusnya tidak terjadi. Apalagi terhadap yang muda-muda, di rumahpun anak-anak tidak berbahasa minang lagi sebagai bahasa ibu. Sementara bahasa itu adalah identitas, ini dampak terkikisnya adat dan budaya kita, makanya perlu diingatkan kembali dalam bentuk sosialisasi adat. Semoga kegiatan ini membawa manfaat untuk kemajuan bundo kanduang dalam melestarikan kebudayaan Minangkabau di Kota Bukittinggi,” tuturnya.

Kemudian dia juga menjelaskan tentang tiga jenis perempuan di Minangkabau, yakni padusi Simarewan, padusi Mambang Taliawan dan Bundo kanduang. “Padusi Simarewan dan Mambang Taliawan merupakan perempuan yang tidak beradat. ‘Bapaham co gata aia, iko elok itan katuju, bak pimpiang tumbuah di lereng, alun dijujai inyo lah galak’. Sedangkan perempuan ketiga adalah Bundo Kanduang, orang tua sejati patut dicontoh teladani, orang yang jadi penawar, itulah Bundo Kanduang,” paparnya.

Di samping itu, mengingat hingga saat ini Pandemi Covid-19 masih belum lagi berakhir, ia mengajak semua peserta sosialisasi untuk senantiasa memelihara diri, memelihara keluarga dan memelihara tetangga dengan cara selalu memakai masker dan mengimbau agar tidak keluar rumah. “Sering mencuci tangan pakai sabun dan jaga jarak serta menghindari kerumunan. (eds)