21 Juni 2021

HARIAN UMUM KORAN PADANG

Berani Menyampaikan, Santun Mengkritisi

TIDAK ADA BALIHO DAN MOBIL BRANDING, Ferizal-Nurkhalis Maju Sebagai Kepala Daerah Tanpa Modal

LIMAPULUH KOTA, KP- Kere alias miskin. Inilah kondisi riil pasangan calon Bupati-Wakil Bupati Limapuluh Kota Ferizal Ridwan-Nurkhalis (FN) yang sesungguhnya. Maju sebagai pasangan calon Bupati-Wakil Bupati Limapuluh Kota lewat jalur peseorangan, Ferizal Ridwan-Nurkhalis benar-benar tak punya ‘modal’ untuk berkompetisi. Dibanding tiga paslon Bupati-Wakil Bupati lainnya, yakni Muhammmad Rahmad-Asyirwan Yunus (MR-AY) Darman Sahladi-Markas Datuak Pobo (Salam) dan Safaruddin Datuak Bandaro Rajo-Rizki Kurniawan Nakasri (Safari), pasangan Ferizal Ridwan-Nurkhalis adalah paslon paling ‘bansaik’ tak punya uang untuk modal Pilkada.

Jangankan memasang baliho, barner, billboard atau membranding mobil untuk kampanye yang butuh biaya mahal dan besar, untuk membuat spanduk ukuran 1X1 meter saja, Ferizal Ridwan-Nurkhalis nyaris tak punya uang untuk biaya promosi media luar tersebut. Hebatnya, meski disebut paslon Bupati-Wakil Bupati Limapuluh Kota ‘kere’ tak punya uang, Ferizal Ridwan-Nurkhalis tak tersinggung dan tidak pula berkecil hati, karena memang itulah fakta sesungguhnya.

Meski ada yang bilang mustahil, karena dia menjabat Wakil Bupati. Tapi, kalaupun ada penghasilan dari jabatannya sebagai Wakil Bupati tersebut, diakui Ferizal Ridwan habis untuk kegiatan sosial yang banyak ditanganinya. “Setelah tidak menjabat dan semua fasilitas mobil dinas dikembalikan, saya akan kembali menggunakan sepeda motor untuk beraktifitas, itu sama kondisinya dengan saya sebelum menjadi Wakil Bupati,” terangnya.

Pertanyaanya, kalau tidak punya uang, bagaimana mau jadi Bupati? Apakah akan bisa menang? “Banyak juga pertanyaan seperti itu sampai ke telinga saya. Namun bagi saya, untuk jadi Bupati adalah panggilan perjuangan, pengabdian dan cara bersyukur atas berkah dari Allah Ta’ala. Jadi, uang bukanlah yang utama karena yang utama adalah niat dan panggilan hati. Sudah banyak juga buktinya, uang bukan segalanya dalam mencapai posisi perjuangan itu,” ujar Ferizal Ridwan berpendapat.

Ferizal Ridwan mengenang situasi 5 tahun lalu, ketika dia memutuskan maju sebagai pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati periode 2015-2020 bersama Irfendi Arbi. “Ketika itu kondisi saya dan kakanda Irfendi sama-sama tidak memiliki uang untuk ikut berkompetisi. Dan bisa dipastikan, dibanding para calon lain waktu itu kami kalah jauh dari urusan ‘modal’. Namun berkat pertolongan Allah Ta’ala, dari keyakinan dan kekuatan silaturahmi yang dibangun selama bertahun-tahun, kami berhasil mendapat suara terbanyak dengan modal tersedikit,” ungkapnya.

Menurutnya, selain pertolongan Allah SWT dan kekuatan silaturahmi, harapan masyarakat Limapuluh Kota terhadap perubahan yang signifikan juga turut menjadi alasan dipilihnya dia, waktu itu. “Memang dalam Visi-Misi dan janji kampanye, beberapa program kami cukup menjadi daya tarik waktu itu, seperti menjadikan “Harau Menuju Dunia” sebagai destinasi wisata internasional, membangun Universitas Tan Malaka dan beberapa program lainnya menjadi pertimbangan masyarakat untuk memberikan amanah kepemimpinan itu,” paparnya.

Diakui Ferizal, masih banyak dari program tersebut yang belum berjalan. Namun pondasi dari semua itu sudah mulai dibangun. Seperti pendirian Universitas Tan Malaka, dia bersama para sahabat, donatur dan semua yang peduli dengan pemikiran Bapak Bangsa Ibrahim Dt Tan Malaka sudah berhasil memindahkan makam beliau ke Limapuluh Kota. “Hal ini merupakan pondasi besar, di mana nantinya akan dilanjutkan dengan tindakan yang lebih nyata, yang Insya Allah jika saya terpilih jadi Bupati, saya akan jadikan prioritas,” ulasnya.

Menurut Ferizal, booming Tan Malaka akan disinergikan dengan PDRI. Akan diupayakan adanya kompensasi dari pusat untuk jasa Tan Malaka dan PDRI sebagai pembuat landasan dan penyangga Bangsa Indonesia. “Kompensasi itu berupa pendirian Universitas Tan Malaka serta seluruh infrastrukturnya, termasuk jalan, dll. Ini sangat bisa dilakukan dan pondasinya telah kita tanam,” tuturnya.

Begitu juga dengan ‘Harau Menuju Dunia’ ulasnya, kembali diupayakan terwujud walau sempat terhenti, namun pondasi itu juga telah mulai dibangun. Dengan mulai mengarahkan semua kegiatan ke Lembah Harau dan menjadikannya ikon utama Kabupaten Limapuluh Kota. Jika itu tercapai, maka akan menyusul pembangunan infrastruktur lain, seperti Pembangunan Bandara, Hotel dan infrastruktur pendukung lainnya.