28 Juli 2021

HARIAN UMUM KORAN PADANG

Berani Menyampaikan, Santun Mengkritisi

KURIKULUM BARU KEMENDIKBUD, Sejarah Bukan Pelajaran Wajib SMA

JAKARTA, KP – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) berencana membuat mata pelajaran sejarah menjadi tidak wajib dipelajari siswa SMA dan sederajat. Di kelas 10, sejarah digabung dengan mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial (IPS). Sementara Bagi kelas 11 dan 12 mata pelajaran sejarah hanya masuk dalam kelompok peminatan yang tak bersifat wajib.

Hal itu tertuang dalam rencana penyederhanaan kurikulum yang akan diterapkan Maret 2021. Dilansir cnnindonesia.com, dalam file sosialisasi Kemendikbud tentang penyederhanaan kurikulum dan asesmen nasionaldijelaskan bahwa mata pelajaran sejarah Indonesia tidak lagi menjadi mata pelajaran wajib bagi siswa SMA/sederajat kelas 10. Melainkan digabung di mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).Padahal, dalam kurikulum 2013 yang diterapkan selama inimata pelajaran Sejarah Indonesia harus dipelajari dan terpisah dari mata pelajaran lainnya.

Adapun mata pelajaran wajib bagi siswa SMA kelas 10 dalam kurikulum yang disederhanakan itu adalah Pendidikan Agama, PPKn, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, Bahasa Inggris, Seni dan Prakarya, Pendidikan Jasmani, Informatika, dan Program Pengembangan Karakter.

Kemudian untuk siswa kelas 11 dan 12 SMA/sederajat, mata pelajaran sejarah juga tidak wajib dipelajari. Adapun mata pelajaran wajib bagi siswa kelas 11 dan 12 kelompok IPA, IPS, Bahasa dan Vokasi yaitu Agama dan Kepercayaan kepada Tuhan YME, PPKN, Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, Seni dan Prakarya, serta Pendidikan Jasmani.

Mata pelajaran sejarah bisa dipelajari siswa kelompok peminatan IPA, IPS, bahasa dan vokasi. Namun, tidak bersifat wajib.Siswa kelompok IPS akan diberi pilihan 5 mata pelajaran tambahan, yakni Geografi, Sejarah, Sosiologi, Ekonomi, dan Antropologi. Siswa hanya akan diminta memilih 3 dari 5 mata pelajaran tersebut.Dengan kata lain, siswa diperkenankan untuk tidak memilih mata pelajaran sejarah. Misal, siswa boleh memilih geografi, sosiologi, dan ekonomi.

Di kelompok IPA, sejarah juga tidak termasuk mata pelajaran wajib. Siswa bisa memilih untuk mempelajari atau tidak mempelajari sejarah.Siswa kelompok IPA diberi pilihan 7 mata pelajaran tambahan, yaitu Biologi, Fisika, Kimia, Informatika Lanjutan, Ilmu Kesehatan, Matematika Lanjutan, dan Matematika Terapan.

Kelompok IPA juga harus mengambil salah satu mata pelajaran pilihan yang ada di kelompok IPS. Sejarah bisa dipilih, namun tidak bersifat wajib. Ada pilihan mata pelajaran IPS lainnya yang bisa dipilih siswa.Dengan kata lain, siswa kelompok IPA bisa mengambil 2 mata pelajaran IPA plus 1 mata pelajaran IPS. Siswa juga bisa mengambil 1 mata pelajaran IPA plus 2 mata pelajaran IPS.

“Di kelas 11 dan 12, siswa diwajibkan untuk mengambil minimal 3 mata pelajaran pilihan dengan syarat minimal 1 mapel kelompok MIPA dan 1 mapel kelompok IPS, 1 mapel kelompok bahasa dan satu vokasi,” mengutip data paparan Kemendikbud.

Di kelompok siswa bahasa dan vokasi, siswa peminatan bahasa diberi pilihan 3 mata pelajaran tambahan, yaitu Bahasa dan Sastra Indonesia, Bahasa dan Sastra Inggris, dan Bahasa dan Sastra Asing.Kemudian untuk pendidikan kecakapan hidup dan vokasi terdapat tiga mata pelajaran, yakni Pengalaman Dunia Kerja, Mata Pelajaran Vokasional, dan Kewirausahaan.Kelompok siswa peminatan bahasa dan vokasi harus memilih 1 pelajaran IPA dan 1 pelajaran IPS.

Pegiat pendidikan yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa Kemendikbud sudah menyampaikan rencana penyederhanaan kurikulum itu dalam pertemuan dengan guru dan para pegiat edukasi. Namun, hingga berita ini diturunkan belum ada tanggapan dari pihak Kemendikbud meski wartawan sudah mencoba menghubungi Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbud Maman Fathurrahman dan Kepala Biro Humas dan Kerjasama Kemendikbud Evy Mulyani.

PETISI ‘TOLAK MATA PELAJARAN SEJARAH TAK WAJIB’

Sebanyak 9.075 orang terpantau menandatangani petisi digital yang menolak wacana pencabutan mata pelajaran Sejarah sebagai mata pelajaran wajib pada kurikulum baru Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Tempatkan mata pelajaran Sejarah di struktur kurikulum dalam kelompok mata pelajaran dasar yang wajib diajarkan seluruh bangsa di semua tingkat kelas dan jenjang SMA, SMK, MA, MK,” tulis petisi tersebut, dikutip dari situs change.org, Jumat (18/9).

Petisi tersebut mengatakan ingatan akan sejarah bangsa merupakan ilmu yang penting dipelajari setiap generasi muda. Jika hal ini dilupakan, generasi ini bisa tak tahu latar belakang sejarah mereka, dan terkikis jati dirinya.

Kondisi ini bisa menggagalkan upaya pemerintah menjadikan masyarakat Indonesia sebagai manusia yang berkarakter dan berbudaya. Menurut penulis petisi, pelajaran sejarah harus dijadikan kewajiban untuk siswa.

“Mata pelajaran Sejarah adalah media yang paling ampuh untuk memperkuat jati diri dan karakter manusia. Ia juga merupakan alat pemersatu kita sebagai sebuah bangsa. Sedangkan guru Sejarah adalah ujung tombak sekaligus benteng dari peradaban,” lanjut petisi tersebut.

Sebelumnya, wacana perubahan kurikulum disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim pada awal September ini di hadapan Komisi X DPR RI. Ia mengatakan kurikulum baru bakal diuji coba tahun 2021. Melalui perubahan kurikulum itu, ia ingin guru mengidentifikasi siswa dan mengajar sesuai kemampuan mereka. Menurutnya capaian pendidikan yang ditargetkan pemerintah sulit tercapai jika materi belajar diseragamkan secara nasional. (cnn)